Utama Bilik (04) Rahiqum Makhtum Peristiwa Tahun Pertama Hijrah

Peristiwa Tahun Pertama Hijrah

2135
0

Peristiwa Tahun Pertama Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah

Pembinaan Masjid Nabawi

“Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits, dari Abu At Tayyah, dari Anas bin Malik berkata,

“”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah lalu singgah di perkampungan bani ‘Amru bin ‘Auf, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di sana selama empat belas malam. Kemudian beliau mengutus seseorang menemui bani Najjar, maka mereka pun datang dengan pedang di badan mereka. Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas tunggangannya sedangkan Abu Bakar membonceng di belakangnya dan para pembesar bani Najjar berada di sekelilingnya hingga sampai di sumur milik Abu Ayyub. Beliau suka segera shalat saat waktu shalat sudah masuk, maka beliau pun shalat di kandang kambing.

Kemudian beliau memerintahkan untuk membangun masjid, beliau mengutus seseorang menemui pembesar bani Najjar.

Utusan itu menyampaikan: “”Wahai bani Najjar, sebutkan berapa harga kebun kalian ini?””

Mereka menjawab, “”Tidak, demi Allah. Kami tidak akan menjualnya kecuali kepada Allah!””

Anas berkata, “”Aku beritahu kepada kalian bahwa pada kebun itu banyak terdapat kuburan orang-orang musyrik, juga ada sisa-sisa reruntuhan rumah dan pohon-pohon kurma.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membongkar kuburan-kuburan tersebut, reruntuhan rumah diratakan dan pohon-pohon kurma ditumbangkan lalu dipindahkan di depan arah kiblat masjid.

Maka lalu membuat pintu masjid dari pohon dan mengangkut batu bata sambil menyanyikan nasyid. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ikut bekerja pula bersama mereka sambil mengucapkan: “”Ya Allah. Tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.”[Hadis diatas Riwayat Al Bukhari dalam Sahihnya]

Nasyid atau qasidah yang dinyanyikan sewaktu pembinaan masjid Nabawi ada beberapa riwayat As Samhudi ada menyebut dalam kitab beliau.

Bani Najjar ianya sangat rapat dengan Rasulallah SAW kerana isteri kepada Hashim yakni Moyang Rasulllah SAW bernama Salma bint Amru An Najariyyah Al Khazrajiyyah. Berkenaan dengan nasab sebelah perempuan Bani Hashim dan Quraish ada satu cerita berkenaan dengan pertemuan İbn İshak rah sohibu Sirah İbn İshak dengan Al İmam As Shafie yang disebut dalam Tabaqat Shafi’iyyah.

Suatu masa İbn İshak telah bertemu dengan Al İmam As Shafie lalu İbn İshak telah menyebut satu topik perbualan dengan Ansaab Quraish (Geneology / Susur galur keturunan Quraish). Beliau telah menyebut setiap susur galur Quraish dari Rasulallah hingga Adnan ..

Al İmam As Shafie kata ini biasa kita sebut, lalu beliau telah menyebutkan susur galur setiap wanita (isteri) dalam susur galur Rasulallah SAW, termasuklah moyang Rasulallah SAW dari suku An Najjariyyah yang mana menyebabkan İbn İshak berkata rupanya kamu lebih alim tentang Ansab dari aku.

Untuk pengetahuan semua dimasa itu İbn İshak adalah yang paling bijak dalam urusan ini, sehingga semua Ahli Madinah pernah merujuk nasab dari İbn İshak. Pergaduhan İbn İshak dan İmam Malik juga masyhur di akibatkan isu nasab ini.

Sumber pendapatan dan ekonomi di Madinah

Setelah Masjid Nabawi dibangunkan antara yang menjadi isu adalah kaedah hendak memanggil orang bersolat berjemaah.

“Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi’, bahwa Ibnu ‘Umar berkata,

“”Ketika Kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk shalat dengan cara memperkirakan waktunya, dan tidak ada panggilan untuk pelaksanaan shalat. Suatu hari mereka memperbincangkan masalah tersebut, di antara mereka ada yang mengusulkan loceng seperti locengnya Kaum Nashrani dan sebahagian lain mengusulkan untuk meniup terompet sebagaimana Kaum Yahudi.

Maka ‘Umar pun berkata, “”Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk mengumandangkan panggilan shalat?”” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “”Wahai Bilal, bangkit dan serukanlah panggilan shalat.” [Hadis Riwayat Al Bukhari dalam Sahihnya]

Berkenaan dengan rumah rumah sahabat telah dipersaudarakan Ansar dan Muhajirin,maka hak hak saudara keatas saudaranya yang lain adalah menunaikan keperluan/hajatnya dari perkara asas tempat tinggal, makanan dan pakaian

Di Madinah pendapatan kebanyakan dari peperangan kan ustaz?

Pada umumnya Ya, Ghanimah. tetapi penduduk Madinah juga terdiri dari pemilik kebun kurma dan penternak bahkan sebahagian mereka adalah pedagang terutama Arab Bani Quraizah yang telah belajar dari Yahudi.

Untuk memudahkan gambaran adalah penduduk Mekah seperti mereka yang tinggal di pusat tumpuan dan komersil seperti KLCC dan sekitarnya dan Madinah ini ibarat kawasan kebun seperti yang berjarak 500 km lebih seperti di kawasan ladang di utara, pantai timur atau selatan.

Penduduk di Madinah duduk di kawasan rata antara bukit bukit, dari segi geologi bukit bukit di Madinah adalah plateu daripada gegaran letusan gunung berapi..

Benarkah kaum Ansar menyerahkan isteri mereka untuk dikahwini oleh Muhajin? Ya, mereka berniat untuk serahkan isteri mereka, yakni salah seorang dari isteri isteri mereka.

Apakah hikmah penyerahan isteri ini, golongan anti Islam menganggap ia penghinaan pada wanita? Inilah tanda kesungguhan dan kesediaan membantu.

Lagi catatan pada tahun 1 Hijrah

Islamnya ulama Yahudi Abdullah bin Salam

“Telah menceritakan kepadaku Muhammad, telah menceritakan kepada kami ‘Abdush Shamad, telah menceritakan kepada kami bapakku, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik, radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah dengan membonceng Abu Bakar.

Abu Bakar adalah seorang yang sudah tua dan dikenali, sedangkan Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam masih muda dan belum dikenal.

Anas Radiallahu ‘anhu berkata; Maka datanglah seorang laki-laki kepada Abu Bakar seraya berkata; “”Wahai Abu Bakar, siapakah laki-laki yang di hadapanmu ini?””.

Abu Bakar menjawab; “”Dialah orang yang telah menunjukkan jalan kepadaku””. Orang itu menduga bahwa yang dimaksud Abu Bakar adalah penunjuk jalan yang dilalui. Padahal yang sebenarnya adalah jalan kebaikan (Islam).

Kemudian Abu Bakar menoleh, tiba-tiba ada seorang penunggang kuda yang menyusul mereka. Abu Bakar berkata; “”Wahai Rasulullah, ada seorang penunggang kuda yang menyusul kita””.

Maka Nabi Allah menoleh lalu bersabda: “”Ya Allah, sungkurkanlah ia ke tanah””. Maka orang itu dipelantingkan kudanya. Lalu kuda itu berdiri sambil meringkik. Laki-laki itu berkata; “”Wahai Nabi Allah, perintahkanlah aku apa saja yang engkau inginkan””.

Beliau berkata; “”Tetaplah kamu di tempatmu sekarang, dan jangan biarkan ada seorangpun yang menyusul kami””.

Anas Radiallahu ‘anhu berkata; Maka laki-laki itu berjuang di awal hari untuk melindungi Nabi Allah dan pada akhir hari dia menjadi tameng bagi beliau””.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam singgah di samping harrah, lalu mengirim utusan kepada kaum Anshar. Ketika Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba, ‘Abdullah bin Salam pun tiba, dia bertanya; “”Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah dan engkau datang dengan membawa kebenaran. Sungguh orang-orang Yahudi telah mengetahui bahwa aku adalah pemimpin mereka dan putra dari pemimpin mereka, orang ‘alim mereka dan putra dari orang ‘alim mereka. Panggilah mereka dan tanyalah kepada mereka tentang aku sebelum mereka mengetahui bahwa aku telah masuk Islam. Karena, bila mengetahui aku telah masuk Islam, mereka akan mengatakan kedustaan tentang aku yang tidak ada padaku””.

Maka Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus utusan kepada mereka, mereka pun datang dan menemui beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada mereka: “”Wahai sekalian kaum Yahudi, kecelakaan buat kalian. Takutlah kepada Allah. Demi Allah, yang tiada ilah yang berhak disembah melainkan Dia, sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah Rasul Allah yang benar dan aku datang kepada kalian dengan membawa kebenaran. Maka masuklah kalian kepada Islam””.

Mereka berkata; “”Kami tidak mengetahuinya””. Mereka mengatakannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak tiga kali. Beliau bertanya; “”Siapakah ‘Abdullah bin Salam itu di kalangan kalian?””. Mereka menjawab; “”Oh, dia adalah pemimpin kami dan putra dari pemimpin kami, orang ‘alim kami dan putra dari orang ‘alim kami””.

Beliau bertanya: “”Bagaimana pendapat kalian seandainya dia telah masuk Islam””. Mereka berkata; “”Maha suci Allah. Dia tidak akan mungkin masuk Islam””.

Beliau bertanya lagi: “”Bagaimana pendapat kalian seandainya dia telah masuk Islam””. Mereka kembali berkata; “”Maha suci Allah. Dia tidak akan mungkin masuk Islam””. Beliau kembali bertanya lagi: “”Bagaimana pendapat kalian seandainya dia benar-benar telah masuk Islam””. Mereka tetap berkata; “”Maha suci Allah. Dia tidak akan mungkin masuk Islam””. Beliau berkata: “”Wahai Ibnu Salam, keluarlah temui mereka””. Maka ‘Abdullah bin Salam keluar seraya berkata; “”Wahai, orang-orang Yahudi, takutlah kalian kepada Allah. Demi Allah, yang tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Dia. Sungguh kalian telah mengetahui bahwa dia adalah Rasul Allah dan dia datang dengan membawa kebenaran””.

Maka mereka berkata; “”Kamu dusta””. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusir mereka keluar.” [dalam satu hadis Riwayat Al Bukhari dalam Sahihnya]

Mengenai kedegilan yahudi Bani Israil ada lebih 300 ayat dalam Al Qur’an. Sejarah kalendar Yahudi yang bermula kiraannya 1 tahun setelah kejadian di bumi juga menunjukkan kedegilannya.

Ibadah Puasa

Tahun pertama ini juga sahabat-sahabat nak berpuasa sebab tengok Yahudi berpuasa Asyura’.

Amal ibadat Yahudi Madinah, menguji ketinggian iman mereka yang mahukan amalan amalan..

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah, dari Malik, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata:

“”Orang-orang Quraisy pada masa Jahiliyah melaksanakan puasa hari ‘Asyura’ dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakannya.

Ketika Beliau sudah tinggal di Madinah beliau tetap melaksanakannya dan memerintahkan orang-orang untuk melaksanakannya pula. Setelah diwajibkan puasa Ramadhan beliau meninggalkannya. Maka siapa yang mau silakan berpuasa dan siapa yang tidak mau silakan meninggalkannya””. ”

Yahudi juga berpuasa.

“Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits, telah menceritakan kepada kami Ayyub, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Sa’id bin Jubair, dari bapaknya, dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata: “”Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah sampai dan tinggal di Madinah, Beliau melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari ‘Asyura’ lalu Beliau bertanya: “”Kenapa kalian mengerjakan ini?”” Mereka menjawab: “”Ini adalah hari kemenangan, hari ketika Allah menyelamatkan Bani Isra’il dari musuh mereka lalu Nabi Musa Alaihissalam menjadikannya sebagai hari berpuasa””.

Maka Beliau bersabda: “”Aku lebih berhak dari kalian terhadap Musa””. Lalu Beliau memerintahkan untuk berpuasa. ”

İbn Abbas baru berumur 4 tahun ketika ini dan Aisyah berumur 8 tahun..

Rasulullah SAW mengajar Solat 5 Waktu

Hannad bin As Sari menceritakan kepada kami, Abdur Rahman bin Abiz Zinad menceritakan kepada kami dari Abdur Rahman bin Ayyasy bin Abi Rabi’ah dari Hakim bin Hakim, dia adalah Ibnu Abbad bin Hunaif, Nafi’ bin Jubair bin Muth’im memberitakan kepada kami, ia berkata:

“Ibnu Abbas memberitahukan kepada kami bahawasanya Nabi saw bersabda:

“Jibril as mengimami aku di Baitullah dua kali. Pada yang pertama, ia solat Zuhur ketika bayang-bayang seperti pasangan sandal.

Kemudian ia solat Asar ketika setiap sesuatu seperti bayangannya (bayang-bayang sesuatu sepanjang bendanya).

Kemudian ia solat Maghrib ketika matahari berbenam dan orang yang berpuasa itu berbuka. Kemudian ia solat Subuh ketika terbit fajar dan makanan haram atas orang yang berpuasa. Dan pada kali yang kedua, ia solat Zuhur ketika bayangan setiap sesuatu seperti sesuatu itu, untuk waktu Asar kemarin.

Kemudian ia solat Asar ketika bayangan setiap sesuatu itu seperti lipat dua kalinya. Kemudian ia solat Maghrib pada waktunya yang pertama. Kemudian ia solat Isyak yang akhir (Isyak yang pertama adalah Maghrib = pent.) ketika telah berlalu sepertiga malam. Kemudian ia solat Subuh ketika bumi terang. Kemudian ia berpaling (menoleh) kepada ku dan berkata: “Hai Muhammad, ini adalah waktu para Nabi sebelummu, dan waktu yang ada di antara dua waktu ini.” Abu Isa berkata: ” [Hadis Sunan At-Termizi Jilid 1. Hadis Nombor 0149]

Di dalam bab ini terdapat hadis dari Abu Hurairah, Buraidah, Abu Musa, Abu Mas’ud Al Anshari, Abu Sa’id, Jabir, Amr bin Hazm, Al Bara’ dan Anas.”

Bagaimana nabi ajar sahabat tentang waktu solat ? sama seperti Jibril AS mengajar baginda SAW

Ahmad bin Mani’, Al Hasan bin Shabbah Al Bazzar dan Ahmad bin Muhammad bin Musa, satu makna. Mereka berkata: “Ishaq bin Yusuf Al Azraq dari Sufyan Ats Tsauri dari Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya berkata:

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw lalu ia bertanya kepada beliau tentang waktu-waktu solat lalu beliau bersabda: “Dirikanlah bersama kami insya Allah”.

Lalu beliau memerintah bilal maka beliau iqamah ketika terbit fajar. Kemudian beliau memerintahkannya lalu ia iqamah ketika tergelincir matahari beliau solat Zuhur. Kemudian beliau memerintahkan lalu ia iqamah lalu beliau solat Asar sedangkan matahari itu putih dan tinggi. Kemudian beliau memerintahkannya untuk solat Maghrib ketika sinar matahari itu jatuh (terbenam). Kemudian beliau memerintahkannya untuk solat Ishak lalu iqamah ketika mega itu hilang.

Kemudian keesokannya beliau memerintahkannya maka (bumi) terang kerana fajar. Kemudian beliau memerintahkannya untuk solat Zuhur lalu beliau mencari waktu yang dingin dan lebih nikmat untuk waktu dingin.

Kemudian beliau memerintahkannya untuk solat Asar lalu ia iqamah sedangkan matahari akhir waktunya adalah apa yang ada. Kemudian beliau memerintahkannya Lalu beliau mengakhirkan Maghrib sampai menjelang mega itu hilang.

Kemudian beliau memerintahkannya untuk solat Isyak lalu beliau mendirikan ketika hilang (lewat) sepertiga malam. Kemudian beliau bersabda: “Di manakah yang bertanya tentang waktu-waktu solat’?” maka laki-laki berkata: “Saya”. Maka beliau bersabda: “Waktu-waktu solat adalah sebagaimana antara dua ini.” Abu Isa berkata: “Ini adalah hadis hasan gharib sahih.” Ia berkata: “Shu’bah meriwayatkannya dari Alqamah bin Martsad juga.” [Hadis Sunan At-Termizi Jilid 1. Hadis Nombor 0152]

Kemungkinan besar hadis ini diawal awal Rasulallah SAW di Madinah. Diajar waktu masuk solat dan waktu takhirnya solat..

Pernikahan Rasulullah SAW dengan Aishah RA

“Telah menceritakan kepadaku Farwah bin Abu Al Maghra’, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir, dari Hisyam, dari bapaknya, dari ‘Aisyah, radliallahu ‘anha berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku saat aku berusia enam tahun, lalu kami tiba di Madinah dan singgah di kampung Bani Al harits bin Khazraj. Kemudian aku menderita demam hingga rambutku menjadi rontok. Setelah sembuh, rambutku tumbuh lebat sehingga melebihi bahu.

Kemudian ibuku, Ummu Ruman datang menemuiku saat aku sedang berada dalam ayunan bersama teman-temanku. Ibuku berteriak memanggilku lalu aku datangi sementara aku tidak mengerti apa yang diinginkannya. Ibuku menggandeng tanganku lalu membawaku hingga sampai di depan pintu rumah. Aku masih dalam keadaan terengah-engah hingga aku menenangkan diri sendiri.

Kemudian ibuku mengambil air lalu membasuhkannya ke muka dan kepalaku lalu dia memasukkan aku ke dalam rumah itu yang ternyata didalamnya ada para wanita Anshar. Mereka berkata; “”Mudah-mudahan memperoleh kebaikan dan keberkahan dan dan mudah-mudahan mendapat nasib yang terbaik””.

Lalu ibuku menyerahkan aku kepada mereka. Mereka merapikan penampilanku. Dan tidak ada yang membuatku terkejut melainkan keceriaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya mereka menyerahkan aku kepada beliau dimana saat itu usiaku sembilan tahun””[Riwayat Al Bukhari dalam Sahihnya]

Insan İnsan yang selalu bersama dengan Rasulallah SAW pada Tahun Pertama Hijrah

“Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ghundar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dia berkata; saya mendengar Qatadah, dari Anas, dari Ummu Sulaim bahwa dia berkata;

“Wahai Rasulullah, do’akanlah pelayanmu yaitu Anas!.”” Beliau lalu mengucapkan: ‘Ya Allah, kurniailah dia harta dan anak yang banyak dan berkahilah terhadap apa yang telah Engkau berikan kepadanya.’ Dan dari Hisyam bin Zaid, saya mendengar Anas bin Malik, seperti itu.”

Ayah tiri Anas bin Malik, Abu Talhah menghantara Anas ketika beliau berusia 10 tahun untuk berkhidmat kepada Rasulallah SAW. İbu Anas adalah Ummu Sulaym An Najjariyyah Al Khazrajjiyyah.

Anas bin Malik antara perawi hadis yang ke 3 banyak bilangan riwayatnya, dan hadisnya banyak berkisar hadis-hadis sekitar Madinah dan amalan peribadi Rasulallah SAW.

Usamah bin Zaid, Abdullah bin Abbas, İbn Umar dan beberapa lagi kanak-kanak, antara kanak kanak yang selalu melazimi Rasulallah SAW.

#RahiqulMakhtum#HijrahMadinah#ustazazrilismail

 

Komen dan Soalan