Utama Blog Halaman 282

Diskusi Tafsir – Surah AlBaqarah

0

Diskusi 12 (Surah AlBaqarah Ayat 8 – 10)

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian, pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.Surah Al-Baqarah (2:8)

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
Surah Al-Baqarah (2:9)

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
Surah Al-Baqarah (2:10)

Nifaq i’tiqadi vs Nifaq amali?

Pertanyaan : Orang yang maksiat tapi tidak syirik adakah masih tergolong orang beriman?

Nifaq atau munafik ialah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan kejahatan. Sifat munafik itu bermacam-macam, ada yang berkaitan dengan akidah; jenis ini menyebabkan pelakunya kelak di dalam neraka. Ada yang berkaitan dengan perbuatan, jenis ini merupakan salah satu dari dosa besar, perinciannya akan disebutkan pada bab tersendiri, in sya Allah.
Menurut Ibnu Juraij, orang munafik ialah orang yang ucapannya bertentangan dengan perbuatannya, keadaan batinnya bertentangan dengan sikap lahiriahnya, apa yang didalamnya bertentangan dengan di bahagian luarannya, dan penampilannya bertentangan dengan kepribadiannya.

Sesungguhnya sifat orang munafik diterangkan di dalam surat-surat Madaniyah, karena di Mekah tidak ada sifat munafik, bahkan kebalikannya. Di antara orang-orang dalam periode Mekah ada yang menampakkan kekufuran karena terpaksa, padahal batinnya adalah orang mukmin tulen. Ketika Nabi Saw. hijrah ke Madinah, padanya telah ada kaum Ansar yang terdiri atas kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj. Dahulu di masa Jahiliah, mereka termasuk penyembah berhala sebagaimana kebiasaan kaum musyrik Arab. Di Madinah terdapat orang-orang Yahudi dari kalangan ahli kitab yang memeluk agama menurut nenek moyang mereka.

Orang-orang Yahudi Madinah terdiri atas tiga kabilah, yaitu Bani Qainuqa’ (teman sepakta kabilah Khazraj), Bani Nadir, dan Bani Quraizah (teman sepakta kabilah Aus).
Ketika Rasulullah Saw. tiba di Madinah dan orang-orang Ansar dari kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj telah masuk Islam, tetapi sedikit sekali dari kalangan orang-orang Yahudi yang masuk Islam, bahkan hanya satu orang, yaitu Abdullah ibnu Salam r.a. Pada saat itu (periode pertama Madinah) masih belum terdapat nifaq, mengingat kaum muslim masih belum mempunyai kekuatan yang berpengaruh, bahkan Nabi Saw. hidup rukun bersama orang-orang Yahudi dan kabilah-kabilah Arab yang berada di sekitar kota Madinah, hingga terjadi Perang Badar Besar, dan-Allah memenangkan kalimah-Nya dan memberikan kejayaan kepada Islam serta para pemeluknya.

Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul adalah seorang pemimpin di Madinah, berasal dari kabilah Khazraj. Dia adalah pemimpin kedua kabilah di masa Jahiliah, mereka bertekad akan menjadikannya sebagai raja mereka. Kemudian datanglah kebaikan (agama Islam) kepada mereka, dan mereka semua masuk Islam, menyibukkan dirinya dengan urusan Islam, sedangkan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul tetap pada pendiriannya seraya memperhatikan perkembangannya Islam dan para pemeluknya. Akan tetapi, ketika terjadi Perang Badar (dan kaum muslim beroleh kemenangan), dia berkata, “Ini merupakan suatu perkara yang benar-benar telah mengarah (kepada kekuasaan).” Akhirnya dia menampakkan lahiriahnya masuk Islam, dan sikapnya ini diikuti oleh orang-orang yang mendukungnya, juga oleh orang lain dari kalangan ahli kitab.
Sejak itulah muncul nifaq (kemunafikan) di kalangan sebagian penduduk Madinah dan orang-orang Badui yang berada di sekitar kota Madinah. Adapun kaum Muhajirin, tidak ada seorang munafik pun di kalangan mereka kerana tiada seorang pun yang berhijrah kerana dipaksa, bahkan setiap Muhajirin berhijrah meninggalkan harta benda dan anak-anaknya kerana mengharapkan pahala di sisi Allah kelak di hari kemudian.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8) Yang dimaksud adalah orang-orang munafik dari kalangan kabilah Aus dan kabilah Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka. Hal yang sama ditafsirkan oleh Abul Aliyah, Al-Hasan, Qatadah, dan As-Saddi, yaitu “mereka adalah orang-orang munafik dari kabilah Aus dan kabilah Khazraj”.

Melalui ayat ini Allah memperingatkan kaum mukmin agar jangan terpedaya oleh lahiriah sikap mereka, yaitu dengan menerangkan sifat-sifat dan ciri khas orang-orang munafik, karena hal tersebut akan mengakibatkan timbulnya kerosakan yang luas sebagai akibat tidak bersikap waspada terhadap mereka; dan sebagai akibat meyakini keimanan mereka, padahal kenyataannya mereka adalah orang-orang kafir. 

Hal ini merupakan larangan besar, yaitu menduga baik pada orang-orang yang ahli dalam kemaksiatan. Untuk itulah Allah Swt. berfirman: Di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8)

Dengan kata lain, mereka katakan hal tersebut hanya dengan lisannya saja, padahal di sebalik itu tiada satu iman pun yang terdapat di hati mereka, sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

إِذا جاءَكَ الْمُنافِقُونَ قالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya. (Al-Munafiqun: 1)

Dengan kata lain, sesungguhnya mereka mengatakan demikian bila datang kepadamu saja, padahal kenyataannya tidak demikian. Karena itu, mereka mengukuhkan kesaksiannya dengan inna dan lam taukid pada khabar-nya. Mereka mengukuhkan perkataannya pula, seperti dalam firman-Nya, “Mereka mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian’,” padahal kenyataannya tidaklah demikian. Allah mendustakan kesaksian dan kalimat berita mereka, yang hal ini berkaitan dengan akidah mereka, iaitu melalui firman-Nya:

وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنافِقِينَ لَكاذِبُونَ

Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. (Al-Munafiqun: 1)

{وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ}

padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8)

(فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضاً وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ)

(البقرة:10)

“ Didalam hati mereka [orang-orang munafik] ada penyakit maka Alloh tambahkan penyakit ke dalam hati mereka dan bagi mereka ada adzab yang pedih disebabkan kedustaan mereka”

Apa yang dimaksud dengan “penyakit” dalam ayat  في قلوبهم مرض [di dalam hati mereka terdapat penyakit] ?

Para ulama’ berbeza pendapat ketika menafsirkan ayat ini. Di antara pendapat ulama’ tentang maksud “penyakit” dalam ayat di atas adalah :

1. syak [keraguan]
2. riya’
3. kemunafikan.

Diantara ulama’ yang berpendapat bahwa maksud penyakit dalam ayat di atas syak [keraguan] adalah Ibnu Abbas –rodiyallohu ‘anhu –, Mujahid, Ikrimah, Hasan Al Bashri, Abul Aliyah, Ar Rabi’ bin Anas dan Qotadah –rohimahumulloh-.

Ulama’ yang berpendapat bahwa maksud dari penyakit di dalam atas ayat riya’ adalah Ikrimah dan Thawus –rohimahumalloh-.

Sedangkan ulama’ yang berpendapat bahawa maksud penyakit dalam ayat di atas nifaq adalah riwayat dari Ibnu Abbas –rodiyallohu ‘anhu –dan Ibnu Abi Hatim –rohamahulloh-. [lihat tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini]

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam –rohimahulloh- berkata :

{ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ } [di dalam hati mereka ada penyakit]

Ini adalah penyakit dalam agama dan bukanlah [maksud penyakit dalam ayat ini] adalah penyakit jasad. Mereka itu adalah orang-orang munafik. “Penyakit” adalah keraguan yang mereka masukkan ke dalam Islam.

{ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا } [maka Alloh tambahkan penyakit ke dalam hati mereka] , Beliau berkata : Allah tambahkan rijsan [kekafiran] Kemudian beliau membaca

: { فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ * وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ } [التوبة: 124، 125]

“Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.” [At Taubah 124-1

Beliau berkata : [ditambahkan] keburukan pada keburukan mereka dan [ditambahkan] kesesatan pada kesesatan mereka.

Al Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- ketika mengulas perkataan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam –rohimahulloh- berkata :

وهذا الذي قاله عبد الرحمن، رحمه الله، حسن، وهو الجزاء من جنس العمل، وكذلك قاله الأولون، وهو نظير قوله تعالى أيضًا: { وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ } [محمد: 17].

“Apa yang dikatakan oleh Abdurrahman –rohimahulloh-benar. Kerana balasan itu tergantung dengan amalan [seseorang]. Demikian juga apa yang telah dikatakan oleh para ulama’ terdahulu. Ini mirip juga dengan firman Allah ta’ala:

{ وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ } [محمد: 17].

“Dan orang-orang yang telah mendapat petunjuk,  Allah tambahkan petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya.” [Muhammad : 17]

Dalam tafsir jalalain disebutkan :

“فِي قُلُوبهمْ مَرَض” شَكّ وَنِفَاق فَهُوَ يُمْرِض قُلُوبهمْ أَيْ يُضْعِفهَا “فَزَادَهُمْ اللَّه مَرَضًا” بِمَا أَنْزَلَهُ مِنْ الْقُرْآن لِكُفْرِهِمْ بِهِ “وَلَهُمْ عَذَاب أَلِيم” مُؤْلِم “بِمَا كَانُوا يُكَذِّبُونَ” بِالتَّشْدِيدِ أَيْ : نَبِيّ اللَّه وَبِالتَّخْفِيفِ أَيْ قَوْلهمْ آمَنَّا

“[didalam hati mereka terdapat penyakit] berupa keraguan dan nifaq.  Membuat sakit hati-hati mereka yaitu melemahkan hati. [maka Alloh tambahkan penyakit ke dalam hati mereka] disebabkan  mereka kufur terhadap Al Qur’an  yang telah Alloh turunkan. [Dan bagi mereka adzab yang pedih] yaitu menyakitkan. [disebabkan karena mereka mendustakan] dengan mentasydid ba’ : nabi Alloh sedangkan jika di takhfif (tidak tasydid) : [mereka berdusta atas] perkataan mereka bahwa kami telah beriman.”

Hadits 22: Menyayangi haiwan

0

#SilsilahShahihah:

Hindarilah kalian daripada menjadikan belakang haiwan kalian sebagai minbar. Sesungguhnya Allah Ta`ala telah menaklukkannya untuk kalian, supaya kalian boleh sampai ke negeri yang tidak mampu kalian sampai melainkan dengan kesulitan. Allah juga menjadikan bumi untuk kalian, maka hendaklah kalian penuhi keperluan kalian di atas bumi.

إياكم أن تتخذوا ظهور دوابكم منابر، فإن الله تعالى إنما سخرها لكم لتبلغكم إلى بلد لم تكونوا بالغيه إلا بشق الأنفس، وجعل لكم الأرض فعليها فاقضوا حاجاتكم

Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2567, Al-Baihaqi.

Ulasan:

1. Jangan jadikan haiwan tunggangan sebagai minbar, maksudnya apabila kita ada suatu keperluan (contohnya untuk berucap atau untuk berjual beli), jangan lakukannya ketika kita masih berada di atas haiwan tunggangan. Kita hendaklah turun ke tanah untuk melakukan keperluan tersebut. Setelah selesai berucap atau berjual beli, dan ingin berpindah ke tempat lain, barulah kita tunggang kembali haiwan tersebut.

Banyaknya Persaksian Palsu: Tanda Kiamat Ke-26

0

Tanda Kiamat Ke-26/131
Banyaknya Persaksian Palsu (شَهَادَةُ الزُّوْرِ)

Dalil:

إنَّ بين يديِ الساعةِ تسليمَ الخاصةِ و فشوَ التجارةِ حتى تُعينَ المرأةُ زوجَها على التجارةِ _ و قطعَ الأرحامِ و شهادةَ الزُّورِ وكتمانَ شهادةِ الحقِّ ”’
الراوي : عبدالله بن مسعود المحدث : الألباني
المصدر : السلسلة الصحيحة الصفحة أو الرقم: 647 خلاصة حكم المحدث : إسناده صحيح على شرط مسلم

Terjemahan: “Sesungguhnya menjelang kiamat akan ada ucapan salam khusus dan perdagangan tersebar luas sehingga seorang wanita ikut serta dengan suaminya dalam perdagangan, putusnya silaturrahim dan persaksian palsu dan menyembunyikan persaksian yg benar.” HR Ahmad, sahih menurut albani dan hasan menurut syaikh syu’aib al-arnaouth.

Syarah:
Syahadan az-Zurr ialah adalah kebohongan yang disengaja dalam persaksian. Maka, persaksian palsu sebagai sebab pembatalan kebenaran, demikian pula menyembunyikan persaksian.
Ia termasuk dosa besar atau al-Kabair, dalilnya:

Dari Abu Bakrah atau Nafi’ bin al-Harith ra, dia berkata, “Dahulu kami bersama Rasulullah SAW, beliau bersabda:

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَـرِ الْكَبَائِرِ (ثَلاَثًا)؟ اَلإِشْرَاكُ بِاللهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ -أَوْ قَوْلُ الزُّوْرِ-، وَكَـانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ، فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ.

‘Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa besar yang paling besar?’ (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali), ‘Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, persaksian palsu.’” Ketika itu beliau bersandar, lalu duduk, senantiasa beliau mengulang-ulangnya hingga kami berkata (dalam hati), “Andaikata beliau diam. HR Bukhari, no5976 dan Muslim

Syarah 26/131
Persaksian palsu digandingkan tiga serangkai dengan syirik, derhaka kepada ibubapa menunjukkan ia tempat muncul kezaliman dan menafikan hak orang lain. Persaksian palsu bukan sahaja di dalam proses mahkamah, juga merata, di penjawat awam, IPTA banyak kes plagiat dan penipuan sijil-sijil, malah persaksian sesama keluarga.

Inilah amaran Nabi saw:

صحيح البخاري ٦١٨٣: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينِ صَبْرٍ يَقْتَطِعُ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَصْدِيقَ ذَلِكَ { إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ –

Dari Abdullah bin Mas’ud ra menuturkan; Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa bersumpah mengada-ada di depan hakim, dengan tujuan untuk memperoleh harta seorang muslim, maka ia berjumpa dengan Allah dan Allah murka kepadanya, ” kemudian Allah menurunkan ayat yang membenarkan hal ini dengan ayat; ‘Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah mereka dengan harga yang sedikit’ (QS. Ali’imran 77) hingga akhir ayat.

Sahih Bukhari no6183

Hadis Kelebihan Bersabar Dengan Penderitaan : Hadis 43

0

Bab Sabar, Kitab Riyadhus Solihin.
Hadis 43.

 43- وعن أنس رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏‏”‏إذا أراد الله بعبده خيراً عجل له العقوبة في الدنيا، وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة‏”‏‏.‏

وقال النبي صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏”‏إن عظم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله تعالى إذا أحب قوماً ابتلاهم، فمن رضي فله الرضى، ومن سخط فله السخط‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه الترمذي وقال ‏:‏ حديث حسن‏)‏‏)‏‏.‏

43. Dari Anas r.a., berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau Allah menghendaki kebaikan pada seseorang hambaNya, maka ia mempercepatkan suatu siksaan – penderitaan – sewaktu dunia, tetapi jikalau Allah menghendaki keburukan pada seseorang  hambaNya,  maka  orang  itu  dibiarkan  sajalah  dengan dosanya, sehingga nanti akan dipenuhkan balasan – siksaannya – hari kiamat.”

Dan Nabi s.a.w. bersabda – juga riwayat Anas r.a.: “Sesungguhnya besarnya balasan – pahala – itu menilik besarnya bala’ yang menimpa dan sesungguhnya Allah itu apabila mencintai sesuatu kaum, maka mereka itu diberi cubaan. Oleh sebab itu barangsiapa yang rela – menerima bala’ tadi, ia akan memperolehi keredhaan dari Allah dan barangsiapa yang marah-marah  maka ia memperolehi kemurkaan Allah pula.”

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini Hadis hasan.

Hadits 21: Menyayangi haiwan dan jangan melampaui batas Islam

0

#SilsilahShahihah:

Hadits 21: Menyayangi haiwan

Tunggangilah binatang ini dengan selamat, dan lepaskanlah ia dengan selamat. Jangan jadikannya sebagai kerusi.

اركبوا هذه الدواب سالمة و ايتدعوها سالمة و لا تتخذوها كراسي

Diriwayatkan oleh Ibn Hibban no. 2002, Al-Hakim (1/444, 2/100), Al-Baihaqi (5/225), Ahmad (3/446, 4/234).

Ulasan:

1. Dibolehkan untuk menunggangi binatang sekadar keperluan.

2. Jangan jadikan sebagai kerusi bermaksud jangan duduk berehat di atas belakang binatang untuk jangka masa lama, seolah-olah menjadikannya sebagai kerusi. Ini akan membebani binatang tersebut.

Izzudin Bin Abd Salam dan Bidaah: Satu Pencerahan

0

Bagaimana ustaz… Bilal r.a solat sunat wuduk…ada kah perbuatan Bilal r.a di panggil bidaah…atau ada sandaran yang Nabi saw buat solat sunat wuduk…Maulana Asri pernah bincangkan ana lupa….

Ustaz Abu Daniel:
Perbuatan Bilal r.a adalah diiktiraf oleh baginda s.a.w, maka ianya bukan bid’ah. Didalam pengajian usul hadis ianya dinamakan hadis taqriri, perbuatan bilal mendapat pengiktirafan syara’. Maka mana-mana perbuatan sahabat yang diiktiraf Baginda s.a.w tidak dinamakan bid’ah pada syara’.

Ada pun berkenaan dengan amalan-amalan para sahabat yang lain, juga tidak dikatakan bid’ah kerana telah termasuk didalam sabdaan nabi s.a.w tentang iqtida’ mereka (ikut para sahabat) ..perkara ini jelas disebut oleh baginda s.a.w, dan apa yang penting, tiada pun dikalangan sahabat yang mereka-cipta amalan ibadah baharu.. alhamdulillah.

Insyaallah dalam waktu terdekat ana kongsikan hadis-hadis berkaitan bid’ah secara terperinci, dan perbahasan yang detail.. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda:

اما بعد فان خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم, وشر الامور محدثاتها وكل بدعة ضلالة..

Ada pon selepas demikian, maka sesungguhnya sebaik-baik hadis (perkataan) adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad s.a.w, dan seburuk-buruk perkara adalah mengada-adakan perkara baru (dalam agama) dan setiap bid’ah adalah sesat..

Hadis Rasulullah

Didalam hadis ini amat jelas menyebut “setiap perkara baru dalam agama” sebagai seburuk-buruk amalan, dan selepas itu baginda s.a.w menyebut “setiap bid’ah itu sesat” bermakna setiap benda baru dalam agama adalah bid’ah yang tercela, dikuatkan lagi oleh perkataan sahabat Umar r.a

الا وان كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار..

Ketahuilah bahawa setiap perkara baru dalam agama itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu adalah didalam neraka..

Rujukan:

اللمع في الرد على محسني البدع ، عبد القيوم بن محمد بن ناصر السحيباني ، مكتبة الخضيري ، المدينة النبوية ، ط 1 ، 1416 هـ ، 60 صفحة .

Boleh download melalui pautan:

http://www.archive.org/download/yreac/yreac.pdf

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=275744

Persoalan tentang makna bid’ah hasanah disisi imam nawawi,..

Imam nawawi dalam bab pembahagian bid’ah dia menaqalkan kalam Izzuddin bin Abd Salam, kerana Izzuddinlah orang yang mula-mula membahagikan bid’ah kepada 5 jenis, namun begitu, tiada satu pon bid’ah hasanah yang dimaksudkan mereka berdua itu merujuk kepada ain ibadah. Sebagai bukti, mereka berdua dengan keras menghukum para pelaku solat roghoib sebagai ahli bid’ah.

Oleh kerana itu kena lihat, apakah contoh yang Izzuddin bin Abd Salam berikan dibawah tajuk bid’ah hasanah.

Contoh bid’ah hasanah oleh Izzuddin bin Abd Salam ;
Membina pusat-pusat pengajian.

Kerana sebelum itu tiada pusat pengajian agama seumpama pondok-pondok dan madrasah-madrasah.

Jadi bid’ah hasanah yang dimaksudkan oleh beliau adalah bid’ah yang jenis lughowi, bukan syar’i. Sumber kitab alluma’

Contoh bid’ah yang wajib yang diutarakan oleh Izzuddin ialah mempelajari ilmu nahwu bagi yang hendak menafsirkan kalamullah dan syarah sunnah nabawiyyah.. kerana sebelum itu tiada dalam uslam mempelajari ilmu nahwu. Yang pada hakikatnya mempelajari ilmu nahwu adalah dari

ما لا يتم الواجب الا به فهو واجب

Dia bukannya ain ibadah. Oleh kerana Izzudin bin Abd Salam diantara ulamak yang tegas didalam memerangi bid’ah, maka kita kena faham maksudnya tentang bid’ah hasanah, adakah bid’ah hasanah yang dimaksudkanya itu menyamai dengan bid’ah hasanah yang difahami pada zaman kita sekarang ini?.. sebagai contoh, solat roghoib diantara yang dianggap oleh sebahagian manusia akhir ini sebagai bid’ah hasanah, namun disisi beliau ianya bid’ah yang dicela, oleh itu jelas bahawa jenerasi akhir ini keliru dengan maksud Izzudin bin Abd Salam.

Maka diatas dasar inilah Imam Syatibi mengkritik Izzudin bin Abd Salam kerana telah membahagikan bid’ah kepada 5 jenis, kerana beliau bimbang umat islam akan keliru, dan (sememangnya) berlaku sungguh apa yang dibimbangi oleh Imam Syatibi. Ada benarnya Imam Syatibi mengkritik Izzudin bin Abd Salam, kerana beliau bimbang kekeliruan yang bakal berlaku.

Lihat akhir kalam Ibn Hajar, beliau menyatakan bid’ah lughowi dan syar’i. Menepati kalam hafiz Ibn Kathir, Ibn Rajab al Hanbali. Apa yang sabit didalam hadis baginda s.a.w ialah :

1- Arahan supaya ittiba’ -ikut sahaja ajaran baginda s.a.w
2- Amaran serta ancaman supaya meninggalkan ibtida'(melakukan bid’ah).

Tidak terdapat pun pada mana-mana riwayat yang menyatakan bahawa baginda s.a.w memberi dorongan atau galakan melakukan bid’ah didalam agama.. kerana jika begitu, maka berlaku pertembungan didalam ucapan baginda s.a.w.. dan ini semua menepati wahyu quran yang diturunkan kepada Baginda s.a.w. Izzudin bin Abd Salam hanya menghukum bid’ah harus pada bersalam selepas asar dan selepas subuh sahaja.

Itu pun mesti bersyarat, tidak dianggap ianya amalan yang sabit, kerana nabi, para sahabat dan salafussoleh tidak melakukan demikian, jika percaya ianya sabit maka haram hukumnya.
Sekarang ini jika tidak bersalaman, sudah pasti akan dicela, akan dituduh dengan berbagai tuduhan, maka tidak lagi menepati garis panduan. Bersalam ketika bertemu hukumnya sunnah, sepatutnya apa yang dilakukan jemaah kita hari ini, kena bersalaman sebelum solat diwaktu mula-mula bertemu. Mafhum kalam ana, masyarakat telah menganggap bersalam selepas solat adalah sunnah. Perkara ini ana dengar sendiri sewaktu menjadi Imam di bumi Sg. Buloh.

Setelah mendengar para jemaah berkata demikian, terus ana tidak bersalam, menyebabkan kecoh satu kampung. Kata mereka, ini tradisi kita turun temurun, sunnah nabi dan lain-lain.

Namun jika menganggap satu kemestian, maka ianya bid’ah. Ana secara peribadi sudah melakukan itu, natijahnya majoriti menganggap ianya anjuran baginda s.a.w, alasan mereka kerana nabi menganjurkan bersalam bila bertemu. Bila tiada zaman nabi dan zaman sahabat, ianya bukan sunnah.

Sebelum zikir tiada zikirnya, zikir berbual memang banyaknya. Biasa belajar kitab hadis? Tahukah betapa banyaknya zikir selepas solat yang sabit?. Maka jika sibuk dengan bersalam itik, maka akan mengganggu orang lain yang ingin menghabiskan zikir.

Soalan: Kiranya memang zaman nabi atau sahabat atau tabiin memang tidak bersalaman lepas solat berjemaah?

Ustaz Abu Daniel: Yer, tidak pernah berlaku dizaman salafussoleh.

Soalan: Maaf saya orang jahil. Bukankah kalau tak silap ada hadis diampunkan dosa orang yang bersalam sebelum berpisah… Ingat ingat lupa dah…

Ustaz Abu Daniel: Hadis tersebut ada dan bersifat umum, tidak boleh dijadikan hujjah untuk masaalah yang khusus iaitu bersalam selepas solat.

Soalan: “Maka jika sibuk dengan bersalam itik, maka akan mengganggu orang lain yang ingin menghabiskan zikir” maksudnya adakah menganggu ?

Ustaz Abu Daniel: Tuan, tradisi bersalam itik akan menuntut setiap orang supaya berdiri untuk bersalaman, dan jika tidak bangun untuk bersalaman, pasti akan dipandang serong. Ana nak jelaskan, bagi yang mengatakan tidak ada kutukan atau celaan kepada yang taknak bersalam, boleh dikatakan suatu pembohongan, kerana rata-rata bila tak nak bersalam, tuduhan utamanya adalah tidak mahu mengeratkan silaturrahim.

Salam waktu masuk masjid bukan kerana “sunah salam masuk masjid”, tapi menepati hadis kerana “mula-mula bertemu”. Kalau solat di masjid yang jemaahnya ramai, nak habiskan salam itik, masya Allah! mengambil masa 5 minit lebih kurang. Itu sanggup mereka buat tapi solat sunnat ba’diah??. Sunnah yang sabit diabaikan.

Tentang wirid selepas solat pula, hukum asalnya adalah diam, tidak digalakkan membacanya dengan kuat, “kecuali untuk mengajar makmum” dengan ‘illah ini hukum menjadi “harus” sahaja..

Tapi hari ini, majoriti imam-imam masjid merasakan sunnahnya membaca wirid dengan kuat, sehingga perbuatanya itu mengganggu makmum yang masbuq, lebih-lebih lagi yang menggunakan mic.

Bukan menggalakkan membuat khusus salam mula-mula masuk masjid. Kena faham, itu pun jadi bid’ah. Yang dimaksudkan ialah mula-mula jemaah masuk masjid itulah biasanya mula-mula pertemuan, dan bukan dengan cara beratur seperti salam itik.

Bertemu mcm biasa, jangan pula dibuat saf seperti salam itik. Selalu diperhatikan, ahli jemaah masuk masjid, sempat bersembang-sembang tapi tidak pun bersalaman.. kadang-kadang hampir 10 minit berbual, ini menyedihkan, bila sunnah sebenar tidak dihayati, tapi yang bukan sunnah dipuja-puja.

Kenapa sunnah yang asal “berwirid perlahan” tidak diutamakan, sedangkan itulah amalan jenerasi kurun-kurun jaminan. Majoriti tempat jika tidak bersalaman akan dikatakan tidak mahu mengeratkan silaturrahim dan berbagai-bagai lagi.

Bab Zikir

Kalau niat untuk ajar makmum sememangnya dibenarkan. Namun di Malaysia waqi’ yang berlaku bukan begitu.

Senang sahaja, talaqqi kitab as-sunnah. Dalam sunan sittah sahaja, hadis tentang wirid selepas solat, jika diamalkan semuanya 1/2 jam tak selesai lagi. Sebenarnya yang tak pandai wirid adalah kerana tiada minat dengan pengajian. Jika kaki talaqqi insya allah confirm pandai wirid.
Bukalah dalam sunan tirmizi, dalam bukhari, semuanya ada.. nak senang lagi kitab azkar an nawawi

Penyokong bukanlah keutamaan didalam perbahasan, bahkan hujjah dan dalil yang diutamakan. Jika perlawanan seumpama bola sepak yer, ianya berhajat kepada penyokong untuk memberi semangat.

Nabi s.a.w berdepan dengan golongan jahiliyyah bermula dengan seorang diri sahaja.. tapi bersama baginda hujjah-hujjah yang mantap, menyebabkan pihak jahiliyyah kematian hujjah untuk berdepan dengan baginda s.a.w, lalu mereka mula melemparkan berbagai-bagai tuduhan kepada baginda s.a.w seperti gila, tukang syair, tukang sihir, dan yang murtad.

Sabarlah dengan ketentuan Allah dan Rasul

0

Hadith 42
Sabar dengan ketentuan Allah dan Rasul

 42- وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال ‏:‏ لما كان يوم حنين آثر رسول الله صلى الله عليه وسلم ناساً في القسمة، فأعطى الأقرع بن حابس مائة من الإبل، وأعطى عيينة بن حصن مثل ذلك، وأعطى ناساً من أشراف العرب وآثرهم يومئذ في القسمة‏.‏ فقال رجل‏:‏ والله إن هذه قسمة ما عدل فيها، وما أريد فيها وجه الله، فقلت ‏:‏ والله لأخبرن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فأتيته فأخبرته بما قال‏:‏ فتغير وجههه حتى كان كالصرف ‏.‏ ثم قال ‏”‏ فمن يعدل إذا لم يعدل الله ورسوله‏؟‏ ثم قال‏:‏ يرحم الله موسى قد أوذي بأكثر من هذا فصبر‏”‏‏.‏ فقلت‏:‏ لا جرم لا أرفع إليه بعدها حديثاً‏.‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏وقوله ‏ ‏ كالصرف‏ ‏ هو بكسر الصاد المهملة ‏:‏ وهو صبغ أحمر ‏ ‏.‏

42. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Ketika hari peperangan Hunain, Rasulullah s.a.w. melebihkan – mengutamakan – beberapa orang dalam pemberian pembahagian – harta rampasan, lalu memberikan kepada al-Aqra’ bin Habis seratus ekor unta dan memberikan kepada ‘Uyainah bin Hishn seperti itu pula – seratus ekor unta, juga memberikan kepada orang-orang yang termasuk bangsawan Arab dan mengutamakan dalam cara pembahagian kepada mereka tadi. Kemudian ada seorang lelaki berkata: “Demi Allah, pembahagian secara ini, sama sekali tidak ada keadilannya dan agaknya tidak dikehendaki untuk mencari keredhaan Allah.” Saya lalu berkata: “Demi Allah, hal ini akan saya beritahukan kepada Rasulullah s.a.w.” Saya pun mendatanginya terus memberitahukan kepadanya tentang apa-apa yang dikatakan oleh orang itu. Maka berubahlah warna wajah beliau sehingga menjadi semacam sumba merah – merah padam kerana marah – lalu bersabda:

“Siapakah yang dapat dinamakan adil, jikalau Allah dan RasulNya dianggap tidak adil juga.” Selanjutnya beliau bersabda: “Allah merahmati Nabi Musa.  Ia telah disakiti dengan cara yang lebih sangat dari ini, tetapi ia tetap sabar.” Saya sendiri berkata: “Ah, semestinya saya tidak memberitahukan dan saya tidak akan mengadukan lagi sesuatu pembicaraanpun setelah peristiwa itu kepada beliau lagi.”   (Muttafaq ‘alaih)

Sabda Nabi s.a.w. Kashshirfi dengan kasrahnya shad muhmalah, ertinya sumba merah.

Peristiwa kelima  ialah mengagihkan ghanimah hasil dari kemenangan dalam peperangan Hunain. Jumlah rampasan ialah 3,000 (6,000) tentera musuh,  24,000 ekor unta, 46,000 (40,000 biri-biri) dan 4,000 kilogram perak. Hinggakan Nabi saw disebut sebagai tokoh Quraisy yang paling banyak hartanya (Ghadhban 3, hal. 202). Walau bagaimanapun semuanya dibahagikan kepada kaum Muslimin yang berasal dari Makkah, terutamanya kumpulan yang baru menganut Islam. Antaranya Abu Sufyan sebanyak 40 kilogram perak dan 100 ekor (ada riwayat mengatakan 200)  unta, begitu juga anaknya Yazid dan Mu`awiyyah masing-masing mendapat ganjaran yang serupa. Sehingga Abu Sufyan berkata, ‘Demi ayah dan bundaku, Anda benar-benar sangat dermawan, ya Rasulullah. Saya perangi Anda selama 20 tahun dan ternyata Anda seorang musuh yang bijaksana. Lalu saya berdamai, dan saya dapati Anda sebagai seorang manusia paling mulia. Allah akan memberi Anda pahala..’. (Ghadhban, hal. 202).

Syuabul Iman: Cabang Ke-8

0

Baik kita sambung cabang ke 8.

Yakni beriman dengan akan dibangkitkan manusia dialam kubur dan dikumpulkan di Mahsyar..

Ianya cabang yang dibahaskan agak panjang dalam AQ dan Hadith. Yakni keadaan selepas dibangkitkan manusia dari alam transit (kubur). Keadaan semua manusia akan dikumpulkan, baik Nabi-Nabi, yang Islam, yang fasiq, yang kafir, yang nifak (dan lain-lain).

Semua akan dibangkitkan dan dikumpulkan dalam keadaan telanjang, menunggu untuk di hisab. Keadaan di kumpulkan ada yang di naungi arash, ada yang di tenggelami peluh. Pelbagai keadaan di Mahsyar berdasar amalan kita di dunia.

Allahu akhbar.

Suatu masa pernah Rasulalallah saw cerita kat Aisyah ra. , Aisyah tanya telanjang tak malu ka? . Mafhum kata-kata Nabi saw, tak sempat nak fikir dah pasal malu, masing masing bimbang dengan keadaan masing masing.

Semua dah tunggu lama ni dah tak tahan dah tunggu, nampak nabi-nabi yang duduk di tempat khas. Rayu kat nabi Adam, minta Allah mulakan hisab.

Adam as suruh tanya Nuh as.

Nuh suruh tanya Nabi İbrahim as.

Nabi İbrahim suruh tanya Nabi Musa as.

Nabi Musa suruh tanya nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw sujud lama pada Allah swt mohon syafaat. Barulah Allah swt kata boleh mula Hisab, banyak la dari orang yang masuk syurga tanpa hisab.

Orang yang terima kitab dengan tangan kanan. Orang yang terima hisab dengan tangan kiri dan dari belakang.

Nak bagi tahulah dekat kita. Dahsyat nya Mahsyar ni nanti, sedialah kita dengan amal di dunia. Maka kita kena dengar lagi dan lagi cerita cerita dan perkhabaran mahsyar dari AQ dan Hadis hadis sahih.

Kemudian taat dengan maksud tasdiqkan dalam hati akan kebenaran perkhabaran ini. Kemudian kita kena taqrirkan dan sampaikan, sepertimana Rasulallah saw disamping Aisyah ra di rumah cerita hal hal mahsyar.

Kemudian apakah amal amalnya, maka hendaklah kita beramal soleh dengan amalan yang dijanjikan kemudahan di yaumul mahsyar.

Ada beberapa golongan yang dikhabarkan akan masuk syurga tanpa hisab, maka kita dapatkan ciri-ciri golongan ini dengan tadabbur AQ dan mendengar bacaan hadis-hadis. Kejar ganjaran ini dengan amal soleh yang dikhabarkan, begitu juga orang yang di beri kitab dengan sebelah kanan, maka tadabbur AQ dan dengar hadis hadis mengenai perkhabaran ini dan kejar ganjaran seperti yang dikhabarkan dengan amal soleh.

Ya Allah fahamkanlah kami akan cabang-cabang İman ini.

Dorongilah kami dengan amal amal untuk kami dapat ganjaran dari janji janjimu yang Sahih.

Sesungguhnya kami yakin Engkau tidak memungkiri janji Mu Ya Allah.

“Telah menceritakan kepada kami ‘Imran bin Maisarah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, telah menceritakan kepada kami Hushain, -lewat jalur periwayatan lain, – Abu Abdullah mengatakan; dan telah menceritakan kepadaku Asid bin Zaid, telah menceritakan kepada kami Husyaim, dari Hushain, mengatakan, pernah aku di sisi Sa’id bin Jubair, selanjutnya ia katakan, Ibnu ‘Abbas, telah menceritakan kepadaku dengan mengatakan,

Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “”Beberapa umat diperlihatkan kepadaku, maka aku melihat ada seorang Nabi lewat bersama umatnya, kemudian lewatlah seorang Nabi bersama beberapa orang, kemudian lewatlah seorang Nabi bersama sepuluh orang, dan Nabi bersama lima orang, dan seorang Nabi yang berjalan sendirian. Tiba-tiba aku melihat ada rombongan besar, maka saya tanyakan kepada Jibril; ‘Apakah mereka umatku? ‘ ‘bukan, namun lihatlah ufuk, ‘ jawab Jibril. Aku melihat, tiba-tiba ada serombongan besar. Kata Jibril; ‘Itulah umatmu, dan itu ada tujuh puluh ribu orang mula-mula yang masuk surga dengan tanpa hisab dan tanpa siksa.’ Saya bertanya; ‘Mengapa mereka bisa seperti itu? ‘ Jibril menjawab; ‘Karena mereka tidak minta di obati (dengan cara) kay (ditempel besi panas), tidak minta diruqyah dan tidak meramal nasib dengan burung, dan kepada rabb-Nya mereka bertawakkal.”” ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri seraya berujar; “”doakanlah aku, agar Allah menjadikan diriku diantara mereka!”” Nabi berdoa; “”Ya Allah, jadikanlah dia supaya diantara mereka!”” Lantas laki-laki lainnya berdiri dan berujar; “”Jadikanlah aku diantara mereka!”” Nabi menjawab; “”kamu sudah didahului ‘Ukkasyah.”””

Hadis Riwayat Al Bukhari dalam Sahihnya..
Syarah tanya Ustaz Solah

Ada 4 amal yang disebut dalam hadis tersebut, diganjarkan syurga tanpa dihisap.

1. Seorang yang luka parah akibat jihad, dia tak syahid tetapi parah. Jika dia menahan penderitaan luka parah dia dengan tidak dimatikan atau di keringkan luka dengan cara cepat, yakni di tempelkan besi panas (sepuh). Samaada luka sembuh dengan ketahanan sistem badan atau rawatan biasa bagi luka.

Kedua seorang yang membaca ruqyah bagi dirinya sendiri, bagi yang dibaca oleh orang lain boleh jadi dia akan syirik dengan percaya si fulan yang baca tersebut yang bagi sembuh.

Ketiga seorang yang tidak menilik nasib dan keempat yang bertawakkal..

Itu khulasah (kesimpulan) hadis ni.. sharah panjang boleh tanya Ustaz yang ngaji Kutubustittah..

Hadits 20: Menyayangi haiwan peliharaan dan yang kelaparan

0

#SilsilahShahihah: Hadits 20: Menyayangi haiwan

Adakah engkau tidak takut kepada Allah tentang binatang ini yang telah diberikan oleh Allah kepadamu? Dia mengadu kepadaku bahawa engkau telah membiarkannya lapar, dan membebaninya dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

أفلا تتَّقي اللهَ في هذه البهيمةِ الَّتي ملَّكك اللهُ إيَّاها ؟ فإنَّه شكَا إليَّ أنَّك تُجيعُه وتُدْئِبُه

Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2549 dan inilah lafaznya, Muslim (secara ringkas) no. 342, Ibn Majah no. 340.

Manipulasi Pasaran Oleh Segelintir Peniaga : Tanda Kiamat Ke-25

0

Tanda Kiamat Ke-25/131
Manipulasi Pasaran Oleh Segelintir Peniaga (سيطرة بعض التجار على السوق )

Hadith dalil:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ أَنْبَأَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ يُونُسَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ عَمْرِو بْنِ تَغْلِبَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَفْشُوَ الْمَالُ وَيَكْثُرَ وَتَفْشُوَ التِّجَارَةُ وَيَظْهَرَ الْعِلْمُ وَيَبِيعَ الرَّجُلُ الْبَيْعَ فَيَقُولَ لَا حَتَّى أَسْتَأْمِرَ تَاجِرَ بَنِي فُلَانٍ وَيُلْتَمَسَ فِي الْحَيِّ الْعَظِيمِ الْكَاتِبُ فَلَا يُوجَدُ

Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin Ali, ia berkata; telah memberitakan kepada kami Wahb bin Jarir, ia berkata; telah menceritakan kepadaku ayahku dari Yunus dari Al Hasan dari ‘Amr bin Taghlib, ia berkata; Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya diantara tanda-tanda Hari Kiamat adalah semakin banyaknya harta dan menyebarnya perdagangan, munculnya pengetahuan, seseorang menjual barang dan berkata; jangan engkau jual hingga aku meminta pertimbangan penjual dari Bani Fulan dan dicari seorang penulis yang adal disuatu kampung yang besar namun tidak ditemukan.” HR an-Nasa’iy no 4380, sahih oleh al-Albani.

Syarah: Akhir zaman, dalam hadith ini

1⃣ Melimpahnya hartabenda, negara-negara yang dulunya miskin telah makmur, Arab Saudi sejak penemuan minyak pada 1932, telah merubah kehidupan rakyatnya dengan harta yang melimpah ruah. Begitu juga negara GCC.

2⃣ Berkembangnya business, semua negara telah keluar dari negara pertanian (agrarian) kepada negara manufaturing atau perkilangan dan seterusnya kepada negara K-economy. Dengan e-commerce dan e-business, busines telah berkembang begitu pesat.

3⃣ Munculnya ilmu (وَيَظْهَرَ الْعِلْمُ). Maksud ayat ni agak mengelirukan, menurut as-Sanadi dalam syarah sunan nasa’iy ada beberapa versi tafsiran. Dalam manuskrip nasaiy yang lain ditulis ( وَيَظْهَرُ الْجَهْل) munculnya kejahilan. menjamak dua matan ini, sanadi berkata, bermaksud hilangnya ilmu.
Yang kedua maksudnya munculnya ilmu baru keduniaan, dalilnya:
“Mereka hanya mengetahui perkara yang zahir nyata dari kehidupan dunia sahaja, dan mereka tidak pernah ingat hendak mengambil tahu tentang hari akhirat”. (Rum ayat 7), maksud lain ialah banyaknya percetakan (dan juga e-book)

4⃣ Seorang ingin menjual barang tapi sukar menemui penjual dan orang yang akan mengurus jualbeli.

Kata dr al-Arifi, maksud tanda kecil kiamat di sini ialah manipulasi pasaran oleh segelintir peniaga melalui penguasaan pasaran sehingga peniaga kecil tidak dapat masuk pasaran melainkan dengan berunding dengan mereka
yang kedua, peniaga juga menghadapi kesukaran kerana business akhir zaman adalah dalam bentuk e-commerce, e-banking, online system, e-payment dan ini menyukarkan peniaga kecil dan sederhana untuk bersaing. Tamat

Popular

Iklan

Iklan