Utama Bilik (05) Fiqhud Dalil Hadits-Hadits Palsu Keutamaan Menamakan Bayi Dengan Muhammad

Hadits-Hadits Palsu Keutamaan Menamakan Bayi Dengan Muhammad

234
0
little child baby smiling lying under thr towel

Assalamualaikum. Soalan: Adakah menjadi sunnah memberi nama anak lelaki bermula dengan MUHAMMAD.

Jawapan Oleh Ustaz Adli Khalim:

Memberi nama Muhammad kepada anak lelaki bukanlah suatu sunnah yang dianjurkan, namun amalan ini dibolehkan. Cuma biasanya orang `Arab kebanyakan nama anak mereka hanya 1 patah perkataan. Contohnya:

  • Imam Asy-Syafi`i: Muhammad bin Idris
  • Imam Al-Bukhari: Muhammad bin Isma`il
  • Imam At-Tirmidzi: Muhammad bin `Isa

Untuk lebih faham, sila baca petikan artikel di bawah, dan kalau ada waktu sila klik link yang saya sertakan. Wallahu a`lam.

 


 

NAMA-NAMA YANG DISUNNAHKAN UNTUK DIBERIKAN KEPADA BAYI

3. Bernama dengan nama para nabi dan rasul. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akhlak yang paling mulia dan memiliki amalan yang paling bersih. Diharapkan dengan memberi nama seorang anak dengan nama nabi ataupun rasul dapat mengenang mereka juga karakter dan perjuangan mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga pernah menamakan anaknya dengan nama Ibrahim, nama ini juga beliau berikan kepada anak sulung Abu Musa radhiallahu ‘anhu dan beliau juga menamakan anak Abdullah bin Salaam dengan nama Yusuf.

Adapun hadits tentang keutamaan orang yang bernama Ahmad atau Muhammad tidak ada yang shahih. Ibnu Bukair al-Baghdadi menyusun sebuah kitab tentang keutamaan orang yang bernama Ahmad atau Muhammad, dan pada kitab tersebut beliau menyertakan 26 hadits yang tidak shahih. Wallahu a’lam.

Sumber

 


 

 

ADAKAH KEUTAMAAN KHUSUS ORANG YANG BERNAMA MUHAMMAD?

Terdapat beberapa hadist yang tidak shahih bahkan maudhu’ (palsu) yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai keutamaan bagi mereka yang bernama dengan nama “Muhammad”. Bahkan sebagian hadits tersebut memberikan ancaman bagi orang yang tidak mahu memberikan nama anak mereka dengan nama “Muhammad”.

Misalnya hadits palsu berikut:

مَنْ وُلِدَ لَهُ أَرْبَعَةُ أَوْلادٍ ، فَلَمْ يُسَمِّ أَحَدَهُمْ مُحَمَّدًا لَمْ يَدْخُلْ حُبُّ مُحَمَّدٍ قَلْبَهُ

“Barang siapa yang mempunya empat orang anak kemudian tidak memberikan nama salah seorang dari mereka dengan nama ‘Muhammad’, maka tidak masuk rasa kecintaan kepada (nabi) Muhammad dalam hatinya.”

Kemudian hadits palsu berikut:

من ولد له مولود فسماه محمداً تبرّكّا به كان هو ومولودُهُ في الجنة

“Barang siapa yang mempunyai anak kemudian diberi nama ‘Muhammad’ dalam rangka mencari keberkahan, maka dia dan anaknya akan berada di surga”

Hadits di atas di nilai palsu oleh banyak ulama seperti Imam Adz-Zahabi dalam Talkhis kitab Al-Maudhu’aat, Ibnul Qayyim dalam Al-Manarul Munif , syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ad-Dha’ifah dan ulama lainnya. Bahkan hadits -hadits yang menceritakan tentang keutamaan bernama dengan “Muhammad” tidak shahih semuanya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

هذا الحديث مكذوب ، وموضوع على الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ، وليس لذلك أصل في السنة المطهرة ، فكل ما جاء في هذا من الأخبار لا أساس لها من الصحة ، فالاعتبار بإتباع محمد ، وليس باسمه ـ صلى الله عليه وسلم ، فكم ممن سمي محمداً وهو خبيث ؛ لأنه لم يتبع محمدا ولم ينقد لشريعته ، فالأسماء لا تطهر الناس ، وإنما تطهرهم أعمالهم الصالحة ، وتقواهم لله ـ جل وعل ـ

“Ini adalah hadits dusta dan palsu, bukan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukanlah termasuk sunnah yang suci. Semua hadits-hadits mengenai hal ini (keutamaan bernama dengan ‘Muhammad’) tidak ada dasarnya untuk dikatakan shahih. Yang menjadi patokan/kepentingan adalah mengikuti ajaran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan mengikuti namanya. Betapa banyak orang yang bernama Muhammad akan tetapi kelakuannya tidak baik karena tidak mengikuti ajaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak patuh terhadap syariat. Nama tidak mensucikan orang, yang mensucikannya adalah amal shalih dan takwa kepada Allah.”[1]

Adapun hadits shahih Bukhari-Muslim berikut:

سَمُّوْا باسمي ولاتَكَنَّوْا بكنيتي، فإني أنا أبو القاسم

“Silakan memberi nama dengan namaku, namun jangan ber-kun-yah dengan kun-yah-ku. Kun-yah-ku adalah Abul Qasim” [2]

Ulama menunjukkan hanya kebolehannya saja karena setelahnya ada larangan agar tidak bernama dengan nama kun-yah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

Komen dan Soalan