Utama Blog Halaman 268

Akan Muncul Pemimpin Terdiri Dari Orang Yang Rendah (Akhlak dan Agama): Tanda Kiamat Ke-44

0

? Tanda Kiamat Ke-44/131
Akan Muncul Pemimpin Terdiri Dari Orang Yang Rendah (Akhlak dan Agama)

(يكون زعيم القوم أرذلهم )

Dalil:

إذا اتخذ الفيء دولا ، والأمانة مغنما ، والزكاة مغرما ، وتعلم لغير الدين ، وأطاع الرجل امرأته ، وعق أمه ، وأدنى صديقه ، وأقصى أباه ، وظهرت الأصوات في المساجد ، وساد القبيلة فاسقهم ، وكان زعيم القوم أرذلهم

Terjemahan: “Jika harta fai’ atau cukai tidak diagihkan, amanah dijadikan rebutan, zakat tidak ditunaikan, selain ilmu agama banyak dipelajari, lelaki tunduk kepada isterinya dan derhaka kepada ibunya, lelaki lebih dekat kepada temannya dan menjauh dari ayahnya, masjid menjadi bising, wakil rakyat adalah orang fasiq, pemimpin mereka adalah orang yang rendah akhlaknya dan agamanya..,HR Termidzi, Dhaif tapi tapi ada penguat kata Tirmidzi, dihasankan oleh Syaukani.

Antara tanda akhir zaman ialah manusia mengangkat orang yang rendah untuk memimpin mereka. Ia lebih kurang dengan di atas (no 43/131), cuma beza pemimpin fasiq (derhaka kepada Tuhan, minum khamar, tidak solat, kejam), manakala yang dimaksudkan di sini pemimpin yang serba serbinya hina di sisi agama dengan bodohnya, rendah akhlaknya.

Contohnya USA pernah ada Presiden yang playboy (JFK) dan pelakon Hollywood (Ronald Reagan).

Hadith 86: Jangan Terlalu Berangan Dan Istiqamah-lah

0

Hadith Ke-86

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bersengajalah secara sederhana – tidak sangat berangan-angan ataupun menangguh-nangguh – dan bertindak luruslah/istiqamah, juga ketahuilah bahawasanya tidak seseorang pun yang dapat selamat kerana amalnya.” Para sahabat bertanya: “Sekalipun Tuan sendiri juga tidak – dapat diselamatkan oleh amalnya – ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. menjawab: “Sayapun tidak dapat, kecuali jikalau Allah menutupi diriku -memberikan kurnia padaku – dengan kerahmatan daripadaNya serta dengan keutamaanNya.” (Riwayat Muslim)

Para ulama berkata: Makna istiqamah, iaitu tetap taat kepada Allah Ta’ala.

Mereka mengatakan bahawa istiqamah itu adalah termasuk dari golongan jawami’ul kalim – yakni sedikit kata-katanya tetapi luas pengertiannya – dan istiqamah itulah yang merupakan kenizhaman segala perkara.

Wa billahi taufiq.

86» وعن أبي هريرةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((قَارِبُوا وَسَدِّدُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّهُ لَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِنْكُمْ بعَمَلِهِ)) قالُوا: وَلا أَنْتَ يَا رَسُول الله؟ قَالَ: ((وَلا أنا إلا أنْ يَتَغَمَّدَني الله برَحمَةٍ مِنهُ وَفَضْلٍ)). رواه مسلم.
وَ ((المُقَاربَةُ)): القَصدُ الَّذِي لا غُلُوَّ فِيهِ وَلا تَقْصيرَ، وَ((السَّدادُ)): الاستقامة والإصابة. وَ((يتَغَمَّدني)): يلبسني ويسترني.
قَالَ العلماءُ: مَعنَى الاستقامَةِ لُزُومُ طَاعَةِ الله تَعَالَى، قالوا: وهِيَ مِنْ جَوَامِعِ الكَلِم، وَهِيَ نِظَامُ الأُمُورِ؛ وبِاللهِ التَّوفِيقُ.
في هذا الحديث: دلالةٌ على أنه ليس أحد من الخلْق يقدر على توفية حق الربوبية. لقوله صلى الله عليه وسلم: ((ولا أنا، إلا أن يتغمَّدني الله برحمة منه وفضل)).
ولكن الأعمال سببٌ لدخول الجنة. كما قال تعالى: {ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ} [النحل: 32]، والتوفيق للأعمال الصالحة من فضل الله ورحمته.

Siri Ke-2: Cara-cara Mengusir Jin Kafir Dan Syaitan Daripada Rumah Kalian

0

Kedua, Tindakan Pencegahan

Tindakan ini merupakan upaya berkelanjutan selama menempati rumah tersebut. Kerana berkelanjutan, upaya ini hanya bleh dilakukan oleh tuan rumah atau orang yang menempatinya. Dia tidak lagi boleh bergantung atau meminta bantuan orang lain. Kerana itu, upaya ini lebih menekankan pada mental keagamaan penghuni rumah.

Ada beberapa rutin yang selayaknya dilakukan, agar rumah kita selalu dijauhi syaitan yang suka mengganggu:

1. Rajin baca Al-Quran dan ibadah apapun di dalam rumah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya syaitan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membandingkan antara rumah dengan kuburan. Baginda memerintahkan agar rumah kita tidak dijadikan seperti kuburan. Salah satu sifat yang jelas dari kuburan adalah itu bukan tempat ibadah. Agar rumah kita tidak seperi kuburan yang boleh jadi banyak syaitan pengganggu, gunakan rumah kita untuk ibadah.

Hadis ini sekaligus menuntut Anda yang belum boleh membaca Al-Quran agar segera dan serius dalam belajar Al-Quran. Untuk menjadikan rumah Anda sebagai taman bacaan Al-Quran, tidak mungkin setiap hari Anda harus mengundang orang lain.

Dalam hadis dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

“Jadikanlah bagian solat kalian di rumah
kalian. Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Bukhari 432, Muslim 777, dan yang lainnya).

Maksud solat di sini adalah solat sunat yang dikerjakan sendiri dan tidak berjamaah. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis:

إِنَّ أَفْضَلَ صَلاَةِ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلاَةَ المَكْتُوبَةَ

“Susungguhnya solat seseorang yang paling utama adalah solat yang dikerjakan di rumahnya, kecuali solat wajib.” (HR. Bukhari 7290 dan yang lainnya).

2. Jangan Pedulikan Segala Bentuk Gangguan.

Sikap tidak peduli, ternyata menjadi cara ampuh untuk mengusir syaitan. Syaitan sebagaimana manusia, ketika dia mengganggu, kemudian tidak digubris, boleh jadi dia akan bosan untuk mengganggu kita

Berbeza ketika kita merasa ada yang mengganggu, kemudian kita cari-cari di mana tempatnya, atau bahkan kita ajak bicara, atau kita siram dengan garam dan semacamnya, dia akan semakin menjadi-jadi dalam menggoda kita.

Dari Abul Malih dari seseorang, dia berkata, “Aku pernah diboncengi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu tunggangan yang kami naiki tergelincir. Aku pun mengatakan, “Celakalah syaitan”. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang,

لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

“Janganlah kamu ucapkan ‘celakalah syaitan”, kerana jika kamu mengucapkan demikian, syaitan akan semakin besar seperti rumah. Lalu syaitan pun dengan sombongnya mengatakan, ‘Itu semua terjadi kerana kekuatanku’. Akan tetapi, ucapkanlah “Bismillah”. Jika engkau mengatakan seperti ini, syaitan akan semakin kecil sampai-sampai dia akan seperti lalat.” (HR. Ahmad 5:95 dan Abu Daud 4982 dan dishahihkan al-Albani)

Ketika kita mendengar atau melihat ada sesuatu yang mengganggu, jangan diajak bicara, tapi mintalah perlindungan kepada Allah SWT dan berdoa kepada-Nya.

3. Baca doa ketika masuk rumah

Hal kecil yang mungkin perlu dibiasakan adalah memulai segala yang penting dengan doa atau zikir. Salah satunya, ketika kita masuk rumah. Meskipun kelihatanya remeh, namun hasilnya luar biasa.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يُذْكَرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ

“Apabila ada orang yang masuk rumah, kemudian dia mengingat Allah ketika masuk, dan ketika makan, maka syaitan akan mengatakan (kepada temannya): ‘Tidak ada tempat menginap dan tidak ada makan malam.’ Tapi apabila dia tidak mengingat Allah (bismillah dan jangan lupa ucapkan salam) ketika masuk, maka syaitan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’.” (HR. Muslim 2018, Abu Daud 3765 dan yang lainnya)

Ada doa khusus ketika masuk rumah, akan tetapi doa ini dinilai dhaif oleh al-Albani. Kerana itu, makna zikir kepada Allah adalah membaca basmalah.

4. Baca doa ketika hendak makan.

Membaca basmalah ketika hendak makan, menjadi penghalang syaitan untuk ikut makan bersama kita. Hadis dari Jabir di atas menegaskan hal ini,

وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يُذْكَرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ، فَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

Tapi apabila dia tidak mengingat Allah ketika masuk maka syaitan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’. Dan jika dia tidak mengingat Allah ketika makan maka syaitan akan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam’.” (HR. Muslim 2018, Abu Daud 3765 dan yang lainnya)

5. Baca doa ketika tutup pintu

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan banyak saran agar kita tidak terganggu syaitan. Salah satunya:

وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا

“Tutuplah pintu, dan sebutlah nama Allah. Kerana syaitan tidak akan
membuka pintu yang tertutup (yang disebut nama Allah).” (HR. Bukhari 3304, Muslim 2012 dan yang lainnya)

Sekali lagi, hanya dengan membaca: Bismillah..

6. Berdoa ketika keluar rumah

Satu doa ketika keluar rumah. Ringkas, mudah dihafal, tapi khasiatnya besar:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

BISMILLAHI TAWAKKALTU ‘ALALLAAH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

Maksudnya, “Dengan nama Allah aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah”.

Dalam hadis dinyatakan, siapa yang keluar rumah kemudian dia membaca doa di atas, maka disampaikan kepadanya: Kamu diberi petunjuk, dicukupi dan dilindungi. Maka syaitan kemudian berteriak:

كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Bagaimana kalian boleh mengganggu orang yang sudah diberi hidayah, dicukupi, dan dilindungi.” (HR. Abu Daud 5095, Turmudzi 3426 dan dishahihkan al-Albani)

7. Jauhkan rumah kalian dari gambar makhluk bernyawa

Siapa sangka, ternyata gambar makhluk bernyawa boleh membuat jin dan syaitan jahat itu semakin betah di rumah kita.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَّ المَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ

“Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar.” (HR. Bukhari 3224, Nasai 5348 dan yang lainnya).

Ketika malaikat penebar rahmat tidak memasuki rumah kalian, di saat itulah makhluk lain, yang juga tidak kelihatan, akan menggantikan posisi mereka. Foto keluarga, gambar binatang dan seterusnya boleh jadi membuat rumah kalian makin indah bagi syaitan.

8. Jauhkan rumah kalian dari muzik

Banyak orang tidak sedar, ternyata suara ini berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya mizmarus syaitan (musik syaitan). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan salah satunya, lonceng. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

فِي الْجَرَسِ مِزْمَارُ الشَّيْطَانِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang lonceng: muzik syaitan. (HR. Abu Daud 2556)

Di kesempatan yang sama, malaikat penebar rahmat menghindari rumah yang dipenuhi denngan musik. Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَصْحَبُ رُفْقَةً فِيهَا جَرَسٌ

“Sesungguhnya malaikat tidak akan menyertai rombongan yang di sana ada loncengnya.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, 1001).

Kita telah memahami, terjadi sikap bertentangan antara malaikat penebar rahmat dengan syaitan pembangkang. Ketika salah satunya menghindar, di saat itulah satunya menggantikan.

Jadikan rumah kalian seperti taman-taman malaikat penebar rahmat, bukan tempat peristirahatan yang nyaman bagi syaitan. Hiasi rumah kalian dengan berbagai ketaatan dan amal soleh. Agar yang menemani kalian juga makhluk yang soleh. Hiasi rumah kalian dengan bacaan Al- Quran, solat, kajian mengupas halal-haram, dan lantunan suara langit lainnya. Wallahu a’lam.

Siksaan Orang Yang ‘Engkar’ Di Neraka

0

~Tadabbur Kalamullah 26 Zulhijjah 1436H~

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Demi sesungguhnya, telah tetap hukuman seksa atas kebanyakan mereka, kerana mereka tidak mahu beriman” [Surah YaSin 7]

#Orang yang beriman dan mentaati perintah Allah akan selamat dan terlepas daripada azab. Namun, bagi manusia yang tidak mahu beriman dengan Allah, yang engkar dengan perintah Allah, yang melawan hukum peraturan Allah, yang sombong dengan kebenaran maka mereka berdepan dengan janji azab dan seksa daripada Allah swt.

#Al Barra’ bin Azib menceritakan kisah orang yang derhaka pada Allah dan tidak beriman ketika di alam kubur:

“Kemudian dibukakan baginya pintu Neraka sehingga ia dapat melihat tempat tinggalnya di sana hingga hari kiamat”(HR Imam Ahmad)

#Firman Allah swt:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Mereka didedahkan kepada bahang api neraka pada waktu pagi dan petang (semasa mereka berada dalam alam Barzakh); dan pada hari berlakunya kiamat (diperintahkan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan pengikut-pengikutnya ke dalam azab seksa api neraka yang seberat-beratnya!”[Surah Ghafir 46]

#Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan seksaannya ialah orang yang diberi sepasang sandal yang talinya terbuat dari api neraka, lalu mendidihlah otaknya kerana panasnya yang laksana air panas mendidih di dalam periuk. Dia mengira tiada seorangpun yang menerima seksaan lebih dahsyat dari itu, padahal dialah orang yang mendapat seksaan paling ringan” (HR Bukhari dan Muslim)

#Firman Allah swt dalam surah al-Balad ayat 19-20:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا هُمْ أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ* عَلَيْهِمْ نَارٌ مُؤْصَدَةٌ

“Dan (sebaliknya) orang-orang yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Kami, merekalah golongan pihak kiri. Mereka ditimpakan (azab seksa) neraka yang ditutup rapat (supaya kuat bakarannya)”

♡Berimanlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya bukannya beriman kepada perkara yang kita suka dan kufur dengan perintah-perintah yang kita rasa tak sesuai dengan nafsu kita. Buruk padah yang sedang menanti♡

?Ust naim
https://m.facebook.com/ustazmuhamadnaim

Hadis 85: Beriman Kepada Allah Dan Istiqamah-lah

0

Hadith ke-85

85. Dari Abu ‘Amr, ada yang mengatakan namanya Abu ‘Amrah, Sufyan bin Abdullah r.a., katanya: “Saya bertanya: Ya Rasulullah, katakanlah padaku dalam Islam tentang suatu ucapan yang saya tidak akan menanyakan lagi pada seseorang selain Tuan.

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Katakanlah, saya beriman kepada Allah kemudian bertindak luruslah* – berpegang teguhlah pada kebenaran.” (Riwayat Muslim)

Maksudnya bertindak lurus itu ialah:

Kalau kita telah mengaku beriman pada Allah, hendaklah kita jangan segan berlaku yang benar dan jujur, misalnya benar-benar memperjuangkan cita-cita Islam. Maka jangan hanya menamakan dirinya itu seorang Islam sekadar hanya pengakuan kosong belaka, tetapi berlakulah yang benar sebagai seorang Muslim.

«85» وعن أبي عمرو، وقيل: أبي عَمرة سفيان بن عبد الله رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُول الله، قُلْ لي في الإسْلامِ قَولًا لا أسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: ((قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ استَقِمْ)). رواه مسلم.
هذا الحديث جمع معاني الإِسلام والإِيمان كلها، وهو على وفاق قوله تعالى: {إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا}.
قال بعض العارفين: مرجع الاستقامة إلى أمرين:
– صحة الإيمان بالله.
– واتباع ما جاء به رسول الله ظاهرًا وباطنًا.
وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((استقيموا ولن تحصوا، واعلموا أن خير أعمالكم الصلاة، ولا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن)).

Bertidak lurus iaitu istiqlmah dalam ertikata dlm firman Allah:

واعتصموا بحبل الله جمىعا ولا تفرقوا….آل عمران ١٠٣

Nabi SAW Nangis, Akibat Cara Tawasul Yang Salah : Hadits 35

0

Hadits 35: Sunnah yang ditinggalkan yang wajib dihidupkan kembali

Nabi ﷺ pernah membaca firman Allah ﷻ tentang Ibrahim: ((Ya Rabbku! Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan ramai orang. Sesiapa yang mengikutiku, sesungguhnya dia daripada kalanganku. Sesiapa yang menyalahiku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.)) [Surah Ibrahim, ayat 36] sehingga akhir ayat. Katanya: Tentang `Isa `alaihi as-salam: ((Sekiranya Engkau mengazab mereka, sesungguhnya mereka hamba-hamba-Mu. Sekiranya Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.)) [Surah Al-Ma’idah, ayat 118]. Lalu baginda mengangkat kedua-dua tangannya, dan berdoa: “Ya Allah! Umatku! Umatku!” Lalu baginda menangis. Lalu Allah ﷻ berkata: “Ya Jibril! Pergilah kepada Muhammad! -dan Rabbmu lebih mengetahui- lalu tanyalah: Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Lalu Jibril `alaihi ash-shalat wa as-salam datang dan bertanya kepada baginda. Lalu Rasulullah ﷺ menjawab dengan apa yang disebutkan olehnya, dan baginda lebih mengetahui. Lalu Allah berkata: “Ya Jibril! Pergilah kepada Muhammad, dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Kami akan membuatmu redha dengan umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu sedih kerananya.”

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ تلا قولَ اللهِ عزَّ وجلَّ في إبراهيمَ : { رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ } [ 14 / إبراهيم / الآية – 36 ] الآية وقال عيسى عليه السلام : (إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم)[ 5 / المائدة / الآية – 118 ] فرفعَ يديهِ وقال اللهمَّ ! أُمَّتي أُمَّتي وبكى . فقال اللهُ عزَّ وجلَّ : يا جبريلُ ! اذهب إلى محمدٍ، – وربُّكَ أعلمُ -، فسَلهُ ما يُبكيكَ؟ فأتاهُ جبريلُ عليهِ الصلاةُ والسلامُ فسَألهُ.فأخبرهُ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بما قالَ . وهو أعلمُ . فقال اللهُ : يا جبريلُ ! اذهبْ إلى محمدٍ فقلْ : إنَّا سنُرضيكَ في أُمَّتكَ ولا نَسُوءُكَ

Diriwayatkan oleh Muslim no 202.

#SilsilahShahihah:

Bertindak Lurus : Riyadhus Solihin

0

Bertindak Lurus

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka  bertindak  luruslah engkau sebagaimana  engkau diperintahkan.” (Hud: 112)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahawa Allah adalah Tuhan kita semua, kemudian mereka itu bertindak lurus – berpendirian teguh, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka – dan berkata: “fangan engkau semua takut dan jangan pula berdukacita dan terimalah berita gembira memperolehi syurga yang telah dijanjikan kepadamu semua.

“Kami – Allah – menjadi pelindungmu semua dalam kehidupan dunia dan pada hari kemudian. Di situ engkau semua memperolehi apa-apa yang menjadi keinginan hatimu dan di situ pula engkau semuamendapatkan apa saja yang engkau semua minta.

“Hidangan dari Tuhan yang Maba Pengampun dan Penyayang.” (Fushshilat: 30-32)

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahawa Allah adalah Tuhan kita semua, kemudian mereka bertindak lurus – berpendirian teguh dalam kebenaran – maka mereka tidak akan merasa takut dan tidak akan merasa berdukacita.

“Merekalah yang dapat menempati syurga, mereka kekal di  dalamnya, sebagai balasan dari apa-apa yang mereka lakukan.” (al-Ahqaf: 13-14)

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.
Surah Al-Ahqaf (46:13)

Istiqamah atas tauhid, ittiba’ al Qur’an dan as sunnah.

باب الاستقامة:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: {فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ} [هود: 112].
أي: استقم على دين ربك، والعمل به، والدعاء إليه.
والاستقامة: هي لزوم المنهج المستقيم.
قال عمر رضي الله عنه: الاستقامة: أنْ تقوم على الأمر والنهي، ولا تروغ عنه روغان الثعلب.
وَقالَ تَعَالَى: {إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ * نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ * نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ} [فصلت: 30- 32].
يخبر تعالى أنَّ من وحَّده واستقام على طاعته أنه آمن عند الموت ويوم القيامة، وأنَّ جزاءه الجنة. وقوله: {نزلًا} أي: رزقًا مهيَّأً.
وَقالَ تَعَالَى: {إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ * أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأحقاف: 13، 14].
أي: استقاموا على التوحيد، واتباع الكتاب والسنة.

Cara-cara Mengusir Jin Kafir Dan Syaitan Daripada Rumah Kalian.

0

Cara yang paling efektif dalam hal ini adalah membacakan surat Al-Baqarah, satu surah penuh. Ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)

Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan:

إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ، خَرَجَ مِنْهُ

“Sesungguhnya syaitan, apabila mendengar surat Al-Baqarah dibacakan dalam rumah, maka dia akan keluar dari rumah itu.” (HR. Ad-Darimi 3422, At-thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 8642).

Hanya 3 hari?

Terdapat keterangan bahwa syaitan meninggalkan rumah itu selama 3 hari. Ini berdasarkan hadis dari Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ فِي بَيْتِهِ لَيْلًا لَمْ يَدْخُلِ الشَّيْطَانُ بَيْتَهُ ثَلَاثَ لَيَالٍ

“Siapa yang membaca surat Al-Baqarah di malam hari maka syaitan tidak akan memasuki rumahnya selama tiga hari..” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya 780).

Hanya saja, keterangan tambahan tiga hari dalam riwayat tersebut dinilai lemah oleh al-Albani, sebagaimana keterangan beliau di Silsilah Ad-Dhaifah no. 1349.

Hanya Syaitan yang Mengganggu

Syaitan yang lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah adalah setan yang mengganggu secara zahir. Sebagaimana keterangan yang dinukil Ibnu Hibban, dari Imam Abu Hatim:

قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَمْ يَدْخُلِ الشَّيْطَانُ بَيْتَهُ»، أَرَادَ بِهِ مَرَدَةَ الشَّيَاطِينِ دُونَ غَيْرِهِمْ

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Syaitan tidak akan memasuki rumahnya” maksudnya adalah syaitan yang membangkang (mengganggu) bukan yang lainnya. (Shahih Ibnu Hibban, 3:59)

Siapa yang Membaca?

Siapa saja, tidak semestinya tuan rumah. Lebih-lebih, jika tuan rumah sendiri tidak boleh membaca Al-Quran. Keranaa lafal dalam hadis: “yang dibacakan surat Al-Baqarah” dengan bentuk kalimat pasif. Ertinya siapapun yang membaca, selama dilakukan di dalam rumah, telah memenuhi syarat untuk mengusir syaitan.

Hanya saja tidak boleh menggunakan rekaman Mp3 atau sejenisnya. Kerana membaca perlu niat, dan audio player atau komputer tidak boleh berniat.

Kedua, Tindakan Pencegahan

Bersambung..

Pemimpin Kabilah atau wakil rakyat adalah orang fasiq : Tanda Kiamat Ke-43

0

Tanda Kiamat Ke-43/131
Pemimpin Kabilah atau wakil rakyat adalah orang fasiq

(سيادة الفساق علي القبائل )

Dalil:

إذا اتخذ الفيء دولا ، والأمانة مغنما ، والزكاة مغرما ، وتعلم لغير الدين ، وأطاع الرجل امرأته ، وعق أمه ، وأدنى صديقه ، وأقصى أباه ، وظهرت الأصوات في المساجد ، وساد القبيلة فاسقهم ، وكان زعيم القوم أرذلهم

Terjemahan: “Jika harta fai’ atau cukai tidak diagihkan, amanah dijadikan rebutan, jatah zakat tidak ditunaikan, selain ilmu agama banyak dipelajari, lelaki tunduk kpd isterinya dan derhaka kpd ibunya, lelaki lebih dekat kepada temannya dan menjauh dari ayahnya, masjid menjadi bising, wakil rakyat adalah orang fasiq.., ”
HR Tirmidzi, dhaif tapi tapi ada penguat kata Tirmidzi, dihasankan oleh syaukani.

Syarah:
Sepatutnya yang menjadi pemimpin kaum atau yang menjadi wakil rakyat adalah orang yang terbaik akhlak, ilmu dan mengetahu hukum hakam, namun akhir zaman, tidak demikian, di mana yang menjadi wakil rakyat atau pemimpin kabilah dan wilayah adalah orang fasiq, maka ia akan mendatangkan musibah kepada kaumnya dan negara.

Himpunan Hadis Bab Tawakkal

0

74. Pertama: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Dipertontonkanlah padaku berbagai ummat, maka saya melihat ada seorang Nabi dan besertanya adalah sekelompok manusia kecil – antara tiga orang sampai sepuluh, ada pula Nabi dan besertanya adalah seorang lelaki atau dua orang saja, bahkan ada pula seorang Nabi yang tidak disertai seseorang pun. Tiba-tiba diperlihatkanlah padaku suatu gerombolan manusia yang besar, lalu saya mengira bahawa mereka itulah ummatku. Lalu dikatakanlah padaku: “Ini adalah Musa dengan kaumnya. Tetapi lihatlah ke ufuk – sesuatu sudut.” Kemudian saya pun melihatnya, lalu saya lihatlah dan tiba-tiba nampaklah di situ suatu gerombolan ummat yang besar juga. Selanjutnya dikatakan pula kepadaku: “Kini lihatlah pula ke ufuk yang lain lagi itu.” Tiba-tiba di situ terdapatlah suatu kelompok yang besar pula, lalu dikatakanlah padaku: “Inilah ummatmu dan beserta mereka itu ada sejumlah tujuh puluh ribu orang yang dapat memasuki syurga tanpa dihisab dan tidak terkena siksa.”

Kemudian Rasulullah s.a.w. bangun dan terus memasuki rumahnya. Orang-orang banyak sama bercakap-cakap mengenai para manusia yang memasuki syurga tanpa dihisab dan tanpa disiksa itu. Sebahagian dari sahabat itu ada yang berkata: “Barangkali mereka itu ialah orang-orang yang telah menjadi sahabat Rasulullah s.a.w.” Sebahagian lagi berkata: “Barangkali mereka itu ialah orang-orang yang dilahirkan di zaman sudah munculnya agama Islam, kemudian tidak pernah mempersekutukan sesuatu dengan Allah.” Banyak lagi sebutan – percakapan-percakapan – mengenai itu yang mereka kemukakan.

Rasulullah s.a.w. lalu keluar menemui mereka kemudian bertanya: “Apakah yang sedang engkau semua percakapkan itu.” Para sahabat memberitahukan hal itu kepada beliau. Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda:

“Orang-orang yang memasuki syurga tanpa hisab dan siksa itu ialah mereka yang tidak pernah memberi mentera-mentera tidak meminta mentera-mentera dari orang lain – kerana sangatnya bertawakkal kepada Allah, tidak pula merasa akan memperolehi bahaya kerana adanya burung-burung – atau adanya hal yang lain-lain atau ringkasnya meyakini guhon tuhon atau khurafat yang sesat – dan pula sama bertawakkal kepada Tuhannya.”

‘Ukkasyah bin Mihshan al-Asadi, kemudian berkata: “Doakanlah saya – ya Rasulullah – kepada Allah supaya Allah menjadikan saya termasuk golongan mereka itu – tanpa hisab dan siksa dapat memasuki syurga.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Engkau termasuk golongan mereka.” Selanjutnya ada pula orang lain yang berdiri lalu berkata: “Doakanlah saya kepada Allah supaya saya oleh Allah dijadikan termasuk golongan mereka itu pula.” Kemudian beliau bersabda: “Permohonan seperti itu telah didahului oleh ‘Ukkasyah.” (Muttafaq ‘alaih)

«74» فالأول: عن ابن عباس رضي الله عنهما، قَالَ: قَالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: ((عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَرَأيْتُ النَّبيّ ومَعَهُ الرُّهَيطُ، والنبي وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلانِ، والنبيَّ ولَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لي سَوَادٌ عَظيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فقيلَ لِي: هَذَا مُوسَى وَقَومُهُ، ولكنِ انْظُرْ إِلَى الأُفُقِ، فَنَظَرتُ فَإِذا سَوادٌ عَظِيمٌ، فقيلَ لي: انْظُرْ إِلَى الأفُقِ الآخَرِ، فَإِذَا سَوَادٌ عَظيمٌ، فقيلَ لِي: هذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ ألفًا يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِغَيرِ حِسَابٍ ولا عَذَابٍ))، ثُمَّ نَهَضَ فَدخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ في أُولئكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ ولا عَذَابٍ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمْ الَّذينَ صَحِبوا رسولَ الله صلى الله عليه وسلم، وَقالَ بعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا في الإِسْلامِ فَلَمْ يُشْرِكُوا بِالله شَيئًا- وذَكَرُوا أشيَاءَ- فَخَرجَ عَلَيْهِمْ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: ((مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ؟)) فَأَخْبَرُوهُ فقالَ: ((هُمُ الَّذِينَ لا يَرْقُونَ، وَلا يَسْتَرقُونَ، وَلا يَتَطَيَّرُونَ؛ وعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوكَّلُون)) فقامَ عُكَّاشَةُ بنُ محصنٍ، فَقَالَ: ادْعُ الله أنْ يَجْعَلني مِنْهُمْ، فَقَالَ: ((أنْتَ مِنْهُمْ)). ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ، فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أنْ يَجْعَلنِي مِنْهُمْ، فَقَالَ: ((سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Lafaz ‘Ukkasyah dengan mendhammahkan ‘ain serta mensyaddahkan kafnya, tetapi boleh pula kafnya itu diringankan, yakni tidak disyaddahkan lalu dibaca ‘Ukasyah. Namun begitu, dengan mensyaddahkan kafnya adalah lebih fasih.

Apa maksud mentera-mentera?

Jampi

 إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya jampi,azimat dan pengasih adalah syirik.”

(Riwayat Ahmad dan ibn Majah. Sahih menurut Syaikh al-Albani)

Di dalam buku terjemahan Bidaah dan Syirik karya kompilasi Dr. Yusof Al-Qardawi dan Muhammad Al-Ghazali, disebutkan: “Kadangkala kita jumpai sebahagian orang yang menggunakan al-Quran sebagai pelindung dirinya, dengan beranggapan bahawa al-Quran tersebut dapat melindungi dari muflis, kalau dia seorang pedagang, atau dapat menolak tamparan kepala, kalau dia seorang pegawai. Ini adalah kekacauan berfikir yang sudah sangat parah. Kalau dia masih beranggapan beriman kepada Allah dan meluhurkan Al-Quran, sesungguhnya itu adalah tanggapan yang SALAH. Hubungan seorang muslim dengan al-Quran adalah mempelajari dan mengamalkan isi kandungannya.”
Dr. Yusuf al-Qaradhawi menyebut: “Ar-ruqa yang diharamkan ialah yang terdapat padanya pohon pertolongan kepada yang lain dari Allah atau ianya bukan berbahasa Arab yang berkemungkinan terdapat padanya kata-kata kufur atau syirik. Adapun selain dari yang tersebut itu tidaklah mengapa untuk digunakan.”

Menurut al-Imam as-Suyuti rahimahullah: Para ulama telah ijmak (bersepakat) tentang harusnya ar-ruqa ketika wujud tiga syarat:

Hendaklah ianya terdiri dari kalam Allah (ayat al-Quran) atau nama-nama Allah atau sifat-sifat-Nya.Hendaklah ianya di dalam bahasa Arab dan apa difahami pengertiannya. Hendaklah mengiktiqad dan mempercayai bahawa ar-ruqa itu tidaklah memberi bekas/kesan bahkan dengan takdir Allah.

Hadith ke-75

75. Kedua: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma juga bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda – dalam berdoa:

“Ya Allah, kepadaMulah saya menyerahkan diri, denganMu saya beriman, atasMu saya bertawakkal, ke hadhiratMu saya bertaubat, denganMu saya berbantah – menghadapi musuh-musuh agama.”

“Ya Allah, saya mohon perlindungan dengan kemuliaanMu, tiada Tuhan melainkan Engkau, kalau sampai Engkau menyesatkan diriku. Engkau Maha Hidup yang tidak akan mati, sedangkan semua jin dan manusia pasti mati.”
(Muttafaq ‘alaih)

Hadis di atas itu menurut lafaz Imam Muslim dan diringkaskan dalam lafaz Imam Bukhari.

75» الثاني: عن ابن عباس رضي الله عنهما أيضًا: أنَّ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم كَانَ يقول: ((اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَليْك تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ. اللَّهُمَّ إِنِّي أعُوذُ بعزَّتِكَ؛ لا إلهَ إلا أَنْتَ أنْ تُضلَّني، أَنْتَ الحَيُّ الَّذِي لا يَمُوتُ، وَالجِنُّ والإنْسُ يَمُوتُونَ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ، وهذا لفظ مسلم واختصره البخاري.

? Kewajipan bertawakkal kepada Allah SWT.
? Segala sesuatu selain Allah SWT akan binasa. Oleh itu ia tidak layak untuk dijadikan sebagai sandaran.
? Disunnahkan mengikuti Nabi saw dalam mengungkapkan kalimat-kalimat yang sempurna dan padat makna, seperti halnya do’a di atas…

Hadith ke-76
Bab Tawakkal dan keyakinan
76. Ketiga: Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma pula, katanya: “Lafaz: Hasbunallah wa ni’mal wakil,ertinya: Cukuplah Allah itu sebagai penolong kita dan Dia adalah sebaik-baiknya yang diserahi, itu pernah diucapkan oleh Ibrahim a.s. ketika beliau dilemparkan ke dalam api, Juga pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. ketika orang-orang sama berkata: “Sesungguhnya orang-orang banyak telah berkumpul-bersatu-untuk memerangi engkau,maka takutilah mereka itu,” tetapi ucapan sedemikian itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang beriman melainkan keimanan belaka dan mereka berkata: Hasbunallah wa ni’mal wakil.(Riwayat Bukhari)

Dalam riwayat Bukhari pula dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma disebutkan: Ucapan Nabi Ibrahim yang terakhir sekali ketika beliau dilemparkan ke dalam api iaitu: Hasbiallah wa ni’mal wakil artinya: “Cukuplah Allah itu sebagai penolongku dan Dia adalah sebaik-baiknya yang diserahi.”

6» الثالث: عن ابن عباس رضي الله عنهما أيضًا، قَالَ: حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ، قَالَهَا إِبرَاهيمُ صلى الله عليه وسلم حِينَ أُلقِيَ في النَّارِ، وَقَالَها مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم حِينَ قَالُوا: إنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إيْمانًا وَقَالُوا: حَسْبُنَا الله ونعْمَ الوَكيلُ. رواه البخاري.
وفي رواية لَهُ عن ابن عَبَّاسٍ رضي الله عنهما، قَالَ: كَانَ آخر قَول إبْرَاهِيمَ صلى الله عليه وسلم حِينَ أُلْقِيَ في النَّارِ: حَسْبِي الله ونِعْمَ الوَكِيلُ.
قوله: {حسبنا الله}، أي: هو كافينا. {ونعم الوكيل}، أي: الموكول إليه الأمور.
ورُوي أنَّ إبراهيم صلى الله عليه وسلم لما أرادوا إلقاءه في النار، رفع رأسه إلى السماء فقال: ((اللَّهُمَّ أنت الواحدُ في السماء، وأنا الواحد في الأرض، ليس أحدٌ يعبدك غيري، حسبي الله ونعم الوكيل)). فقال الله عزَّ وجلّ: {يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ} [الأنبياء: 69].

? Keutamaan tawakkal kepada Allah. Sikap ini dianjurkan ketika saat-saat kritis.

Kesempurnaan tawakkal itu adalah ucapan.

حسبنا الله ونعم الوكيل

Cukuplah Allah sebagai penolong kami,
dan Dialah sebaik-baik Pelindung.

? Hendaklah mengikuti jejak para Nabi as dan muqarabbin dengan berdo’a dan bertawakkal.

? Tawakkal kepadaNya termasuk diantara manhaj para Nabi as.

?Musuh-musuh Allah SWT selalu berusaha untuk mencelakai para RasulNya dan para pengikut mereka.

? Pergulatan antara kebenaran dan kebatilan serta para pendukung keduanya sudah berlangsung sejak dahulu.

Hadith ke-77

Keempat: Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:

“Masuklah ke dalam syurga itu para kaum yang hatinya seperti hati burung.” (Riwayat Muslim)

Ertinya kata-kata di atas itu disebutkan: Bahawasanya mereka itu sama bertawakkal. Juga dapat diertikan: bahawasanya hati mereka itu lemah lembut.

«77» الرابع: عن أبي هريرةَ رضي الله عنه عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((يَدْخُلُ الجَنَّةَ أَقْوامٌ أفْئِدَتُهُمْ مِثلُ أفْئِدَةِ الطَّيرِ)). رواه مسلم.
قيل: معناه متوكلون، وقيل: قلوبهم رَقيقَةٌ.
هذا الحديث أصلٌ عظيم في التوكل. وحقيقته: هو الاعتماد على الله عزَّ وجلّ في استجلاب المصالح ودفع المضار.
قال سعيد بن جبير: التوكُّل جماع الإِيمان.
واعلم أنَّ التوكُّل لا ينافي السعي في الأسباب، فإنَّ الطير تغدو في طلب رزقها. وقد قال الله تعالى: {وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا} [هود: 6].
قال يوسف بن أسباط: كان يقال: اعمل عمل رجل لا ينجيه إلا عمله، وتوكَّل توكُّل رجل لا يصيبه إلا ما كُتب له.
وفي حديث جابر عن النبي صلى الله عليه وسلم: ((لن تموتَ نفس حتى تستكمل رزقها، فاتقوا الله وأجملوا في الطلب، خذوا ما حلَّ ودعوا ما حرم)).

Kesempurnaan tawakkal diumpamakan dengan burung sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw yang berikut ini:

Seandainya kamu semua bertawakkal kepada Allah sebagaimana saya bertawakkal kepada Nya. Nescaya Dia akan memberi rezeki kepada kamu semua sebagaimana rezeki yang diberikannya kepada burung
Yang terbang pada pagi hari dengan perut kosong dan kembali lagi pada petang hari dengan perut penuh makanan.
(HR: Ahmad 205, Ibnu Hibban 2/509, Tirmizi 2344, Ibn Majah 4164).

Hadith ke-78

Dari Jabir r.a. bahawasanya ia berperang bersama Nabi s.a.w. di daerah dekat Najad – yakni perang Dzatur Riqa’. Setelah  Rasulullah  s.a.w.  kembali  – dari  perjalanannya – ia pun kembali pula beserta mereka, kemudian mereka sama memperolehi tidur siang dalam suatu lembah yang banyak pohon durinya. Rasulullah s.a.w. turun dan orang-orang lain pun sama berteduh di bawah pohon. Rasulullah s.a.w. itu turun di bawah pohon samurah kemudian menggantungkan pedangnya di situ.

Kita semua tidur, tiba-tiba Rasulullah s.a.w. memanggil-manggil kita dan di sisinya ada seorang A’rab – orang Arab dari pergunungan, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Orang ini telah mengacungkan pedangku padaku, sedang saya tidur tadi, kemudian saya bangun, sedangkan pedang itu terhunus di tangannya, ia berkata: “Siapakah yang dapat menghalang-halangi engkau dari perbuatanku ini?” Saya menjawab: “Allah” sampai tiga kali.
Tetapi beliau s.a.w. tidak menghukum orang – yang akan membunuhnya – tadi dan beliau pun duduklah. (Muttafaq ‘alaih)

Dalam sebuah riwayat lagi disebutkan:

Jabir berkata: “Kita semua bersama-sama Rasulullah s.a.w. dalam peperangan Dzatur Riqa’, kemudian datanglah kita pada pohon yang rendang – nyaman digunakan sebagai tempat berteduh – pohon itu kita biarkan untuk digunakan oleh Rasulullah s.a.w., kemudian datanglah seseorang lelaki dari golongan kaum musyrikin sedangkan pedang Rasulullah s.a.w. digantungkan pada pohon tersebut. Orang itu menghunus pedangnya lalu berkata: “Adakah engkau takut padaku?” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Tidak.” Orang itu berkata lagi: “Siapakah yang dapat menghalang-halangi engkau dari perbuatanku ini.” Beliau s.a.w. menjawab: “Allah.”
Disebutkan pula dalam riwayat lainnya lagi iaitu riwayat Abu Bakar al-lsma’ili dalam kitab shahihnya demikian:

Orang itu berkata: “Siapakah yang dapat menghalang-halangi engkau dari perbuatanku ini.” Beliau s.a.w. bersabda: “Allah,” kemudian jatuhlah pedang itu dari tangannya.
Selanjutnya pedang itu diambil oleh Rasulullah s.a.w., lalu bersabda: “Siapakah yang dapat menghalang-halangi engkau dari padaku ini?” Orang tadi berkata: “Jadilah engkau – hai Muhammad -sebaik-baiknya orang yang dimintai perlindungan.” Rasulullah s.a.w. bersabda pula: “Sukakah engkau menyaksikan bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahawasanya saya ini utusan Allah?” Ia menjawab: “Tidak suka aku demikian, tetapi saya berjanji padamu bahawa saya tidak akan memerangi lagi padamu dan tidak pula akan menyertai kaum yang memerangi engkau.”
Oleh Rasulullah s.a.w. orang tersebut dilepaskan jalannya -dibebaskan, kemudian ia mendatangi sahabat-sahabatnya lalu berkata: “Saya telah datang padamu sekalian ini dari sisi sebaik-baik manusia – yang dimaksud ialah baharu datang dari Nabi Muhammad s.a.w.

Sabda Nabi s.a.w.: Ikhtarathas saifa, ertinya mengacungkan pedang dalam keadaan terhunus dan Wa huwa fi yadihi shaltan, ertinya: pedang itu di tangannya sudah terhunus. Lafaz shaltan itu boleh difathahkan shadnya dan boleh pula didhammahkan.

Hadith ke- 79 kitab Riyadus Solihin.

79. Keenam: Dari Umar r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Andaikata engkau sekalian itu suka bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscayalah Dia akan memberikan rezeki padamu sekalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Pagi-pagi burung-burung berperut kosong dan sore-sore kembali dengan perut penuh berisi.

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Adapun makna Hadis itu ialah bahwa burung-burung itu pada permulaan hari siang, yakni mulai pagi harinya sama pergi dalam keadaan khimash,artinya kosong perutnya, sebab lapar, sedangkan pada akhir siang, yakni pada sore harinya sama kembali dalam keadaan bithaan, artinya perutnya penuh sebab kenyang. Inilah tanda tawakkalnya burung pada Allah.

«79» السادس: عن عُمَر رضي الله عنه قَالَ: سمعتُ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا)). رواه الترمذي، وَقالَ: (حديث حسن).
معناه: تَذْهبُ أَوَّلَ النَّهَارِ خِمَاصًا: أي ضَامِرَةَ البُطُونِ مِنَ الجُوعِ، وَتَرجعُ آخِرَ النَّهَارِ بِطَانًا. أَي مُمْتَلِئَةَ البُطُونِ.
أي: لو توكلتم على الله في ذهابكم ومجيئكم وتصرُّفكم لسهّل لكم رزقكم.

Hadith ke-80

«80» السابع: عن أبي عُمَارة البراءِ بن عازب رضي الله عنهما، قَالَ: قَالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: ((يَا فُلانُ، إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فراشِكَ، فَقُل: اللَّهُمَّ أسْلَمتُ نَفْسي إلَيْكَ، وَوَجَّهتُ وَجْهِي إلَيْكَ، وَفَوَّضتُ أَمْري إلَيْكَ، وَأَلجأْتُ ظَهري إلَيْكَ رَغبَةً وَرَهبَةً إلَيْكَ، لا مَلْجَأ وَلا مَنْجَا مِنْكَ إلا إلَيْكَ، آمنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أنْزَلْتَ؛ وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ. فَإِنَّ مِتَّ مِنْ لَيلَتِكَ مِتَّ عَلَى الفِطْرَةِ، وَإِنْ أصْبَحْتَ أَصَبْتَ خَيرًا)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
وفي رواية في الصحيحين، عن البراءِ، قَالَ: قَالَ لي رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((إِذَا أَتَيْتَ مَضْجِعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءكَ للصَّلاةِ، ثُمَّ اضْطَجعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيمَنِ، وَقُلْ… وذَكَرَ نَحْوَهُ ثُمَّ قَالَ: وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ)).
في هذا الحديث: فضل الاستسلام، والتفويض، والالتجاء إلى الله عزَّ وجلّ.

80. Ketujuh: Dari Abu ‘Umarah, yaitu Albara’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Hai Fulan, jikalau engkau bertempat di tempat tidurmu – maksudnya jikalau hendak tidur – maka katakanlah – doa yang artinya:

“Ya Allah, saya menyerahkan diriku padaMu, saya menghadapkan mukaku padaMu, saya menyerahkan urusanku padaMu, saya menempatkan punggungku padaMu, karena loba akan pahalaMu dan takut siksaMu, tiada tempat bersembunyi dan tiada pula tempat keselamatan kecuali kepadaMu. Saya beriman kepada kitab yang Engkau turunkan serta kepada Nabi yang Engkau rasulkan.

Sesungguhnya engkau – hai Fulan, jikalau engkau mati pada malam harimu itu, maka engkau akan mati menetapi kefithrahan – agama Islam -dan jikalau engkau masih dapat berpagi-pagi, – masih tetap hidup sampai pagi harinya, maka engkau dapat memperoleh kebaikan.” (Muttafaq ‘alaih)

Disebutkan pula dalam kedua kitab shahih – Bukhari dan Muslim, dari Albara’, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda kepada-ku: “Jikalau engkau mendatangi tempat pembaringanmu – maksudnya hendak tidur, maka berwudhu’lah sebagaimana berwudhu’mu untuk bersembahyang, kemudian berbaringlah atas lambung kananmu, kemudian ucapkanlah…….” Lalu diuraikannya sebagaimana yang tertera di atas, selanjutnya pada penutupnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jadikanlah ucapan tersebut di atas itu sebagai penghabisan sesuatu yang engkau ucapkan – maksudnya sehabis berdoa di atas, jangan lagi berkata yang lain-lain.”

Hadith ke-81

«81» الثامِنُ: عن أبي بكرٍ الصِّديق رضي الله عنه عبدِ اللهِ بنِ عثمان بنِ عامرِ بنِ عمر ابنِ كعب بنِ سعدِ بن تَيْم بنِ مرة بن كعبِ بن لُؤَيِّ بن غالب القرشي التيمي رضي الله عنه وَهُوَ وَأَبُوهُ وَأُمُّهُ صَحَابَةٌ رضي الله عنهم قَالَ: نَظَرتُ إِلَى أَقْدَامِ المُشْرِكينَ وَنَحنُ في الغَارِ وَهُمْ عَلَى رُؤُوسِنا، فقلتُ: يَا رسولَ الله، لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيهِ لأَبْصَرَنَا. فَقَالَ: ((مَا ظَنُّكَ يَا أَبا بَكرٍ باثنَيْنِ الله ثَالِثُهُمَا)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
في هذا الحديث: تنبيه على أنَّ من توكَّل على الله كفاه، ونصره، وأعانه، وكلأه وحفظه.

81. Kedelapan: Dari Abu Bakar ash-Shiddiq, yaitu Abdullah bin Usman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalibal-Qurasyi at-Taimi r.a., ia dan ayahnya, juga ibunya semuanya adalah termasuk golongan para sahabat radhiallahu ‘anhum, katanya: “Saya melihat pada kaki kaum musyrikin sedang kita berada dalam guha dan orang-orang tersebut tepat di atas kepala kita, lalu saya berkata: “Ya Rasulullah, andaikata seorang dari mereka itu melihat ke bawah kakinya, pasti mereka akan dapat melihat tempat kita ini.” Beliau s.a.w. lalu bersabda:

“Apakah yang engkau sangka itu, hai Abu Bakar bahwa kita ini hanya berdua saja. Allah adalah yang ketiga dari kita ini – maksudnya senantiasa melindungi kita.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadith ke-82

«82» التاسع: عن أم المُؤمنينَ أمِّ سَلَمَةَ وَاسمها هِنْدُ بنتُ أَبي أميةَ حذيفةَ المخزومية رضي الله عنها: أنَّ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيتِهِ، قَالَ: ((بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلتُ عَلَى اللهِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أعُوذُ بِكَ أنْ أضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ)) حديثٌ صحيح، رواه أبو داود والترمذي وغيرهما بأسانيد صحيحةٍ. قَالَ الترمذي: (حديث حسن صحيح). وهذا لفظ أبي داود.

82.  Kesembilan: Dari Ummul Mu’minin Ummu Salamah dan namanya sendiri adalah Hindun binti Abu Umayyahyaitu Hudzaifah al-Makhzumiyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. itu apabila keluar dari rumahnya, bersabda – yang ertinya:

“Dengan menyebut nama Allah, saya bertawakkal kepada Allah.”

“Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu kalau-kalau saya sampai tersesat atau disesatkan, tergelincir – dari kebenaran – atau digelincirkan, menganiaya atau dianiaya, menjadi bodoh – tidak mengerti sesuatu – ataupun dianggap bodoh oleh orang lain atas diriku.”

Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Termidzi dan lain-lainnya dengan sanad-sanad yang shahih. Termidzi berkata bahawa ini adalah Hadis hasan shahih. Hadis di atas adalah menurut lafaznya Imam Abu Dawud.

Hadith ke-83

«83» العاشر: عن أنس رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ قَالَ- يَعْني: إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيتِهِ: بِسمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلا حَولَ وَلا قُوَّةَ إلا باللهِ، يُقالُ لَهُ: هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ، وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيطَانُ)). رواه أبو داود والترمذي والنسائي وغيرهم. وَقالَ الترمذي: (حديث حسن)، زاد أبو داود: ((فيقول- يعني: الشيطان– لِشيطان آخر: كَيفَ لَكَ بِرجلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟)).
معنى ((لا حول ولا قوَّة إلا بالله))، أي: لا حول عن المعاصي إلا بعصمة الله. ولا قوَّة على الطاعات إلا بالله.
ورُوي عن ابن مسعود قال: كنت عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلتها. فقال: ((تدري ما تفسيرها؟))، قلت: الله ورسوله أعلم. قال: ((لا حول عن معصية الله، ولا قوَّة على طاعة الله إلا بمعونة الله)). أخرجه البزّار.
قال بعض العلماء: ولعل تخصيصه بالطاعة والمعصية؛ لأنهما أمران مهمان في الدين.

83. Kesepuluh: Dari Anas r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barangsiapa yang mengucapkan, yakni ketika keluar dari rumahnya: Bismillah, tawakkaltu ‘alallah wala haula wala quwwata illabitlah – ertinya: Dengan menyebut nama Allah, saya bertawakkal kepada Allah dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah, maka kepada orang itu dikatakanlah: “Engkau telah diberi petunjuk, telah pula dicukupi keperluanmu, jika telah diberi penjagaan. Syaitanpun menyingkirlah dari orang tersebut.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i serta lain-lainnya. Tirmidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan. Abu Dawud menambahkan lalu berkata: “Bahawa syaitan yang satu berkata kepada syaitan lainnya: “Bagaimana engkau dapat menggoda orang yang telah diberi petunjuk telah dicukupi dan telah pula diberi penjagaan.”

Hadith ke-84

«84» وعن أنس رضي الله عنه قَالَ: كَانَ أَخَوانِ عَلَى عهد النَّبيّ صلى الله عليه وسلم وَكَانَ أحَدُهُمَا يَأتِي النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم وَالآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا المُحْتَرِفُ أخَاهُ للنبي صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: ((لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ)). رواه الترمذي بإسناد صحيحٍ عَلَى شرطِ مسلم.
((يحترِف)): يكتسب ويتسبب.
في الحديث: تنبيهٌ على أنَّ من انقطع إلى الله كفاه مهماته.
وأنَّ العبدَ يُرزق بغيره، كما في الحديث الآخر: ((وهل ترزقون- أو قال: تنصرون- إلا بضعفائكم)).

84. Kesebelas: Dari Anas r.a., katanya: “Ada dua orang bersaudara pada zaman Nabi s.a.w. salah seorang dari keduanya itu datang kepada Nabi s.a.w., yang lainnya lagi bekerja. Orang yang bekerja ini mengadu kepada Nabi s.a.w. mengenai saudaranya -yang menganggur itu – lalu beliau s.a.w. bersabda:

“Barangkali engkau diberi rezeki – oleh Allah – itu adalah dengan sebab adanya saudaramu – yang engkau beri pertolongan makan dan lain-lain itu.”

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan isnad shahih atas syarat Muslim.

Popular

Iklan

Iklan