Utama Bilik (04) Rahiqum Makhtum Perihal Isra’ Mi’raj

Perihal Isra’ Mi’raj

300
0

Perihal Isra’ Mi’raj

Hadis Riwayat Al-Bukhari

“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Anas bin Malik berkata, Abu Dzar, menceritakan bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Saat aku di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang Malaikat Jibril Alaihis Salam. Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya dengan menggunakan air zamzam. Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi hikmah dan iman, lalu dituangnya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Lalu dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia.

Tatkala aku sudah sampai di langit dunia, Jibril Alaihis Salam berkata kepada Malaikat penjaga langit, ‘Bukalah’. Malaikat penjaga langit berkata, ‘Siapa Ini? ‘ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril’. Malaikat penjaga langit bertanya lagi,’Apakah kamu bersama orang lain? ‘ Jibril menjawab, “Ya, bersamaku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Penjaga itu bertanya lagi, ‘Apakah dia diutus sebagai Rasul? ‘ Jibril menjawab, ‘Benar.’

Ketika dibuka dan kami sampai di langit dunia, ketika itu ada seseorang yang sedang duduk, di sebelah kanan orang itu ada sekelompok manusia begitu juga di sebelah kirinya. Apabila dia melihat kepada sekelompok orang yang di sebelah kanannya ia tertawa, dan bila melihat ke kirinya ia menangis.

Lalu orang itu berkata, ‘Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia? ‘ Jibril menjawab, “Dialah Adam Alaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah ruh-ruh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah kanannya adalah para ahli surga sedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahli neraka. Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang ke sebelah kirinya dia menangis.’

Kemudian aku dibawa menuju ke langit kedua, Jibril lalu berkata kepada penjaganya seperti terhadap penjaga langit pertama. Maka langit pun dibuka’.””

Anas berkata, “”Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa pada tingkatan langit-langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, ‘Isa dan Ibrahim semoga Allah memberi shalawat-Nya kepada mereka. Beliau tidak menceritakan kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahwa beliau bertemu Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.””

Anas melanjutkan, “”Ketika Jibril berjalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun berkata, ‘Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.’

Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia? ‘ Jibril menjawab, ‘Dialah Idris.’ Lalu aku berjalan melewati Musa, ia pun berkata, ‘Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.’

Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia? ‘ Jibril menjawab, ‘Dialah Musa.’

Kemudian aku berjalan melewati ‘Isa, dan ia pun berkata, ‘Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia? ‘

Jibril menjawab, ‘Dialah ‘Isa.’

Kemudian aku melewati Ibrahim dan ia pun berkata, ‘Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia? ‘ Jibril menjawab, ‘Dialah Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam.’

Ibnu Syihab berkata, Ibnu Hazm mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu ‘Abbas dan Abu Habbah Al Anshari keduanya berkata, “”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“”Kemudian aku dimi’rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapat mendengar suara pena yang menulis.””

Ibnu Hazm berkata, “”Anas bin Malik menyebutkan, “”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “”Kemudian Allah ‘azza wajalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, ‘Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? ‘ Aku jawab: ‘Shalat lima puluh kali.’ Lalu dia berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! ‘ Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya.

Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. Tapi ia berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.’ Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.’ Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup.’

Maka aku kembali menemui Allah Ta’ala, Allah lalu berfirman: ‘Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku! ‘ Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, ‘Kembalilah kepada Rabb-Mu! ‘ Aku katakan, ‘Aku malu kepada Rabb-ku.’

Jibril lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu. Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi.”””

Hadis Riwayat Anas bin Malik disebut Al Bukhari dalam sahihnya dengan sedikit perbezaan pada matan dengan hadis Abu Zar RA tadi

“Telah bercerita kepada kami Hudbah bin Khalid, telah bercerita kepada kami Hammam, dari Qatadah. Dan diriwayartkan pula, Khalifah berkata kepadaku, telah bercerita kepada kami Yazid bin Zurai’, telah bercerita kepada kami Sa’id, dan Hisyam, keduanya berkata telah bercerita kepada kami Qatadah, telah bercerita kepada kami Anas bin Malik, dari Malik bin Sha’sha’ah radliallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“”Ketika aku berada di sisi Baitullah antara tidur dan sadar””. Lalu Beliau menyebutkan, yaitu: “”Ada seorang laki-laki diantara dua laki-laki yang datang kepadaku membawa baskom terbuat dari emas yang dipenuhi dengan hikmah dan dan iman lalu orang itu membelah badanku dari atas dada hingga bawah perut, lalu dia mencuci perutku dengan air zamzam kemudian mengisinya dengan hikmah dan iman. Kemudian aku diberi seekor hewan tunggangan putih yang lebih kecil dari pada baghal namun lebih besar dibanding keledai bernama al-Buraq.

Maka aku berangkat bersama Jibril Alaihissalam, hingga sampai di langit dunia.

Lalu ditanyakan; “”Siapakah ini””. Jibril menjawab; “”Jibril””. Ditanyakan lagi; “”Siapa orang yang bersamamu?””. Jibril menjawab; “”Muhammad””. Ditanyakan lagi; “”Apakah dia telah diutus?””. Jibril menjawab; “”Ya””.

Maka dikatakan; “”Selamat datang, sebaik-baik orang yang datang telah tiba””.

Kemudian aku menemui Adam Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “”(Ucapan) selamat datang bagimu dari anak keturunan dan nabi””.

Kemudian kami naik ke langait kedua lalu ditanyakan; “”Siapakah ini””. Jibril menjkawab; “”Jibril””. Ditanyakan lagi; “”Siapa orang yang bersamamu?””. Jibril menjawab; “”Muhammad””. Ditanyakan lagi; “”Apakah dia telah diutus?””. Jibril menjawab; “”Ya””.

Maka dikatakan; “”Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang””.

Lalu aku menemui ‘Isa dan Yahya Alaihissalam lalu keduanya berkata; “”Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi””.

Kemudian kami naik ke langit ketiga lalu ditanyakan; “”Siapakah ini””. Jibril menjawab; “”Jibril””. Ditanyakan lagi; “”Siapa orang yang bersamamu?””. Jibril menjawab; “”Muhammad””. Ditanyakan lagi; “”Apakah dia telah diutus?””. Jibril menjawab; “”Ya””.

Maka dikatakan; “”Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang””.

Lalu aku menemui Yusuf Aalihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “”Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi””.

Kemudian kami naik ke langit keempat lalu ditanyakan; “”Siapakah ini””. Jibril menjawab; “”Jibril””. Ditanyakan lagi; “”Siapa orang yang bersamamu?””. Jibril menjawab; “”Muhammad””. Ditanyakan lagi; “”Apakah dia telah diutus?””. Jibril menjawab; “”Ya””.

Maka dikatakan; “”Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang””. Lalu aku menemui Idris Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “”Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi””.

Kemudian kami naik ke langit kelima lalu ditanyakan; “”Siapakah ini””. Jibril menjawab; “”Jibril””. Ditanyakan lagi; “”Siapa orang yang bersamamu?””. Jibril menjawab; “”Muhammad””. Ditanyakan lagi; “”Apakah dia telah diutus?””. Jibril menjawab; “”Ya””.

Maka dikatakan; “”Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang””.

Lalu aku menemui Harun Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “”Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi””.

Kemudian kami naik ke langit keenam lalu ditanyakan; “”Siapakah ini””. Jibril menjawab; “”Jibril””. Ditanyakan lagi; “”Siapa orang yang bersamamu?””. Jibril menjawab; “”Muhammad””. Ditanyakan lagi; “”Apakah dia telah diutus?””. Jibril menjawab; “”Ya””.

Maka dikatakan; “”Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang””.

Kemudian aku menemui Musa ‘alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “”Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi””.

Ketika aku sudah selesai, tiba-tiba dia menangis. Lalu ditanyakan; “”Mengapa kamu menangis?””. Musa menjawab; “”Ya Rabb, anak ini yang diutus setelah aku, ummatnya akan masuk syurga dengan kedudukan lebih utama dibanding siapa yang masuk surga dari ummatku””.

Kemudian kami naik ke langit ketujuh lalu ditanyakan; “”Siapakah ini””. Jibril menjawab; “”Jibril””. Ditanyakan lagi; “”Siapa orang yang bersamamu?””. Jibril menjawab; “”Muhammad””.

Ditanyakan lagi; “”Apakah dia telah diutus?””. Jibril menjawab; “”Ya””.

Maka dikatakan; “”Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang””.

Kemudian aku menemui Ibrahim ‘alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “”Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi””.

Kemudian aku ditampakkan al-Baitul Ma’mur. Aku bertanya kepada Jibril, lalu dia menjawab; “”Ini adalah al-Baitul Mamur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat mendirikan sholat disana. Jika mereka keluar (untuk pergi shalat) tidak ada satupun dari mereka yang kembali””.

Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha yang ternyata bentuknya seperti kubah dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah. Di dasarnya ada empat sungai yag berada di dalam (disebut Bathinan) dan di luar (Zhahiran) “”.

Aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab; “”Adapun Bathinan berada di syurga sedangkan Zhahiran adalah an-Nail dan al-Furat (dua nama sungai di syurga) “”.

Kemudian diwajibkan atasku shalat lima puluh kali. Aku menerimana hingga datang Musa ‘alaihissalam menemuiku dan bertanya; “”Apa yang telah kamu lakukan?””. Aku jawab: “”Aku diwajibkan shalat lima puluh kali””.

Musa berkata; “”Akulah orang yang lebih tahu tentang manusia daripada kamu. Aku sudah berusaha menangani Bani Isra’il dengan sungguh-sungguh. Dan ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan kewajiban shalat itu. Maka itu kembalilah kamu kepada Rabbmu dan mintalah (keringanan) “”.

Maka aku meminta keringanan lalu Allah memberiku empat puluh kali shalat lalu (aku menerimanya dan Musa kembali menasehati aku agar meminta keringanan lagi), kemudian kejadian berulang seperti itu (nasehat Musa) hingga dijadikan tiga puluh kali lalu kejadian berulang seperti itu lagi hingga dijadikan dua puluh kali kemudian kejadian berulang lagi hingga menjadi sepuluh lalu aku menemui Musa dan dia kembali berkata seperti tadi hingga dijadikan lima waktu lalu kembali aku menemui Musa dan dia bertanya; “”Apa yang kamu dapatkan?””. Aku jawab; “”Telah ditetapkan lima waktu””. Dia berkata seperti tadi lagi. Aku katakan; “”Aku telah menerimanya dengan baik””.

Tiba-tiba ada suara yang berseru: “”Sungguh AKu telah putuskan kewajiban dariku ini dan Aku telah ringankan buat hamba-hamba-Ku dan aku akan balas setiap satu kebaikan (shalat) dengan sepuluh balasan (pahala) “”.

Dan berkata Hammam, dari Qatadah, dari Al Hasan, dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “”Tentang al-Baitul Ma’mur””.”

Riwayat Jabir bin Abdullah dan İbn Abbas RA yang disebut oleh Al Bukhari dalam sahihnya tentang İsra’ dan Mi’raj
“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Al Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, telah menceritakan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman; aku mendengar Jabir bin Abdullah, radliallahu ‘anhuma bahwa, dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“”Ketika kaum Quraisy mendustakan aku (tentang Isra’ dan Mi’raj), aku berdiri di al Hijir, lalu Allah menampakkan kepadaku Baitul Maqdis, maka aku mulai menceritakan kepada mereka tentang tanda-tandanya, sedang aku terus melihatnya””. ”

“Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami ‘Amru, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, radliallahu ‘anhuma tentang firman Allah Ta’ala QS Al Isra’ ayat 60:

(“”Dan tidaklah kami jadikan mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai ujian bagi manusia””).

Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; “”Itu adalah penglihatan mata telanjang yang diperlihatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam beliau di Isra’ menuju Baitul Maqdis””.

Dan Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma juga berkata; bahwa lanjutan ayat yang artinya: (“”dan begitu pula pohon yang terkutuk di dalam al Qur’an.””.) maksudnya adalah pohon zaqqum (di neraka) “”.”

Baik apakah yang berlaku semaasa Isra’ dan Mikraj secara zahirnya jika kita mengambil waktu tengah malam dan sebelum Subuh ianya hanya sekitar 5-6 jam.

Dari Mekah ke Baitul Maqdis ke Isra’ kurang lebih 1400 km. Manakala untuk mi’raj, jaraknya wallahu’alam

Baiklah.

Apa yang ada di sisi Rasulallah SAW yang telah di alami semenjak 11 tahun yang lalu sebelum Isra’ dan Mi’raj?

Rasulallah SAW telah bertemu Jibril AS. Rasulallah SAW telah bertemu dengan kaum kaum Jin. Rasulallah SAW telah berhadapan dengan tentangan dari kalangan saudara se datuk baginda SAW. Rasulallah SAW menghadap ke Baitul Maqdis sebagai arah kiblat untuk berdoa tanpa baginda pernah tahu apa ada disana, baginda SAW hanya yakin dengan cerita cerita berkaitan Nabi-Nabi dan umat sekitar Baitul Maqdis di zaman Daud dan Sulaiman AS.

Begitulah juga sahabat-sahabat baginda SAW ketika itu dalam hal qiblatnya ke Baitul Maqdis. Berkenaan khabar-khabar dilangit setelah 11 tahun hampir 70% ayat ayat Makkiyyah telah turun berkenaan dengan khabar syurga, neraka dan segala-galanya dikhabarkan di dalam Al Qur’an dan telah diajarkan kepada para sahabat RadhiaAllahu anhum.

Semuanya diterima bulat bulat dengan keyakinan kepada apa yang Rasulallah SAW sebut melalui Al Qur’an.

Kali ini dengan hanya 6 jam perjalanan, Rasulallah SAW dinampakkan dengan mata kasar baginda, lalu dalam keadaan baginda SAW dilindungi oleh si kafir Muth’im bin Adiy.

Dinampakkan segala apa yang selama ini sekadar khabariyyah di dalam Al Qur’an, kini ianya nampak dalam bentuk basyariyyah oleh Rasulallah SAW.

Apakah tahap penerimaan iman para Sahabat RadhiaAllahu anhum ?

Disisi Rasulallah SAW sudah tentulah Iman Baginda SAW sudah dijadikan berada di tahap maksima kerana melihat sendiri sesuatu yang selama ini Ghaib.

Bagi orang Kafir ianya modal yang besar untuk menyangkal kebenaran Rasulallah SAW.

Manakala bagi umat Islam, ianya adalah ujian kepada keyakinan kepada setiap ayat Al Qur’an dan apa yang sebut (hadis) oleh Rasulallah SAW.

Fasa Mekah kemuncaknya adalah Isra’ dan Mi’raj – anugerah solat 5 waktu.

#sirahperjalananinsanagung#rahiqulmaktum#ustazazrilismail

 

Komen dan Soalan