Utama Blog Halaman 259

Siapakah Kaum Yang Muda Umur, Bodoh Akalnya

0

Doc. Tolong. Belum jumpa lagi hadis ni

“Akan muncul di akhir zaman suatu kaum yang muda umurnya (para pemuda) yang bodoh akalnya.”

(HR. Al-Bukhari)

Jawapan Ustaz Adli Khalim

إذا حدثتُكم عن رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ حديثًا، فواللهِ لأنْ أخِرَّ من السماءِ، أحبُّ إليَّ من أن أكذبَ عليهِ، وإذا حدثتُكم فيما بيني وبينكم، فإنَّ الحربَ خَدعةٌ، وإني سمعتُ رسولَ الله صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يقول : ( سيخرج قومٌ في آخرِ الزمانِ، أحداثُ الأسنانِ، سفهاءُ الأحلامِ، يقولون من خيرِ قولِ البريَّةِ، لا يجاوزُ إيمانُهم حناجرَهم، يمرُقون من الدينِ كما يمرقُ السهمُ من الرمِيَّةِ، فأينما لقِيتموهم فاقتلوهم، فإنَّ في قتلِهم أجرًا لمن قتلَهم يومَ القيامةِ ) .
الراوي : علي بن أبي طالب | المحدث : البخاري | المصدر : صحيح البخاري
الصفحة أو الرقم: 6930 | خلاصة حكم المحدث : [صحيح]

* Part yang ustaz cari tu dok kat tengah, dalam kurungan:

سيخرج قومٌ في آخرِ الزمانِ، أحداثُ الأسنانِ، سفهاءُ الأحلامِ

 

Soalan:

Nabi memberi isyarat tentang kumpulan akhir zaman kan? Apa nama firqah tu? Muktazilah, khawarij atau apa?

Jawapan Ustaz Ad-Dien

Firqah Qadariah, Khawarij, Murjiah ada disebutkan dalam hadith-hadith Nabi sama ada secara sarih mahupun isyarat.. penamaan nama-nama firqah yang awal kebanyakannya memang thabit daripada hadith sendiri.

Wallahua’lam.
Bahkan dalam beberapa diwayat..firqah ini memang dah wujud sebelum zaman Nabi Muhammad lagi yakni zaman Nabi-nabi terdahulu ada firqah ini. Jadi mustolah firaq ini ada yang telah wujud sejak zaman dulu lagi.

Sekadar berkongsi faedah.
Hadith sufaha’ al-Ahlam itu isyarat kepada firqah Khawarij, Ahli Nahrawan. Abu Daud dan Ibn Majah ada buat tabwib khas tentang firqah ni dalam sunan mereka. Wallahua’lam.

Artikel (Definisi Salafi) Yang Baik Untuk Dibaca.

1

Dikongsi Oleh Cikgu Rahim

 

Pertama: Definisi Manhaj

Manhaj menurut bahasa artinya jalan yang jelas dan terang. Allah Ta’ala berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Al-Maa-idah, QS 5: 48)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Maksudnya, jalan dan syari’at.” [1]

Sedang menurut istilah, manhaj ialah kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pembelajaran ilmiyyah, seperti kaidah-kaidah bahasa Arab, ushul ‘aqidah, ushul fiqih, dan ushul tafsir dimana dengan ilmu-ilmu ini pembelajaran dalam Islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur dan benar.[2]

Manhaj artinya jalan atau metode. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para Shahabat. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan hafizhahullah menjelaskan perbedaan antara ‘aqidah dan manhaj, beliau berkata, “Manhaj lebih umum daripada ‘aqidah. Manhaj diterapkan dalam ‘aqidah, suluk, akhlak, muamalah, dan dalam semua kehidupan seorang Muslim. Setiap langkah yang dilakukan seorang Muslim dikatakan manhaj. Adapun yang dimaksud dengan ‘aqidah adalah pokok iman, makna dua kalimat syahadat, dan konsekuensinya. Inilah ‘aqidah. [3]

 

Kedua: Definisi Salaf Menurut Bahasa

Salaf berasal dari kata salafa-yaslufu-salafan, artinya adalah: telah lalu. Kalimat yang berbunyi al-qaum as-sullaaf, artinya kaum yang terdahulu. Sedangkan kalimat salafur rajuli, artinya: bapak-bapak mereka yang terdahulu. Bentuk jamaknya adalah aslaaf dan sullaaf.

Di antaranya juga kata as-sulfah, artinya: makanan ringan yang dimakan sebelum sarapan. At-Tasliif, artinya pendahuluan, sedangkan as-saalif dan as-saliif, artinya: orang yang terdahulu. Dan kata sulaafah, artinya: segala sesuatu yang engkau peras ialah awalnya. [4]

Kata Salaf juga bermakna: seseorang yang telah mendahului (terdahulu) dalam ilmu, iman, keutamaan, dan kebaikan. Ibnu Manzhur rahimahullah mengatakan, “Salaf juga berarti orang yang mendahului anda, baik dari bapak maupun orang-orang terdekat (kerabat) yang lebih tua umurnya dan lebih utama. Karena generasi pertama dari umat ini dari kalangan para Tabi’in disebut sebagai as-Salafush Shalih.” [5]

Masuk juga dalam pengertian secara bahasa, yaitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anaknya, Fathimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha: “Sesungguhnya sebaik-baik Salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.” [HR. Muslim no. 2450 (98)]

 

Ketiga: Definisi Salaf Menurut Istilah

Adapun menurut istilah, Salaf adalah sifat yang khusus dimutlakkan kepada para Shahabat. Ketika disebutkan Salaf, maka yang dimaksud pertama kali adalah para Shahabat. Adapun selain mereka, ikut serta dalam makna Salaf ini, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka. Artinya, bila mereka mengikuti para Shahabat maka disebut Salafiyyin, yaitu orang-orang yang mengikuti Salafush Shalih.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah, QS 9: 100)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan generasi pertama umat ini adalah para Shahabat ridhwanullaahi ‘alaihim ajma’iin dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Mereka adalah orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka dijamin masuk Surga. Dan orang-orang setelah mereka, yang mengikuti mereka dengan baik dalam ‘aqidah, manhaj, dan lainnya, maka mereka pun akan mendapatkan ridha Allah dan akan masuk Surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath, QS 48: 29)

Dan yang dimaksud “orang-orang yang bersama dia”, adalah para Shahabat.
Para ulama lain dari berbagai firqah pun mengatakan dan mengakui bahwa yang dimaksud dengan Salaf adalah para Shahabat.

Imam Ghazali rahimahullah berkata ketika mendefinisikan kata Salaf, “Yang saya maksud adalah mazhab Shahabat dan Tabi’in.” [6]

Al-Baijuri rahimahullah berkata, “Maksud dari orang-orang terdahulu (Salaf) adalah orang-orang terdahulu dari kalangan para Nabi, para Shahabat, Tabi’in, dan pengikutnya.” [7]

Yang dimaksud dengan Salaf pertama kali adalah Shahabat karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan: “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).” [HR. Bukhari no. 2652, Muslim no. 2533 (212), dari Shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu].

Imam al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahihnya menyebutkan perkataan Rasyid bin Sa’ad rahimahullah: “Salaf itu suka kepada kuda jantan karena lebih cepat dan lebih berani.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani rahimahullah (wafat th. 852 H) berkata menjelaskan kata Salaf dari perkataan Rasyid bin Sa’ad di atas: “Maksudnya, dari kalangan para Shahabat dan orang-orang setelah mereka.” (Fathul Baari, VI/66).

Yang dimaksud adalah para Shahabat, karena Rasyid bin Sa’ad adalah seorang Tabi’in. Maka Salaf menurutnya adalah para Shahabat tanpa diragukan lagi.

Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah (wafat th. 181 H) berkata di hadapan para Tabi’in, “Tinggalkan hadits ‘Amr bin Tsabit, karena dia mencaci-maki Salaf.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqaddimahnya, hal. 16).

Salaf yang dimaksud adalah para Shahabat karena Ibnul Mubarak adalah seorang Tabi’in.

Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) seorang Imam Ahlus Sunnah dari Syam berkata: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih karena akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.” (Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, I/174 no. 315).

Berdasarkan keterangan di atas menjadi jelaslah bahwa kata Salaf mutlak ditujukan untuk para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semua. Maka barang siapa mengikuti mereka dalam agama yang haq ini, maka ia adalah generasi penerus dari sebaik-baik pendahulu yang mulia. (Lihat Usus Manhaj Salaf fii Da’wati ilallaah, hal. 24)

 

Keempat: Definisi Salaf Menurut Zaman

Adapun dari sisi zaman, kata Salaf digunakan untuk menunjukkan kepada sebaik-baik kurun, dan yang lebih patut dicontoh dan diikuti yaitu tiga kurun yang pertama (dalam Islam) yang diutamakan, yang disaksikan dan disifati dengan kebaikan melalui lisan sebaik-baik manusia yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi pembatasan secara waktu tidaklah mutlak tepat karena kita mengetahui bahwa beberapa sekte bid’ah dan sesat telah muncul pada masa-masa tersebut. Karena itulah, keberadaan seseorang pada masa itu (tiga kurun yang dimuliakan) tidaklah cukup untuk menghukumi bahwa dirinya berada di atas manhaj Salaf, selama dia tidak mengikuti Shahabat radhiyallahu ‘anhum dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itulah, para ulama memberikan batasan istilah as-Salaf ash-Shalih (pendahulu yang shalih).

Dengan demikian, ketika Salaf disebutkan maka hal itu tidak digunakan untuk menunjukkan kurun waktu yang terdahulu saja, tetapi digunakan untuk menunjukkan kepada para Shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kesimpulannya, istilah Salaf adalah istilah yang sah. Yaitu istilah yang dipakai untuk orang-orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya sebelum terjadi perselisihan dan perpecahan. (Bashaa-iru Dzawis Syaraf, hal. 21)

(Dikutip langsung dari kitab Mulia Dengan Manhaj Salaf, Pustaka At-Taqwa, cet. ke-2, karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah)

————————–——
[1] Tafsir Ibnu Katsir (III/129) tahqiq Sami bin Muhammad as-Salamah, cet. IV Daar Thayyibah, th. 1428 H.
[2] Lihat al-Mukhtasarul Hatsiits fii Bayaani Ushuuli Manhajis Salaf Ashhabil Hadiits (hal. 15)
[3] Al-Ajwibah al-Mufiidah ‘an As-ilati Manaahij Jadiidah (hal. 123) disusun oleh Jamal bin Furaihan al-Haritsi, cet. III Daarul Manhaj, th. 1424 H.
[4] Ash-Shihaah (IV/1377) karya Imam al-Jauhari rahimahullah. Lihat Usus Manhaj Salaf fii Da’wati ilallaah (hal. 21) karya Fawwaz bin Hulail bin Rabah as-Suhami.
[5] Lisaanul ‘Arab (VI/331).
[6] Iljamul Awaam ‘An ‘Ilmil Kalaam (hal. 62). Lihat Bashaa-iru Dzawisy Syaraf (hal. 19).
[7] Tuhfatul Muriid Syarah Jauharatut Tauhiid (hal. 231)

 

Kelima: Makna Salafiyyah

Adapun Salafiyyah, maka itu adalah nisbat kepada manhaj Salaf, dan ini adalah penisbatan yang baik kepada manhaj yang benar, dan bukan suatu bid’ah dari madzhab yang baru.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H) mengatakan: “Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan madzhab Salaf dan menisbatkan dirinya kepadanya, bahkan wajib menerima yang demikian itu darinya berdasarkan kesepakatan (para ulama) karena madzhab Salaf tidak lain kecuali kebenaran.” (Majmuu’ Fataawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, IV/149)

Beliau rahimahullah juga mengatakan: “Telah diketahui bahwa karakter ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) ialah meninggalkan atau tidak mengikuti generasi Salaf.” (Majmuu’ Fataawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, IV/155)

Istilah Salaf bukanlah istilah baru. Istilah tersebut sudah digunakan sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salaf tidaklah menunjuk kepada satu golongan tetapi menunjuk kepada orang-orang yang berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman yang benar. Karena umat ini sudah berpecah belah dan yang selamat pemahamannya hanya SATU.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya umat Islam akan berpecah belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam Neraka dan hanya satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.”
[Shahih. HR. Abu Dawud (no.4597), Ahmad (IV/102), al-Hakim (I/128), ad-Darimi (II/241), al-Aajurri dalam as-Asyari’ah, al-Lalikai dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/113 no. 150). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi dari Mu’awiyah bin Sufyan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa hadits ini shahih masyhur. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 203-204)]

Dalam riwayat lain disebutkan: “Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para Shahabatku berjalan di atasnya.”
[Hasan. HR. At-Tirmidzi (no. 2641) dan al-Hakim (I/129) dari Shahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahii al-Jaami’ish Shaghiir (no. 5343). Lihat Dar-ul Irtiyaab ‘an Hadiits maa Ana ‘alaihi wa Ash-haabi oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Darur Rayah, th. 1410 H]

Sebagian orang menyangka, dari apa yang mereka ketahui dan mereka menyelewengkan arti ketika disebutkan istilah Salafiyyah, bahwa Salafiyyah adalah label (istilah) baru dan madzhab baru bagi kelompok Islam yang baru melepaskan diri dari lingkaran Jama’ah Islamiyah yang utuh.

Sangkaan ini sama sekali tidak benar karena Salafiyyah maksudnya adalah Islam yang dibersihkan (disaring) dari kegagalan-kegagalan budaya klasik, dan warisan-warisan dari banyak kelompok dan sekte, dengan kesempurnaan dan keumumannya, baik dalam Al-Qur’an maupun as-Sunnah berdasarkan pemahaman Salaf yang terpuji.

Sangkaan ini sesungguhnya hanyalah muncul dari angan-angan kaum yang ingin menghindari kalimat yang baik dan berkah, yang akarnya menancap kuat dalam sejarah umat ini hingga sampai ke generasi pertama (Shahabat). Sampai-sampai mereka mengira bahwa kata Salafiyyah adalah hasil dari gerakan pembaharuan yang dibawa oleh Jamaluddin al-Afghani al-Irani (lahir th. 1254 H/1838 M, wafat th. 1314 H/1897 M) dan Muhammad ‘Abduh (lahir pada akhir th. 1265 H dan wafat th. 1323 H) pada masa penjajahan Inggris di Mesir??! [1]

Dan orang yang mengucapkan hal ini atau yang menyebarkannya adalah orang yang tidak mengetahui sejarah dari kata (istilah) Salaf yang sanadnya bersambung kepada generasi Salafush Shalih, baik dari sisi makna, akar kata, maupun waktu. Padahal ulama-ulama terdahulu mensifati setiap orang yang mengikuti pemahamannya Shahabat radhiyallahu ‘anhum dalam masalah ‘aqidah dan manhaj dengan istilah Salafi. (Lihat Bashaa-ir Dzawi Syarf, hal. 22-23)

Dari penjabaran makna Salafiyyah, baik dari sisi pengertian maupun penisbatan kepadanya, nampak jelaslah kesalahan para penulis dan pemikir yang menganggap penisbatan diri kepada Salafush Shalih, da’i-da’i yang menyeru kepadanya, bermanhaj dengan manhajnya, dan memperingatkan orang-orang yang menyelisihinya sebagai bagian dari firqah (kelompok) yang banyak meracuni umat Islam. Bahkan mereka menganggap bahwa mengingatkan umat dari manhaj yang menyimpang adalah penyebab perpecahan. (Lihat Usus Manhaj Salaf fii Da’wati ilallaah, hal. 29)

 

Keenam: Siapakah Salafi Itu?

Salafi ialah setiap orang yang berada di atas manhaj Salaf dalam aqidah, akhlak, dan dakwah.
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkali-kali menggunakan istilah Salafi dalam kitabnya, Siyar A’laamin Nubalaa’. Di antaranya beliau menyebutkan bahwa Imam ad-Daruquthni rahimahullah (wafat th. 385 H) adalah seorang Imam Ahlul Hadits yang ahli tentang ‘illat (penyakit-penyakit) dalam hadits, dan orang yang sangat benci kepada ilmu kalam. Beliau belum pernah mendalami ilmu kalam, juga tidak mendalami tentang debat bahkan dia seorang Salafi. ( Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’, XVI/457)

Demikian juga Imam Abu ‘Utsman ash-Shabuni rahimahullah (wafat th. 449 H) menggunakan istilah Salaf dalam kitabnya, ‘Aqiidatus Salaf Ashabul Hadiits.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah para Salaf sampai generasi akhir. Barang siapa yang berada di atas jalannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya maka dia adalah Salafi.” (Syarah al-’Aqidah al-Waasithiyyah, I/54)

Al-Lajnah ad-Da-imah yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah (wafay th. 1420 H) pernah ditanya: Apakah yang dimaksud dengan Salafiyyah dan bagaimana pendapat antum sekalian tentangnya?

Maka Lajnah menjawab: As-Salafiyyah adalah penisbatan kepada Salaf, sedangkan Salaf adalah para Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para imam pembawa petunjuk pada masa tiga kurun pertama -semoga Allah meridhai mereka- yang disaksikan dengan kebaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabda beliau:
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka Mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” [HR. Bukhari (no. 2652, 3651, 6429, 6658) dan Muslim no. 2533 (212)]
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, al-Bukhari dan Muslim.

Sedangkan Salafiyyun adalah bentuk jamak dari Salafi, sebuah nisbat kepada Salaf, dan maknanya telah dijelaskan.

Mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj Salaf dalam mengikuti Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, mendakwahkan keduanya, dan mengamalkan keduanya. Maka dengan hal itu mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Wabillaahit taufiq. [Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’ (II/242-243, fatwa no. 1361)]

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Salafiyyah artinya berjalan di atas manhaj Salaf, yaitu para Shahabat, Tabi’in, dan generasi-generasi yang diutamakan, dalam aqidah, pemahaman maupun tingkah laku, dan seorang Muslim wajib menempuh manhaj ini.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100)

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.” (Al Hasyr: 10)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Pegang erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” [Shahih. HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607), dan at-Tirmidzi (no. 2676). ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205), dan al-Hakim (I/95-96)]

(Dikutip langsung dari kitab Mulia Dengan Manhaj Salaf, Pustaka At-Taqwa cet. ke-2, karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah)

————————–————————
[1] Kedua orang ini adalah tokoh perintis gerakan Reformis dan Rasionalis modern dan juga aliran Inkarus Sunnah gaya baru. Jamaluddin al-Afghani al-Irani mempunyai hubungan kuat dengan Freemansonry (organisasi Yahudi) dan Muhammad Abduh sebagai muridnya menuhankan akal dan dia menolak dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan akalnya. Dia mengajak kepada kebebasan berpikir, melepaskan segala belenggu taklid, dan membentuk Jama’ah Taqriib (pendekatan) antara Sunny dan Syi’ah, dan banyak lagi yang lainnya. (Lihat al-’Ashraaniyyuun baina Mazaa’imit Tajdiid wa Mayaadinit Taqriib (hal. 34-41), karya Muhammad an-Nashiir.

 

Ketujuh: Antara Salafiyah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari hafizhahullah berkata, “Di sini juga perlu dijelaskan kaitan antara istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan Salafiyyah. Suatu hal yang perlu dicermati adalah perilaku sebagian da’i yang enggan menyebut dakwah mereka dengan dakwah Salafiyah, walaupun secara tegas mereka menyatakan bahwa aqidah mereka adalah aqidah Salafiyyah. Mereka hanya mempopulerkan dakwah mereka dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka sebut nama itu berulang-ulang dalam ceramah-ceramah maupun tulisan-tulisan mereka. Padahal sebutan Salafiyyah termasuk ketetapan Allah yang agung agar dakwah yang haq dapat dibedakan dengan dakwah-dakwah yang menyerupainya sehingga dakwah yang haq tidak tercampur dengan segala sesuatu yang menyerupainya.

Penjelasannya sebagai berikut: Bahwa istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah hanyalah muncul pada saat timbul bid’ah-bid’ah yang menyesatkan sebagian manusia, sehingga perlu adanya pembedaan jama’ah kaum Muslimin yaitu dengan berpegang teguh kepada Sunnah, maka mereka dikatakan Ahlus Sunnah sebagai lawan dari ahlul bid’ah. Dan mereka dikatakan al-Jama’ah karena mereka adalah ashl (sebagi pokok). Sedang orang-orang yang menyempal disebabkan hawa nafsu dan bid’ah adalah orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Adapun saat ini istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadi rebutan berbagai pihak dan jama’ah-jama’ah (kelompok-kelompok) yang sangat banyak. Sehingga kita dapat menyaksikan sendiri banyak dari kalangan hizbiyyin mensifatkan jama’ah dan undang-undang mereka dengan istilah ini, demikian pula sebagian tarekat-tarekat Shufiyah melakukan hal yang sama. Bahkan al-Asy’ariyyah, al-Maturidiyyah, al-Barlawiyyah dan selain mereka mengatakan, “Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” !!??

Anehnya mereka semua menolak menamakan diri mereka dengan Salafiyah! Dan mereka menjauhi untuk menisbatkan diri kepada manhaj Saalf, terlebih lagi dalam kenyataan, keyakinan, dan pengamalan mereka.

Sudah tidak asing lagi di kalangan para da’i yang menyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah bahwa syi’ar ahli bid’ah ialah: enggan menganut prinsip mengikuti Salaf. Kata ittiba’ maknanya tidak lain ialah mengikuti pemahaman Salaf, menjadi pemutus terhadap perselisihan berbagai pemahaman di antara umat manusia masa kini. Dan prinsip mengikuti Salaf menjadi sangat penting dan mendesak di saat sebagian orang memutuskan hukum dengan akalnya, sebagian lain memutuskan hukum dengan pengalamannya, sementara yang lain memutuskan hukum dengan amarahnya.

Pemahaman orang yang menyimpang itu sendiri tidak mengindahkan jalannya kaum mukminin (yaitu jalannya para Shahabat) yang wajib diikuti dan didakwahkan. Jalan orang-orang yang beriman pada hakikatnya ialah manhaj Salaful Ummah, yang kepadanya kita menisbatkan diri dan kepada cahayanya kita mencari petunjuk.

Karena itulah salah satu syi’ar Ahlus Sunnah wal Jama’ah ialah: mengikuti Salafush Shalih dan meninggalkan segala perkara yang bid’ah dan diada-adakan dalam agama. (Lihat al-Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, I/364, karya Imam Abul Qasim al-Ashbahani rahimahullah).

Maka barang siapa yang mengingkari penisbatan diri kepada Salaf dan mencelanya, maka perkataannya itu harus dibantah dan ditolak. Karena, “Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan madzhab Salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima yang demikian itu darinya berdasarkan kesepakatan (para ulama) karena madzhab Salaf tidak lain kecuali kebenaran.” (Majmu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, IV/149)

Khususnya pada masa sekarang ini di mana banyak orang yang mengaku berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang pada hakikat dan asalnya adalah salah satu sebutan dari Salafiyyah sehingga harus ada pembedaan dari orang-orang yang sekedar mengaku-ngaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pengakuan yang ternyata dibarengi dengan prinsip yang bertentangan dengan ajaran sunnah, baik dalam sisi aqidah maupun manhaj. Ditambah dengan sikap enggan menisbatkan diri terhadap manhaj Salaf, bahkan menganggapnya sebagai petaka untuk diakui secara terang-terangan, yang menisbatkan diri kepadanya dianggap tidak terhormat.

Klaim kelompok tersebut terakhir justru akan mengadili mereka sendiri, apakah sesuai ataukah berseberangan dengan manhaj Salaf dalam metodologi dakwah dan tujuan dakwah, baik sisi aqidah, fiqih, persepsi tentang Islam, dan dalam berperilaku.” (Ru’yah Waaqi’iyyah fil Manaahiji ad-Da’awiyyah, hal. 21-24, karya Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al-Halabi hafizhahullah).

Syaikh Ali hafizhahullah melanjutkan, “Hal ini semakin diperkuat bahwa Salafiyyah itu mencakup seluruh ajaran Islam (Al-Kitab dan As-Sunnah). Salafiyyah bukanlah salah satu sekte khusus yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, baik dengan menambah-nambah maupun mengurangi. Hal yang perlu diperhatikan ialah seandainya umat ini telah kembali berada di dalam bentuk Islam yang benar tanpa tercampur bid’ah dan hawa nafsu, sebagaimana terjadi di awal Islam terutama di masa Salafush Shalih, niscaya lenyaplah berbagai sebutan yang berfungsi untuk membedakan tersebut karena tidak ada lawannya.

Dengan alasan itulah ikatan wala’ dan bara’, sikap pembelaan dan permusuhan menurut orang-orang yang menisbatkan diri kepada Salaf ialah di atas Islam itu sendiri, tidak kepada yang lainnya. Tidak kepada sekte tertentu. Wala’ dan bara’ itu hanyalah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dari semua penjelasan tersebut, menjadi jelaslah bahwa makna Salafiyyah dan hakikat penyandaran diri kepada Salaf adalah sebuah nisbat kepada Salafush Shalih, yaitu seluruh Shahabat radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka bukanlah generasi setelah Shahabat yang diomabang-ambing hawa nafsu, yang memisahkan diri dari Salafush Shalih dengan sebutan atau ciri tertentu. Dari pengertian ini dengan sebab mereka menyalahi generasi Salaf berarti mereka disebut Khalaf, sedang nisbatnya adalah Khalafi.

Adapun orang-orang yang tetap di atas manhaj Nubuwah menisbatkan diri mereka kepada pendahulu mereka yang shalih, maka dikatakan kepada mereka: Salaf dan Salafiyyun dan orang yang menisbatkan diri kepada mereka disebut Salafi.

Salafiyyah merupakan penisbatan yang tidak memiliki ciri yang keluar dari tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan tidak pernah terpisah dari metode generasi pertama seujung jari pun. Bahkan Salafiyyah adalah bagian dari mereka dan merujuk kepada mereka.

Adapun orang yang menyelisihi Salafush Shalih dengan sebutan dan ciri tertentu maka tidak dianggap sebagai golongan mereka, meskipun mereka hidup di tengah-tengah Salafush Shalih dan di zaman mereka. Oleh karena itu, para Shahabat berlepas diri dari Khawarij, Qadariyyah, Murji’ah, dan selain mereka.

Jika demikian, maka dasar-dasar dan kaidah-kaidah untuk mengikuti Salafush Shalih harus nampak jelas dan kokoh. Dengan begitu tidak akan membingungkan orang-orang yang ingin mengikuti mereka. Harus ada pembeda antara Ahlus Sunnah dan para pengaku (orang yang mengaku-ngaku) Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dengan cara penyandaran syar’i yang tidak disukai kelompok yang sekedar mengaku Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Penyandaran ini akan membongkar penyimpangan dan cacat mereka, bila ditelusuri dan dibandingkan dengan jalan orang-orang yang beriman (yaitu Shahabat) dan manhaj Salafush Shalih.

Pembeda itu adalah Salafiyyah, sebuah jalan yang ditempuh Salafush Shalih, jalan yang jelas, meyakinkan, dan tidak perlu diragukan lagi. Yakni jalan para Shahabat dan Tabi’in. Itulah jalan petunjuk dan jalan untuk meraih petunjuk.

فَلا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَى

“Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa.” (Thaahaa: 16). (Ru’yah Waaqi’iyyah fil Manaahij ad-Da’awiyyah, hal. 26-27)

 

Kelapan: Periode Pembukuan Madzhab Salaf

Fitnah perkataan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk yang diyakini oleh Mu’tazilah dan lainnya merupakan sebab bangkitnya madzhab Salafi di hadapan berbagai madzhab yang sesat, khususnya Mu’tazilah yang telah mencapai tingkatan yang amat besar dalam kekuatan dan kedudukannya. Maka ulama Sunnah bangkit bguna membela kebenaran, meninggikan panjinya, serta memperingatkan umat dari firqah-firqah yang sesat tersebut. Para ulama pun bertambah giat sehingga panji-panji aqidah shahihah tinggi menjulang berkibar di setiap tempat dan tersingkirlah pemikiran i’tizaal (Mu’tazilah). Dan umat Islam menjadi waspada terhadapnya, maka pemikiran itu pun tetap terkekang di tempatnya dan tidak mampu bangkit setelah sebelumnya berdiri tegak serta tidak ada benderanya yang dikibarkan lagi, kecuali sangat sedikit sekali. Kemudian dimulailah periode yang baru dimana para ulama mencurahkan perhatian yang besar di dalamnya dengan membukukan dan menulis guna menjelaskan aqidah yang benar serta membantah siapa saja yang menyimpang darinya.

Tulisan -tulisan ini terbagi menjadi dua metode yang berbeda:

Pertama: Metode Bantahan
Maksudnya, memaparkan syubhat-syubhat musuh (lawan debat) lalu menjelaskan yang benar dengan ditopang dalil-dalil yang dinukil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan perkataan para Shahabat dan Tabi’in. Hal ini dijelaskan dalam berbagai tulisan, yang paling penting adalah:
Kitaabul Iimaan, karya Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam rahimahullah (wafat th. 244 H).
Ar-Radd ‘alaa Jahmiyyah, karya ABdullah bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah (wafat th. 241 H)
Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah, karya Imam Abu Abdillah bin Muhammad bin Abdullah al-Ju’fi rahimahullah (wafat th. 229 H).
Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah, karya Imam Abu Abdillah bin Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah (wafat th. 256 H).
Al-Ikhtilaaf fil Lafzhi war Radd ‘alal Jaqhmiyyah wal Musyabihah, karya Imam Abdullah bin Muslim bin Qutaibah rahimahullah (wafat th. 276 H).
Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah, karya Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah (wafat th. 280 H).
Ar-Radd ‘alaa Bisyr al-Marisiy, karya Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah (wafat th. 280 H).
Kedua: Metode Pemaparan
Maksudnya, memaparkan dan menjelaskan aqidah yang benar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta perkataan para Shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Metode ini dijelaskan oleh beberapa tulisan berikut ini:
As-Sunnah, karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat th. 241 H).
As-Sunnah, karya Imam Abu Bakar bin al-Atsram rahimahullah (wafat th. 272 H).
As-Sunnah, karya Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat th. 290 H).
As-Sunnah, karya Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi rahimahullah (wafat th. 294 H).
As-Sunnah, karya Imam Ahmad bin Muhammad bin Harun al-Khallal rahimahullah (wafat th. 311 H).
At-Tauhiid, karya Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah (wafat th. 311 H0.
Asy-Syarii’ah, karya Imam Abu Bakar al-Aajurri rahimahullah (wafat th. 360 H).
Al-Ibaanah, karya Imam Ubaidullah bin Muhammad bin Baththah rahimahullah (wafat th. 387 H).
At-Tauhiid, karya Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah rahimahullah (wafat th. 395 H).
Syarhus Sunnah, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin Abi Zamanain rahimahullah (wafat th. 399 H). 11. Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Imam Abul Qasim Hibatullah bin al-Hasan al-Laalika-i rahimahullah (wafat th. 418 H).

Kitab-kitab ini menetapkan satu permasalahan yang penting, yaitu “Mengembalikan umat kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengikuti Salafush Shalih dalam memahami keduanya, dan menjauhi pendapat-pendapat baru yang diada-adakan serta madzhab-madzhab yang munkar.” (Lihat muqaddimah tahqiq Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 71-73, karya Imam al-Lalika-i, tahqiq Dr. Ahmad Sa’ad Hamdan).

(Dikutip langsung dari kitab Mulia Dengan Manhaj Salaf, Pustaka At-Taqwa cet. ke-2, karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah)

__________________________________
Sumber:

http://abuzuhriy.com/?cat=53&paged=2

http://faisalchoir.blogspot.my/2012/01/pengertian-manhaj-salaf-dan-salafiyyah.html?m=1

Halalnya Arak: Tanda Kiamat Ke-48

0

Tanda Kiamat Ke-48/131 : Halalnya Arak

Dalil pengharaman arak amat jelas:

“Sesungguhnya (minuman) arak, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbutan keji termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah :90)

Dalil hadith:

ليشربن ناس من أمتي الخمر يسمونها بغير اسمها
الراوي : سفيان الثوري / المحدث : أبو داود/ المصدر : سنن أبي داود
الصفحة أو الرقم: 3689

Pasti akan ada sekelompok manusia dari umatku yang meminum khamr dan menamainya dengan nama lain. HR Abu Daud, sahih albani

Cara penghalal ialah menukar namanya kepada beer, stout, guiness stout. Di tahun 60’an memang ada iklan arak di Malaysia, stout adalah baik untuk kesihatan anda. Masyakat ketika itu tidak sedar kerana arak ditukar kepada Guiness Stout. Di negara seperti Turki, arak di minum secara terbuka.

 

Cegahlah Sifat Sombong Dan Ketagihan Dosa

0

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله وَبَرَكَاتُه

بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد الله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله. اللهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ اٰلِه فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَمَا وَسِعَهُ عِلْمُ الله
صبح الخير

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَاجْتِنَابَهُ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

 

Hadis Sunan Ibnu Majjah Jilid 4. Hadis Nombor 4174.

Mewartakan kepada kami Hannad bin As-Sarriy; mewartakan kepada kami Abul -Ahwash, dari ‘Atha- bin As-Sa-ib, dari Al-Aghar, Abu Muslim, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda:

Allah SWT. berfirman: “Kesombongan itu adalah selendangKu, dan Kebesaran itu adalah pakaian-Ku. Dan barangsiapa yang menyaingi Aku pada salah satu dari keduanya, kelak Aku lemparkan dia ke dalam neraka”.

~Tadabbur Kalamullah 21 Rabiul Akhir 1437H~

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

 

“Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertaqwalah engkau kepada Allah” timbulah kesombongannya dengan (meneruskan) dosa (yang dilakukannya itu). Oleh itu padanlah ia (menerima balasan azab) neraka jahannam dan demi sesungguhnya, (neraka jahannam itu) adalah seburuk-buruk tempat tinggal”[Surah al-Baqarah 206]

#Ini sifat manusia yang sombong dan tidak makan nasihat. Bila ditegur, diajak kepada kebaikan maka dengan penuh kesombongan terus melakukan dosa secara terang-terangan.

#Ingatlah ancaman Nabi saw kepada pelaku dosa kecil yang menganggap remeh apatah lagi melakukan dosa besar bahkan terang-terangan. Sabda Nabi saw:

“Berhati-hatilah kamu terhadap dosa kecil, sebab jika berkumpul dalam diri seseorang, ia (dosa kecil itu) akan membinasakannya.” (HR Ahmad dan Thabrani dalam Al-Ausath)

#Orang yang bangga dengan dosa bererti sudah begitu lupa dengan bahaya dosa. Sehingga merasa senang/gembira tatkala dapat melampiaskan keinginannya yang terlarang.

#Perasaan senang terhadap suatu kemaksiatan menunjukkan adanya keinginan untuk melakukannya serta tidak adanya keinginan untuk bertaubat. Jika kealpaan dan kelalaian semacam ini telah begitu parah, akan menyeret kita untuk melakukannya secara terus menerus, merasa tenang dengan perbuatan salah, dan bertekad untuk terus melakukannya.

Bertaubatlah!!Jangan sampai merasa enak dan lazat dengan dosa dan maksiat yag dilakukan. Bimbang tidak jumpa jalan untuk berpatah balik. Moga bertemu jalan pulang..aamiiin

Ust naim
https://m.facebook.com/ustazmuhamadnaim

Telegram:
Telegram.me/tadabburkalamullah
(Buka link dan klik join)

Himpunan Hadis Bab Mujahadah

0

Bab: Mujahadah

Hadis 95

Pertama: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis qudsi : “Barangsiapa memusuhi kekasihKu, maka Aku memberitahukan padanya bahawa ia akan Ku perangi – Ku musuhi.

Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekat padaKu dengan sesuatu yang amat Kucintai lebih daripada apabila ia melakukan apa-apa yang telah Kuwajibkan padanya. Dan tidaklah seseorang hambaKu itu mendekatkan padaKu dan melakukan hal-hal yang sunnah sehingga akhirnya Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Aku lah yang sebagai telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku lah matanya yang ia gunakan untuk melihat, Aku lah tangannya yang ia gunakan untuk mengambil dan Aku lah kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Andaikata ia meminta sesuatu pada Ku, pastilah Ku beri dan andaikata memohonkan perlindungan padaKu, pastilah Ku lindungi.” (Riwayat Bukhari)

Makna lafaz Aadzantuhu, artinya: “Aku (Tuhan) memberitahukan kepadanya (yakni orang yang mengganggu kekasihKu itu) bahawa Aku memerangi atau memusuhinya, sedang lafazIsta’aadzanii, artinya “Ia memohonkan perlindungan padaKu. Ada yang meriwayatkan dengan ba’, lalu berbunyi Ista’aadza bii dan ada yang meriwayatkan dengan nun, lalu berbunyi Ista’aadzanii.

 

«95» فالأول: عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((إنَّ الله تَعَالَى قَالَ: مَنْ عادى لي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدي بشَيءٍ أَحَبَّ إلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حَتَّى أحِبَّهُ، فَإذَا أَحبَبتُهُ كُنْتُ سَمعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشي بِهَا، وَإنْ سَأَلَني لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ)). رواه البخاري.
((آذَنتُهُ)): أعلمته بأني محارِب لَهُ. ((اسْتَعَاذَني)) روي بالنون وبالباءِ.
الولي: مَنْ تولى الله بالطاعة والتقوى، فإنَّ الله يتولاه بالحفظ والنصرة.
وفي الحديث: الوعيد الشديد لمن عادى وليًّا من أجل طاعته لله عزَّ وجلّ.
وأنَّ أحب العبادة إلى الله أداء فرائضه.
وأنَّ من تقرَّب إلى الله بالنوافل أحبه، ونصره، وحفظه، وأجاب دعاءه، ورقاه من درجة الإِيمان إلى درجة الإِحسان، فلا ينطقُ بما يسخط الله، ولا تُحَرَّك جوارحه في معاصي الله.

Hadis 96

Kedua: Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w. dalam sesuatu yang diriwayatkan dari Tuhannya ‘Azzawajalla, firmanNya – ini juga Hadis Qudsi :

“Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekat padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas.” (Riwayat Bukhari)

 

«96» الثاني: عن أنس رضي الله عنه عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربّه عز وجل قَالَ: ((إِذَا تَقَربَ العَبْدُ إلَيَّ شِبْرًا تَقَربْتُ إِلَيْه ذِرَاعًا، وَإِذَا تَقَرَّبَ إلَيَّ ذِرَاعًا تَقَربْتُ مِنهُ بَاعًا، وِإذَا أتَانِي يَمشي أتَيْتُهُ هَرْوَلَةً)). رواه البخاري.
معنى هذا الحديث: أنَّ من تقرَّب إلى الله بشيء من الطاعات ولو قليلًا قابله الله بأضعاف من الإِثابة والإِكرام، وكلما زاد في الطاعة زاده في الثواب، وأسرع برحمته وفضله.

 

Hadis yang tercantum di atas itu adalah sebagai perumpamaan belaka, baik bagi Allah atau bagi hambaNya. Jadi maksudnya ialah barangsiapa yang mengerjakan ketaatan kepada Allah sekalipun sedikit, maka Allah akan menerima serta memperlipat-gandakan pahalanya, juga pelakunya itu diberi kemuliaan olehNya selama di dunia sampai di akhirat. Makin besar dan banyak ketaatannya, makin pula besar dan bertambah-tambah pahalanya. Manakala cara melakukan ketaatan itu dengan perlahan-lahan, Allah bukannya memperlahan atau memperlambatkan pahalanya, tetapi bahkan dengan segera dinilai pahalanya itu dengan penilaian yang luar biasa tingginya.

Demikianlah tujuan dan makna yang tersirat dalam isi Hadis tersebut. Wallahu A’lam bish-shawaab.

 

 

Hadis 97

Ketiga: Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Ada dua macam kenikmatan yang keduanya itu disia-siakan oleh sebahagian besar manusia iaitu kesihatan dan kelapangan waktu.” (Riwayat Bukhari)

 

«97» الثالث: عن ابن عباس رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((نِعْمَتَانِ مَغبونٌ فيهما كَثيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ، وَالفَرَاغُ)). رواه. البخاري.
في هذا الحديث: أنَّ من لم يعمل في فراغه وصحته فهو مغبون. قال الله تعالى: {يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ} [التغابن: 9].
وفي الحديث: ((اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ))

 

Lafaz Maghbuun dalam Hadis di atas itu, asalnya dari kata Zhaban, iaitu membeli sesuatu dengan harga yang melebihi batas dari harga yang semestinya dan berlipat-lipat dari yang seharusnya dibayarkan, jadi yang sepatutnya dibeli seratus ringgit tiba-tiba dibeli dengan harga seribu ringgit. Juga Ghaban itu dapat bererti menjual sesuatu dengan harga yang terlampau sangat rendahnya, misalnya sesuatu itu dapat dijual dengan harga lima puluh ringgit, tetapi hanya dijual dengan harga lima ringgit saja.

Orang mukallaf yakni manusia yang sudah baligh lagi berakal oleh Rasulullah s.a.w. diumpamakan sebagai seorang pedagang. Kesihatan tubuh dan kelapangan waktu yakni waktu tidak ada pekerjaan apa-apa yang diumpamakan sebagai pokok harta atau kapital untuk berdagang itu, sedang ketaatan kepada Allah Ta’ala sebagai benda-benda yang diperdagangkan.

Namun demikian sebahagian besar ummat manusia tidak mengerti betapa pentingnya memiliki dua macam kapital dan bingung untuk memilih apa yang hendak diperdagangkan itu, padahal sudah jelas pokok kapitalnya ialah kesihatan dan kelapangan waktu dan yang semestinya dikejar untuk mendapatkan keuntungan ialah membeli dagangan yang akan dapat memberi keuntungan sebanyak-banyaknya.

Bukankah ketaatan kepada Allah itu akan menguntungkan sekali, baik di dunia atau di akhirat. Bukankah itu pula yang menyebabkan akan dapat memperolehi laba yang besar sekali di sisi Allah dan yang menjurus ke arah mendapat kebahagiaan.

Tetapi semua itu disia-siakan oleh sebahagian besar umm
Tetapi semua itu disia-siakan oleh sebahagian besar ummat manusia sewaktu mereka hidup di dunia ini.

Seseorang itu mengerti besarnya kenikmatan sihat dan lapang waktu itu, apabila telah sakit dan banyak kesibukan, sehingga banyak kewajipan-kewajipan terhadap agama menjadi kucar-kacir dan terbengkalai atau sama sekali ditinggalkan. Semoga kita semua dilindungi Allah dari hal-hal yang sedemikian itu.

 

 

Hadis 98

Keempat: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahawasanya Rasulullah s.a.w. berdiri untuk beribadat dari sebahagian waktu malam sehingga pecah-pecahlah kedua tapak kakinya. Saya (Aisyah) lalu berkata padanya: “Mengapa Tuan berbuat demikian, ya Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang kemudian?”

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Adakah aku tidak senang untuk menjadi seorang hamba yang banyak bersyukurnya?” (Muttafaq ‘alaih)

Ini adalah menurut lafaz Bukhari dan yang seperti itu terdapat pula dalam kedua kitab shahih – Bukhari dan Muslim – dari riwayat Mughirah bin Syu’bah.

 

8» الرابع: عن عائشة رَضي الله عنها: أنَّ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يقُومُ مِنَ اللَّيلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقُلْتُ لَهُ: لِمَ تَصنَعُ هَذَا يَا رسولَ الله، وَقدْ غَفَرَ الله لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: ((أَفَلا أُحِبُّ أنْ أكُونَ عَبْدًا شَكُورًا)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ، هَذَا لفظ البخاري.
ونحوه في الصحيحين من رواية المغيرة بن شعبة.
في هذا الحديث: أَخْذُ الإِنسان على نفسه بالشدة في العبادة، وإنْ أضرَّ ذلك ببدنه إذا لم يفض به إلى الملل. قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ مِنْهَا وَإِنْ قَلَّ)).
وفيه: أنَّ الشكر يكون بالعمل كما يكون باللسان.

Keterangan:

Dalam mengulas apa yang dikatakan oleh Sayyidah Aisyah radhiallahu ‘anha bahawa Rasuiullah s.a.w. itu sudah diampuni semua dosanya oleh Allah, baik yang dilakukan dahulu atau belakangan, maka al-lmam Ibnu Abi Jamrah r.a. memberikan huraiannya sebagai berikut:

“Sebenarnya tiada seorang pun yang dalam hatinya terlintas suatu persangkaan bahawa dosa-dosa yang diberitahukan oleh Allah Ta’ala yang telah diampuni yakni mengenai diri Nabi s.a.w. itu adalah dosa yang kita maklumi dan yang biasa kita jalankan ini, baik yang dengan sengaja atau cara apapun. Itu sama sekali tidak, sebab Rasulullah s.a.w., juga semua nabiullah ‘alaihimus shalatu wassalam itu adalah terpelihara dan terjaga dari semua kemaksiatan dan dengan sendirinya tidak ada dosanya sama sekali (ma’shum minadz-dzunub). Semoga kita semua dilindungi oleh Allah dari memiliki persangkaan yang jelas salahnya sebagaimana di atas.

Jadi tujuannya hanyalah sebagai mempertunjukkan kepada seluruh ummat, betapa besarnya kewajiban setiap manusia, yang di dalamnya termasuk pula Nabi Muhammad s.a.w. untuk memaha agungkan, memaha besarkan kepadaNya serta senantiasa mensyukuri kenikmatan-kenikmatanNya. Oleh sebab apa yang dilakukan oleh manusia, bagaimanapun juga besar dan tingginya nilai apa yang diamalkannya itu, masih belum memadai sekiranya dibandingkan dengan kenikmatan yang dilimpahkan oleh Nya kepada manusia tersebut. Maka dari itu hak-hak Allah yang wajib kita penuhi sebagai imbalan kurniaNya itu, masih belum sesuai dengan amalan baik yang kita lakukan, sekalipun dalam anggapan kita sudah amat banyak sekali. Jadi lemahlah kita untuk mengimbanginya dan itulah sebabnya, maka memerlukan adanya pengampunan sekalipun tiada dosa yang dilakukan sebagaimana halnya Rasulullah Muhammad serta sekalian para nabiNya ‘alaihimus shalatu wassalam itu.”

 

 

Hadith 99

Kelima: Dari Aisyah radhiallahu ‘anha juga bahawasanya ia berkata:

“Rasulullah  itu  apabila  masuk  hari  sepuluh,  maka  ia menghidup-hidupkan malamnya dan membangunkan isterinya dan bersungguh-sungguh serta mengeraskan ikat pinggangnya.” (Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksudkan ialah:

Hari sepuluh artinya sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan – jadi antara tanggal 21 Ramadhan sampai habisnya bulan itu. Mi’zar atau izar dikeraskan ikatannya maksudnya sebagai sindiran menyendiri dari kaum wanita – yakni tidak berkumpul dengan isteri-isterinya, ada pula yang memberi pengertian bahawa maksudnya itu ialah amat giat untuk beribadat. Dikatakan: Saya rnengeraskan ikat pinggangku untuk perkara ini, artinya: Saya bersungguh-sungguh melakukannya dan menghabiskan segala Waktu untuk merampungkannya.

 

«99» الخامس: عن عائشة رضي الله عنها، أنَّها قَالَتْ: كَانَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ العَشْرُ أَحْيَا اللَّيلَ، وَأيْقَظَ أهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ المِئْزَر. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
والمراد: العشر الأواخر مِنْ شهر رمضان. و((المِئْزَرُ)): الإزار، وَهُوَ كناية عن اعتزالِ النساءِ. وقيلَ: المُرادُ تَشْمِيرُهُ للِعِبَادةِ، يُقالُ: شَدَدْتُ لِهَذَا الأمْرِ مِئْزَري: أي تَشَمَّرْتُ وَتَفَرَّغْتُ لَهُ.
في هذا الحديث: الجِدُّ والاجتهاد في العبادة، خصوصًا في الأوقات الفاضلة، واغتنام صالح العمل في العشر الأواخر من رمضان؛ لأنَّ فيها ليلة خير من ألف شهر.

 

Penerangan:

Setiap orang berkewajipan memperhatikan keluarganya. Nasihat mereka agar sentiasa beribadat dan bersabar. Berusaha keras untuk lindungi mereka dari neraka.

 

 

Hadith 100 : Mukmin Yang Kuat dan Perkataan Andaikata

100. Keenam: Dari Abu Hurairah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Orang mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu’min yang lemah. Namun keduanya itu pun sama memperolehi kebaikan.

Berlumbalah untuk memperolehi apa saja yang memberikan kemanfaatan padamu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah. Jikalau engkau terkena oleh sesuatu mushibah, maka janganlah engkau berkata: “Andaikata saya mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.” Tetapi berkatalah: “Ini adalah takdir Allah dan apa saja yang dikehendaki olehNya tentu Dia melaksanakannya,” sebab sesungguhnya ucapan “andaikata” itu membuka pintu godaan syaitan.” (Riwayat Muslim)

 

«100» السادس: عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((المُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعيفِ، وَفي كُلٍّ خَيرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، واسْتَعِنْ بِاللهِ وَلا تَعْجَزْ. وَإنْ أَصَابَكَ شَيءٌ فَلا تَقُلْ لَوْ أنّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدرُ اللهِ، وَمَا شَاءَ فَعلَ؛ فإنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيطَانِ)). رواه مسلم.
المؤمنُ القوي، هو من يقوم بالأوامر ويترك النواهي بقوة ونشاط، ويصبر على مخالطة الناس ودعوتهم، ويصبر على أذاهم.
وفي الحديث: الأمر بفعل الأسباب والاستعانة بالله.
وفيه: التسليم لأمر الله، والرضا بقدر الله.

 

Kitab Riyadus Shalihin adalah sebuah kitab yang sangat masyhur dalam dunia Islam. Kitab ini telah dijadikan pegangan selama ratusan tahun bagi para ulama, pelajar dan penuntut ilmu agama di belahan dunia. Di Indonesia sendiri kitab Riyadus Shalihin ini merupakan salah satu ‘kitab wajib’ bagi seluruh pesantren.

Pengarang kitab Riyadus Shalihin adalah Al Imam Al ‘Alamah al Muhaddits, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an Nawawi ad Dimasqi as Syafi’i, beliau dikenal sebagai ulama paling ‘alim pada zamannya, zuhud dan wara’, serta kuat beramal sholeh. Dilahirkan di sebuah desa bernama Nawa dekat Damsyik, Suriah pada tahun 631 H. Beliau mulai menuntut ilmu di sebuah sekolah agama milik Habbatullah bin Muhammad Al Anshori yang terkenal dengan sebutan Ibnu Rawahah. Madrasah itu bernama Madrasah Ar Rawahiyyah. Imam Nawawi belajar di Madrasah ini mulai tahun 649 H, saat berusia delapan belas tahun, kemudian melanjutkan pelajarannya ke Sekolah Darul Hadits di Madrasah Usruniah. Beliau wafat di desanya sendiri yaitu desa Nawa, Damsyik, Suriah, pada tahun 676 H pada usia 45 tahun. Meskipun beliau belum sempat menikah seumur hidupnya, namun sebagai penghormatan, kaum muslimin tetap menggelarinya ‘Abu Zakaria’, yang menggambarkan seolah-olah beliau pernah memiliki seorang putra.

Riyadus Shalihin yang diartikan sebagai pelatihan orang-orang shalih, dibahas menjadi 19 kitab yang terbagi atas 372 Bab dan menyertakan sebanyak 1900 hadis. Dalam metode penulisannya, Imam Nawawi mengemukakan ayat-ayat Qur’an sebagai dalil utama untuk menguatkan dalil penyokong atas kitab yang akan dibahas, kemudian baru menyertakan dalil-dalil hadis sebagai penjabaran atas bab-bab yang dibahas tersebut.

Di dalam mukaddimah kitabnya, Imam Nawawi mengatakan bahwa kitabnya itu mengandung hadis-hadis yang beliau kutip dari Kutubussittah (enam kitab utama), yaitu kitab hadis yang paling utama dalam Islam. Dan secara tegas dikatakan bahwa beliau hanya mengutip hadis-hadis yang shahih dari kitab-kitab yang masyhur itu. Dengan demikian tidak akan ada satu hadis dho’if pun yang dimasukkan ke dalam kitab ini. Dalam hal ini, para ulama se-dunia selama ratusan tahun sudah membuktikan kebenaran ucapan Imam Nawawi itu. Selanjutnya, dalam perjalanan sejarah, kitab Riyadus Shalihin terbukti telah berhasil membantu para ulama untuk membentuk murid-murid mereka di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah, atau pada majelis-majelis ta’lim di masjid-masjid di seluruh Indonesia.

Syaikh Muhamamd bin Allan as-Shiddiqi as-Syafi’i al-Asy’ari al-Makki, seorang ulama Hijaz yang wafat pada tahun 1057 H telah pula mensyarahkan kitab Riyadus Shalihin Imam Nawawi ini ke dalam sebuah kitab yang berjudul Dalilul Falihin Li Thariqi Riyadis Shalihin sebanyak 4 jilid tebal. Kitab Syarah Riyadus Shalihin ini juga sangat terkenal di sisi para ulama ahlusssunnah wal jama’ah di dunia Islam, khususnya bagi para ulama dan santri di tanah air Indonesia.

Seterusnya…

Untuk muat turun

http://www.zulfanafdhilla.com/2013/01/download-kitab-riyadhus-shalihin-e-book.html?m=1

 

 

Hadith 101: Ganjaran Umat Yang Bermujahadah

101. Ketujuh: Dan” Abu Hurairah r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Ditutupilah neraka dengan berbagai kesyahwatan – keinginan -dan ditutupilah syurga itu dengan berbagai hal yang tidak disenangi.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam sebuah riwayat, dari Muslim disebutkan dengan mengjunakan kata huffat sebagai ganti kata hujibat, sedang artinya adalah sama, iaitu bahawa antara seseorang dengan neraka (atau syurga) itu ada tabirnya, maka jikalau tabir ini dilakukannya, tentulah ia masuk ke dalamnya.

 

«101» السابع: عَنْهُ: أنَّ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((حُجِبَتِ النَّارُ بالشَّهَواتِ، وَحُجِبَتِ الجَنَّةُ بِالمَكَارِهِ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
وفي رواية لمسلم: ((حُفَّتْ)) بدل ((حُجِبَتْ)) وَهُوَ بمعناه: أي بينه وبينها هَذَا الحجاب فإذا فعله دخلها.
في هذا الحديث: أنَّ الجنة لا تُنال إلا بالصبر على المكاره، وأنَّ النَّار لا يُنْجَى منها إلا بفطام النفس عن الشهوات المحرمة.

 

Hadith 102: Kualiti Solat Nabi saw Ketika Bermujahadah

102. Kelapan: Dari Abu Abdillah, iaitu Hudzaifah bin al-Yaman al-Anshari yang terkenal sebagai penyimpan rahsia Rasullah s.a.w., radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya bersembahyang beserta Nabi s.a.w. pada suatu malam maka beliau membuka – dalam rakaat pertama – dengan surat al-Baqarah. Saya berkata: “Beliau ruku’ pada ayat keseratus, kemudian berlalulah.” Saya berkata: “Beliau bersembahyang dengan bacaan tadi itu dalam satu rakaat, kemudian berlalu.”

Selanjutnya saya berkata: “Beliau ruku’ dengan bacaan di atas itu, kemudian membuka – dalam rakaat kedua – dengan surah an-Nisa’ lalu membacanya,kemudian membuka lagi -sebagai lanjutan-nya – surah ali Imran, kemudian membacanya.

Beliau s.a.w. membacanya itu dengan rapi sekali -tidak tergesa-gesa – jikalau melalui ayat yang di dalamnya mengandungi pentasbihan – memahasucikan -beliaupun mengucapkan tasbih, jikalau melalui ayat yang mengandungi suatu permohonan, beliau pun memohon, jikalau melalui ayat yang menyatakan berta’awwudz -mohon perlindungan kepada Allah dari sesuatu yang tidak baik, beliau pun berta’awwudz – mohon perlindungan.

Kemudian beliau s.a.w. ruku’ dan di situ beliau mengucapkan: Subhana rabbtal ‘azhim. Ruku’nya adalah seumpama saja dengan berdirinya – yakni perihal lamanya hampir persamaan belaka -selanjutnya beliau mengucapkan: Sami’allahu iiman hamidah. Rabbana lakal hamd,” lalu berdiri dengan berdiri yang lama mendekati ruku’nya tadi. Seterusnya beliau bersujud lalu mengucapkan:Subhana  rabbial a’la,  maka  sujudnya  itu  mendekati  pula akan berdirinya – tentang lama waktunya.” (Riwayat Muslim)

 

«102» الثامن: عن أبي عبد الله حُذَيفَةَ بنِ اليمانِ رضي الله عنهما، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيلَةٍ فَافْتَتَحَ البقَرَةَ، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ عِنْدَ المائَةِ، ثُمَّ مَضَى. فَقُلْتُ: يُصَلِّي بِهَا في ركعَة فَمَضَى، فقُلْتُ: يَرْكَعُ بِهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا، يَقرَأُ مُتَرَسِّلًا: إِذَا مَرَّ بآية فِيهَا تَسبيحٌ سَبَّحَ، وَإذَا مَرَّ بسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإذَا مَرَّ بتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ، ثُمَّ رَكَعَ، فَجَعَلَ يَقُولُ: ((سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيمِ)) فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحوًا مِنْ قِيَامِهِ، ثُمَّ قَالَ: ((سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ)) ثُمَّ قَامَ قِيامًا طَويلًا قَريبًا مِمَّا رَكَعَ، ثُمَّ سَجَدَ، فَقَالَ: ((سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى)) فَكَانَ سُجُودُهُ قَريبًا مِنْ قِيَامِهِ. رواه مسلم.
في هذا الحديث: فضلُ تطويل صلاة الليل، قال الله تعالى: {أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الأَلْبَابِ} [الزمر: 9].

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Surah Az-Zumar (39:9)

 

Hadith 103: Kualiti Solat Nabi Ketika Bermujahadah

103. Kesembilan: Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Saya bersembahyang beserta Rasulullah s.a.w. pada suatu malam, maka beliau memperpanjangkan berdirinya, sehingga saya bersengaja untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.”

Ia ditanya: “Dan apakah hal yang tidak baik yang engkau sengajakan itu?”

Ibnu Mas’ud r.a. menjawab: “Saya bersengaja hendak duduk saja dan meninggalkan beliau – tidak terus berma’mum padanya.” (Muttafaq ‘alaih)

 

«103» التاسع: عن ابن مسعود رضي الله عنه قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم لَيلَةً، فَأَطَالَ القِيامَ حَتَّى هَمَمْتُ بأمْرِ سُوءٍ! قيل: وَمَا هَمَمْتَ بِهِ؟ قَالَ: هَمَمْتُ أنْ أجْلِسَ وَأَدَعَهُ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
في هذا الحديث: أنه ينبغي الأدب مع الأئمة، بأن لا يخالفوا بقول، ولا فعل مالم يكن حرامًا، فإن مخالفة الإمام في أفعاله معدودة في العمل السيء.

 

Hadith 104: Manfaat Mujahadah

 

«104» العاشر: عن أنس رضي الله عنه عن رَسُول الله صلى الله عليه وسلم، قَالَ: ((يَتْبَعُ المَيتَ ثَلاَثَةٌ: أهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَملُهُ، فَيَرجِعُ اثنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ: يَرجِعُ أهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبقَى عَملُهُ)). مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

في هذا الحديث: الحث على تحسين العمل ليكون أنيسه في قبره.

 

104. Kesepuluh: Dari Anas r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya:

“Mengikuti kepada seseorang mayit itu tiga hal, iaitu keluarganya, hartanya serta amalnya. Kemudian kembalilah yang dua macam dan tertinggallah yang satu. Kembalilah keluarga serta hartanya dan tertinggallah amalnya.” (Muttafaq ‘alaih)

 

 

Hadith 105: Syurga itu mudah ‘didekati’, bermujahadah-lah

105.  Kesebelas: Dari Ibnu Mas’ud r.a. katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Syurga  itu   lebih  dekat  pada  seseorang  di  antara  engkau sekalian daripada ikat terumpahnya, neraka pun demikian pula.” (Riwayat Bukhari)

Keterangan:

Maksud Hadis di atas itu ialah bahawa untuk mencapai syurga atau neraka itu mudah sekali. Jika seseorang ingin mendapatkan syurga tentulah wajib mempunyai kesengajaan yang benar, melakukan ketaatan dan kebaktian kepada Tuhan, melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua laranganNya, tetapi jika ingin memasuki neraka – semoga kita dilindungi Allah dari siksa neraka itu, tentulah dengan jalan mengikuti apa saja yang menjadi kehendak hawa nafsu, menuruti kemahuan syaitan dan melakukan apa saja yang berupa kemaksiatan dan kemungkaran.

 

«105» الحادي عشر: عن ابن مسعود رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم: ((الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ، وَالنَّارُ مِثلُ ذلِكَ)). رواه البخاري.
في هذا الحديث: الترغيب في قليل الخير وإن قلَّ، والترهيب عن قليل الشر وإن قل. وأنَّ الطاعة مقَّربة إلى الجنة، والمعصية مقرَّبة إلى النار، قال الله تعالى: {فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ} [الزلزلة: 7، 8]
في هذا الحديث: إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله يرفعه الله بها درجات، وأن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله يهوي بها في النار أبعد مما بين المشرق والمغرب.

 

Hadith 106: Paksalah Untuk Banyak Bersujud Agar Menjadi Sahabat Rasulullah Di Syurga

106. Keduabelas: Dari Abu Firas iaitu Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami,  pelayan   Rasulullah  s.a.w.  dan  ia termasuk  pula  dalam golongan ahlussuffah – yakni kaum fakir miskin – r.a. katanya:

“Saya bermalam beserta Rasulullah s.a.w., kemudian saya mendatangkan untuknya dengan air wudhu’nya serta hajatnya – maksudnya pakaian dan lain-lain. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Memintalah padaku!” Saya berkata: “Saya meminta kepada Tuan untuk menjadi kawan Tuan di dalam syurga.” Beliau s.a.w. bersabda lagi: “Apakah tidak ada yang selain itu?” Saya menjawab: “Sudah, itu sajalah.” Beliau lalu bersabda: “Kalau begitu tolonglah aku – untuk melaksanakan permintaanmu itu – dengan memaksa dirimu sendiri untuk memperbanyak bersujud – maksudnya engkaupun harus pula berusaha untuk terlaksananya permintaan tersebut dengan jalan memperbanyakkan menyembah Allah.” (Riwayat Muslim)

 

106» الثاني عشر: عن أبي فِراسٍ ربيعةَ بنِ كعبٍ الأسلميِّ خادِمِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم، ومن أهلِ الصُّفَّةِ رضي الله عنه، قَالَ: كُنْتُ أبِيتُ مَعَ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم فآتِيهِ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ: ((سَلْنِي)) فقُلْتُ: اسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ في الجَنَّةِ. فَقَالَ: ((أَوَ غَيرَ ذلِكَ؟)) قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ، قَالَ: ((فأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ)). رواه مسلم. في هذا الحديث: الحث على الإكثار من الصلاة، وأنه يوجب القرب من الله تعالى، ومرافقة النبي صلى الله عليه وسلم في الجنة، وقد قال الله تعالى: {وَمَن يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء: 69]، وقال تعالى: {وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ} [العلق: 19].

 

Wanita (An-Nisā’):69 – Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Segumpal Darah (Al-`Alaq):19 – sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya (orang yang melarang muslim bersolat); dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).

 

Hadis ke 107 : Banyakkan Sujud

 

«107» الثالث عشر: عن أبي عبد الله، ويقال: أَبُو عبد الرحمن ثوبان- مولى رَسُول الله صلى الله عليه وسلم رضي الله عنه، قَالَ: سَمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ((عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ؛ فَإِنَّكَ لَنْ تَسْجُدَ للهِ سَجْدَةً إلا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرجَةً، وَحَطَّ عَنكَ بِهَا خَطِيئةً)). رواه مسلم.
سبب رواية ثوبان لهذا الحديث: أن معدان بن طلحة قال: أتيت ثوبان فقلت: أخبرني بعمل أعمل به يدخلني الله به الجنة؟- أو قال بأحب الأعمال إلى الله- فسكتَ، ثم سأله، فسكت، ثم سأله الثالثة، فقال: سألت عن ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: ((عليك بكثرة السجود…)). الحديث. وفي آخره: فلقيت أبا الدرداء فسألته، فقال لي مثل ما قال ثوبان.

 

107. Ketigabelas: Dari Abu Abdillah, juga dikatakan dengan nama Abu Abdir Rahman iaitu Tsauban, hamba sahaya Rasulullah s.a.w. r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Hendaklah engkau memperbanyak bersujud, sebab sesungguhnya engkau tidaklah bersujud kepada Allah sekali sujud. melainkan dengannya itu Allah mengangkatmu sedarjat dan dengannya pula Allah menghapuskan satu kesalahan dari dirimu.” (Riwayat Muslim)

 

Hadith 108: Sebaik-baik Manusia

Keempatbelas: Dari Abu Shafwan iaitu Abdullah bin Busr al-Aslami r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sebaik-baik manusia ialah orang yang panjang usianya dan baik kelakuannya.”

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan.

 

«108» الرابع عشر: عن أَبي صَفوان عبد الله بنِ بُسْرٍ الأسلمي رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((خَيرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرهُ، وَحَسُنَ عَمَلُهُ)). رواه الترمذي، وَقالَ: ((حديث حسن)). ((بُسْر)) بضم الباء وبالسين المهملة. في هذا الحديث: فضلُ طول العمر إذا أُحسن فيه العمل.  وفي بعض الروايات: ((وشركم

Sifat Tawadhu Anas An-Nadhir

Kelimabelas: Dari Anas r.a., katanya:

“Bapa saudaraku, iaitu Anas bin an-Nadhr r.a. tidak mengikuti peperangan Badar, kemudian ia berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak mengikuti pertama-tama peperangan yang Tuan lakukan untuk memerangi kaum musyrikin. Jikalau Allah mempersaksikan saya -menakdirkan saya ikut menyaksikan – dalam memerangi kaum musyrikin – pada waktu yang akan datang, niscayalah Allah akan memperlihatkan apa yang akan saya perbuat.

Ketika pada hari peperangan Uhud, kaum Muslimin menderita kekalahan, lalu Anas – bin an-Nadhr – itu berkata: “Ya Allah, saya mohon keuzuran – pengampunan – padaMu daripada apa yang dilakukan  oleh   mereka  itu  –  yang  dimaksudkan   ialah  kawan-kawannya  kerana  meninggalkan tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh Nabi s.a.w. – juga saya berlepas diri – maksudnya tidak ikut campurtangan – padaMu daripada apa yang dilakukan oleh mereka – yang dimaksudkan ialah kaum musyrikin yang memerangi kaum Muslimin.

Selanjutnya ia pun majulah, lalu Sa’ad bin Mu’az menemuinya. Anas bin an-Nadhr berkata: “Hai Sa’ad bin Mu’az, marilah menuju syurga. Demi Tuhan yang menguasai Ka’bah (Baitullah), sesungguhnya saya dapat menemukan bau harum syurga itu dari tempat di dekat Uhud.”

Sa’ad berkata: “Saya sendiri tidak sanggup melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas itu, ya Rasulullah.”

Anas   –   yang   merawikan   Hadis   ini   yakni   Anas   bin   Malik anak saudara   Anas  bin  an-Nadhr  –  berkata;   “Maka  kami  dapat menemukan dalam tubuh Anas bin an-Nadhr itu lapan puluh buah lebih pukulan pedang ataupun tusukan tombak ataupun lemparan panah. Kita menemukannya telah terbunuh dan kaum musyrikin telah pula mencabik-cabiknya. Oleh sebab itu seorang pun tidak dapat mengenalnya lagi, melainkan saudara perempuannya saja, kerana mengenal jari-jarinya.”

Anas – perawi Hadis ini – berkata: “Kita sekalian mengira atau menyangka bahawasanya ayat ini turun untuk menghuraikan hal Anas bin an-Nadhr itu atau orang-orang yang seperti dirinya, iaitu ayat -yang artinya:

“Di antara kaum mu’minin itu ada beberapa orang yang menempati apa yang dijanjikan olehnya kepada Allah,” sampai seterusnya ayat tersebut. (Muttafaq ‘alaih)

 

«109» الخامس عشر: عن أنس رضي الله عنه، قَالَ: غَابَ عَمِّي أَنَسُ بْنُ النَّضْرِ رضي الله عنه عن قِتالِ بدرٍ، فَقَالَ: يَا رسولَ الله، غِبْتُ عَنْ أوّل قِتال قَاتَلْتَ المُشْرِكِينَ، لَئِن اللهُ أشْهَدَنِي قِتَالَ المُشركِينَ لَيُرِيَنَّ اللهُ مَا أصْنَعُ. فَلَمَّا كَانَ يَومُ أُحُدٍ انْكَشَفَ المُسْلِمونَ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ أعْتَذِرُ إلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ هؤُلاءِ- يعني: أصْحَابهُ- وأبْرَأُ إلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ هؤُلاءِ- يَعني: المُشركِينَ- ثُمَّ تَقَدَّمَ فَاسْتَقْبَلهُ سَعدُ بْنُ مُعاذٍ، فَقَالَ: يَا سعدَ بنَ معاذٍ، الجَنَّةُ وربِّ الكعْبَةِ إنِّي أجِدُ ريحَهَا منْ دُونِ أُحُدٍ. قَالَ سعدٌ: فَمَا اسْتَطَعتُ يَا رسولَ الله مَا صَنَعَ! قَالَ أنسٌ: فَوَجَدْنَا بِهِ بِضْعًا وَثَمانينَ ضَربَةً بالسَّيفِ، أَوْ طَعْنةً بِرمْحٍ، أَوْ رَمْيَةً بسَهْمٍ، وَوَجَدْنَاهُ قَدْ قُتِلَ وَمَثَّلَ بِهِ المُشْرِكونَ فما عَرَفهُ أَحَدٌ إلا أُخْتُهُ بِبَنَانِهِ. قَالَ أنس: كُنَّا نَرَى أَوْ نَظُنُّ أن هذِهِ الآية نزلت فِيهِ وفي أشباهه: {مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ} [الأحزاب: 23] إِلَى آخِرها. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. قوله: ((لَيُرِيَنَّ اللهُ)) روي بضم الياء وكسر الراء: أي لَيُظْهِرَنَّ اللهُ ذلِكَ للنَّاس، وَرُويَ بفتحهما ومعناه ظاهر، والله أعلم. في هذا الحديث: جواز الأخذ بالشدة في الجهاد وبذل المرء نفسه في طلب الشهادة، والوفاء بالعهد.

 

Lafaz Layuriannallah, diriwayatkan dengan dhammahnya ya’ dan kasrahnya ra’, artinya: Niscayalah Allah akan memperlihatkan yang sedemikian itu – apa-apa yang dilakukannya – kepada orang banyak. Diriwayatkan pula dengan fathah keduanya – ya’ dan ra’nya -dan maknanya sudah jelas – iaitu: Nescayalah Allah akan melihat apa-apa yang dilakukan olehnya. Jadi membacanya ialah: Layara-yannallah. Wallahu aiam.

Anas bin an-Nadhr r.a. mengatakan kepada Rasulullah s.a.w. bahawa dalam peperangan yang pertama yakni perang Badar tidak ikut, kemudian dalam peperangan kedua, yakni perang Uhud ikut menyertai pasukan ummat Islam melawan kaum kafirin dan musyrikin. Kemudian ia berkata di hadapan Rasulullah s.a.w. sebagai janjinya, andaikata ia mengikuti, niscaya Allah akan menampakkan apa yang hendak dilakukan olehnya atau Allah pasti mengetahui apa yang hendak diperbuatnya.

Ia mengatakan sebagaimana di atas itu setelah selesai perang Badar dan belum lagi terjadi perang Uhud. Yang hendak diperbincangkan di sini ialah mengenai kata-kata Anas tersebut berbunyi Maa ashna-‘u, artinya: Apa-apa yang akan saya lakukan. Mengapa ia tidak berkata saja: Aku akan bertempur mati-matian sampai titik darah yang penghabisan, sebagaimana yang biasa dikatakan oleh orang-orang di zaman kita sekarang ini. Nah, inilah yang perlu kita bahas sekadarnya.

Al-lmam al-Qurthubi dalam mengupas kata-kata Anas r.a. iaitu Maa ashna-‘u itu menjelaskan demikian:

Ucapan Sayidina Anas r.a., juga sekalian para sahabat Rasulullah s.a.w. selalu mengandungi makna yang mendalam. Anas r.a. misalnya, dalam menyatakan janjinya akan mengikuti peperangan bila nanti terjadi peperangan lagi dengan hanya mengatakan: Maa ashna-‘u, itu mempunyai kandungan bermacam-macam, umpamanya:

(a)   Ia tidak memiliki sifat kesombongan dan ketakaburan dan oleh sebab itu tidak mengatakan bahawa ia akan berjuang mati-matian sampai hilangnya jiwa yang dimilikinya dan amat berharga itu. Orang yang sombong itu umumnya tidak menepati janji yang diucapkan. Kadang-kadang baru melihat musuh sudah lari terbirit-birit atau sebelum melihatnya saja sudah tidak nampak hidungnya.

(b) Anas r.a. sengaja memperkukuhkan ucapannya sendiri dan benar-benar dipenuhi. Diri dan jiwanya akan betul-betul dikorbankan untuk meluhurkan kalimat Allah yakni agama Islam dengan jalan melawan musuh yang sengaja menyerbu negara dan hendak melenyapkan agama yang diyakini kebenarannya itu.

(c)   Ia hendak berusaha keras memenangkan peperangan dan mencurahkan segala daya dan kekuatannya tanpa ada ketakutan sedikitpun akan tibanya ajal, sebab setiap manusia pasti mengalami kematian, hanya jalannya yang berbeza-beza.

(d)   Ia takut kalau-kalau apa yang hendak dilakukan nanti itu belum  memadai  apa yang diucapkan, sebab  mengingat bahawa segala  gerakan   hati  dapat saja  diubah-ubah  oleh  Allah  Ta’ala. Mungkin hari ini putih,tetapi besoknya sudah menjadi hitam. Itulah yang  dikhuatirkan  olehnya,  sehingga  semangatnya  yang  asalnya menyala-nyala, tiba-tiba mengendur tanpa disedari.

Selanjutnya setelah terjadi perang Uhud ia menunjukkan perjuangan yang sebenar-benarnya, sampai-sampai terciumlah olehnya bau-bauan dari syurga dan akhirnya ia gugur sebagai pahlawan syahid fi-sabilillah. Untuk menegaskan janji Anas r.a. inilah Allah Ta’ala berfirman dalam al-Quran:

artinya:

“Di kalangan kaum mu’minin itu ada beberapa orang(seperti sahabat Anas) yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah dan sungguh-sungguh memenuhi janjinya itu. Diantara mereka ada yang menemui ajalnya – sebagai pahlawan syahid – dan ada juga yang masih menanti-nantikan – yakni ingin mendapatkan kematian syahid dan oleh sebab itu tidak mundur setapak pun menghadapi musuh. Itulah orang-orang mu’min yang tidak berubah pendiriannya sedikit pun.” (al-Ahzab: 23)

 

SEDEKAH

 

«110» السادس عشر: عن أبي مسعود عقبة بن عمرو الأنصاري البدري رضي الله عنه قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ آيةُ الصَّدَقَةِ كُنَّا نُحَامِلُ عَلَى ظُهُورِنَا، فَجَاءَ رَجُلٌ فَتَصَدَّقَ بِشَيءٍ كَثيرٍ، فقالوا: مُراءٍ، وَجَاءَ رَجُلٌ آخَرُ فَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ، فقالُوا: إنَّ اللهَ لَغَنيٌّ عَنْ صَاعِ هَذَا! فَنَزَلَتْ: {الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لا يَجِدُونَ إِلا جُهْدَهُمْ} [التوبة: 79]. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ. وَ ((نُحَامِلُ)) بضم النون وبالحاء المهملة: أي يحمل أحدنا عَلَى ظهره بالأجرة ويتصدق بِهَا. قوله: ((لَمَّا نَزَلَتْ آيةُ الصَّدَقَةِ)) قال الحافظ: كأنه يشير إلى قوله تعالى: {خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا} الآية [التوبة: 103]. قوله: ((وجاء رجل فتصدَّق بصاع))، وكان تحصيله له بأن أجّر نفسه على النزع من البئر بصاعين من تمر، فذهب بصاع لأهله وتصدَّق بالآخر. وفي هذا: أنَّ العبد يتقرب إلى الله بجهده وطاقته، وحسب قدرته واستطاعته.

 

110. Keenambelas: Dari Abu Mas’ud iaitu ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari al-Badri r.a., katanya: “Ketika ayat sedekah turun, maka kita semua mengangkat sesuatu di atas punggung-punggung kita -untuk memperolehi upah dari hasil mengangkatnya itu untuk disedekahkan. Kemudian datanglah seseorang lalu bersedekah dengan sesuatu yang banyak benar jumlahnya. Orang-orang sama berkata: “Orang itu adalah sengaja berpamir saja – memperlihatkan amalannya kepada sesama manusia dan tidak kerana Allah Ta’ala melakukannya. Ada pula orang lain yang datang kemudian bersedekah dengan barang sesha’ – dari kurma. Orang-orang sama berkata: “Sebenarnya Allah pastilah tidak memerlukan makanan sesha’nya orang ini.” Selanjutnya turun pulalah ayat – yang artinya:

“Orang-orang yang mencela kaum mu’minin yang memberikan sedekah dengan sukarela dan pula mencela orang-orang yang tidak mendapatkan melainkan menurut kadar kekuatan dirinya,” dan seterusnya ayat itu – yakni firmanNya: “Lalu mereka memperolok-olokkan mereka. Allah akan memperolok-olokkan para pencela itu dan mereka yang berbuat sedemikian itu akan memperolehi siksa yang pedih.” (at-Taubah: 79) (Muttafaq ‘alaih)

Nuhamilu dengan dhammahnya nun dan menggunakan ha’ muhmalah, artinya ialah setiap orang dari kita sekalian mengangkat di atas punggung masing-masing dengan memperolehi upah dan upah itulah yang disedekahkannya.

 

Hadith 111: Hadith Ahli Syam Yang Paling Mulia

Ketujuh belas: Dari Said bin Abdul Aziz dari Rabi’ah bin Yazid dari Abu Idris al-Khawlani dari Abu Zar, iaitu Jundub bin Junadah r.a. dari Nabi s.a.w., dalam sesuatu yang diriwayatkan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, bahawasanya Allah berfirman – ini adalah Hadis Qudsi :

“Hai hamba-hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan pada diriku sendiri akan menganiaya dan menganiaya itu Kujadikan haram di antara engkau sekalian. Maka dari itu, janganlah engkau sekalian saling menganiaya.

Wahai hamba-hambaKu, engkau semua itu tersesat, kecuali orang yang Kuberi petunjuk. Maka itu mohonlah petunjuk padaKu, engkau semua tentu Kuberi petunjuk itu.

Wahai hamba-hambaKu, engkau semua itu lapar, kecuali orang yang Kuberi makan. Maka mohonlah makan padaKu, engkau semua tentu Kuberi makanan itu.

Wahai hamba-hambaKu, engkau semua itu telanjang, kecuali orang yang Kuberi pakaian. Maka mohonlah pakaian padaKu, engkau semua tentu Kuberi pakaian itu.

Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya engkau semua itu berbuat kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku inilah yang mengampunkan segala dosa. Maka mohon ampunlah padaKu, pasti engkau semua Kuampuni.

Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya engkau semua itu tidak dapat membahayakan Aku. Maka andaikata dapat, tentu engkau semua akan membahayakan Aku. Lagi pula engkau semua itu tidak dapat memberikan kemanfaatan padaKu. Maka andaikata dapat, tentu engkau semua akan memberikan kemanfaatan itu padaKu.

Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula – awal – hingga yang paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan jin, sama bersatu padu seperti hati seseorang yang paling curang dari antara engkau semua, hal itu tidak akan dapat mengurangi keagungan sedikitpun pada kerajaanKu.

Wahai hamba-hambaKu, andaikata orang yang paling mula-mula – awal – hingga yang paling akhir, juga semua golongan manusia dan semua golongan jin, sama berdiri di suatu tempat yang tinggi di atas bumi, lalu tiap seseorang meminta sesuatu padaKu dan tiap-tiap satu Kuberi menurut permintaannya masing-masing, hal itu tidak akan mengurangi apa yang menjadi milikKu, melainkan hanya seperti jarum bila dimasukkan ke dalam laut – jadi berkurangnya hanyalah seperti air yang melekat pada jarum tadi.

Wahai hamba-hambaKu, hanyasanya semua itu adalah amalan-amalanmu sendiri. Aku menghitungnya bagimu lalu Aku memberikan balasannya. Maka barangsiapa mendapatkan kebaikan, hendaklah ia memuji kepada Allah dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, hendaklah jangan menyesali kecuali pada dirinya sendiri.”

Said berkata: “Abu Idris itu apabila menceriterakan Hadis ini, ia duduk di atas kedua lututnya.” (Riwayat Muslim)

 

«111» السابع عشر: عن سعيد بن عبد العزيز، عن ربيعة بن يزيد، عن أَبي إدريس الخولاني، عن أبي ذر جندب بن جُنادة رضي الله عنه، عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم فيما يروي عن اللهِ تَبَاركَ وتعالى، أنَّهُ قَالَ: ((يَا عِبَادي، إنِّي حَرَّمْتُ الظُلْمَ عَلَى نَفْسي وَجَعَلْتُهُ بيْنَكم مُحَرَّمًا فَلا تَظَالَمُوا.
يَا عِبَادي، كُلُّكُمْ ضَالّ إلا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاستَهدُوني أهْدِكُمْ.
يَا عِبَادي، كُلُّكُمْ جَائِعٌ إلا مَنْ أطْعَمْتُهُ فَاستَطعِمُوني أُطْعِمْكُمْ.
يَا عِبَادي، كُلُّكُمْ عَارٍ إلا مَنْ كَسَوْتُهُ فاسْتَكْسُونِي أكْسُكُمْ.
يَا عِبَادي، إنَّكُمْ تُخْطِئُونَ باللَّيلِ وَالنَّهارِ وَأَنَا أغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُوني أغْفِرْ لَكُمْ.
يَا عِبَادي، إنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغوا ضُرِّي فَتَضُرُّوني، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفعِي فَتَنْفَعُوني.
يَا عِبَادي، لَوْ أنَّ أوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذلِكَ في مُلكي شيئًا.
يَا عِبَادي، لَوْ أنَّ أوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذلِكَ من مُلكي شيئًا.
يَا عِبَادي، لَوْ أنَّ أوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجنَّكُمْ قَامُوا في صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَألُوني فَأعْطَيتُ كُلَّ إنْسَانٍ مَسْألَتَهُ مَا نَقَصَ ذلِكَ مِمَّا عِنْدِي إلا كما يَنْقصُ المِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ البَحْرَ.
يَا عِبَادي، إِنَّمَا هِيَ أعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيرًا فَلْيَحْمَدِ الله وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذلِكَ فَلا يَلُومَنَّ إلا نَفْسَهُ)).
قَالَ سعيد: كَانَ أَبُو إدريس إِذَا حَدَّثَ بهذا الحديث جَثا عَلَى رُكبتيه. رواه مسلم.
وروينا عن الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله، قَالَ: لَيْسَ لأهل الشام حديث أشرف من هَذَا الحديث.
هذا حديث جليل شريف، وهو من الأحاديث القدسية التي يرويها النبي صلى الله عليه وسلم عن الله عز وجل.
وفي هذا الحديث: قبح الظلم وأن جميع الخلق مفتقرون إلى الله تعالى في جلب مصالحهم، ودفع مضارهم في أمور دينهم ودنياهم.
وأنَّ الله تعالى يحب أن يسأله العباد ويستغفروه.
وأنَّ ملكه لا يزيد بطاعة الخلق ولا ينقص بمعصيتهم.
وأن خزائنه لا تنفذ ولا تنقص.
وأن ما أصاب العبد من خير فمن فضل الله تعالى، وما أصابه من شر فمن نفسه وهواه.
وهو مشتمل على قواعد عظيمة في أصول الدين وفروعه وآدابه، وغير ذلك.

 

Kami juga meriwayatkannya dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan ia berkata:

“Tidak sebuah pun Hadis bagi ahli Syam yang lebih mulia dari Hadis ini.”

Hadis yang diriwayatkan oleh Nabi s.a.w. dan berasal dari Allah semacam Hadis di atas ini juga Hadis no. 11 dan no. 95 disebut Hadis Qudsi (suci). Bezanya dengan al-Quran ialah kalau al-Quran merupakan mu’jizat sedang Hadis Qudsi tidak. Lagi pula hanya melulu membaca saja pada al-Quran itu sudah merupakan ibadat. Yang penting kita perhatikan ialah:

(a) Menganiaya itu adalah benar-benar besar dosanya dan doanya orang yang dianiaya itu tidak akan ditolak oleh Allah yakni pasti dikabulkan sebagaimana sabda Nabi s.a.w.:

“Takutlah pada doanya orang yang dianiaya, sekalipun ia itu kafir kerana sesungguhnya saja tidak ada tabir yang menutup antara doa orang itu dengan Allah.”

(b) Semua dosa itu dapat diampuni oleh Allah asal kita mohon ampun serta bertaubat kecuali syirik (menyekutukan Allah), sebagaimana dalam al-Quran disebutkan:

“Sesungguhnya Allah tidak suka mengampuni kalau Dia disekutukan dengan lainNya dan Dia suka mengampuni yang selain itu pada orang yang dikehendaki olehNya.”

(c)  Kalau kita taat pada Allah, melakukan semua perintahNya, ini bukan bererti bahawa Allah memerlukan kita taati. Kita taat atau tidak bagi Allah tetap saja. Maka bukannya kalau kita taat, Allah tambah mulia atau kalau kita ingkar lalu Allah kurang kemuliaanNya. Itu tidak sama sekali. Hanya saja Allah menyediakan tempat kesenangan (syurga) bagi orang yang taat dan tempat siksa (neraka) bagi orang yang ingkar.

(d)  Orang yang amat taqwa yang dimaksudkan dalam Hadis ini ialah Nabi Muhammad s.a.w. dan yang paling curang itu ialah syaitan (setan) sebab syaitan itu dahulunya bernama Azazil dan termasuk dalam golongan jin.

(e)  Begitu banyaknya air laut, kalau isinya hanya dikurangi oleh jarum yang melekat di situ, maka kekurangan  itu tidak bererti sama sekali. Begitulah perumpamaannya andaikata Allah mengabulkan semua permohonan makhlukNya.

 

Sahihkah Hadis Malaikat Tunggu 6 Jam Untuk Catat Kejahatan

0

Soalan:

Mohon status hadith ‘Malaikat tunggu enam jam untuk catat amal kejahatan’

S23: Daripda Abu Umamah R.A. Dari Nabi s.a.w.sabdanya bermaksud:
Malaikat yang disebelah kanan (yang mejadi penulis kebaikan) ialah ketua kepada yang sebelah kiri, maka apabila seseorang melakukan sesuatu kebaikan ditulis baginya kebaikan itu menjadi dengan sepuluh kebaikan yang tesebut, dan apabila dia melakukan sesuatu kejahatan, lalu malaikat disebelah kanan berkata: Tunggu dahulu “lalu dia menunggu selama enam atau tujuh jam, maka jika orang itu beristighfar daripda perbuatan jahat itu, tidaklah ditulis sesuatu pun, dan jika dia tidak meminta ampun kepada Allah dituliskan bagi nya satu kejahatan sahaja.. (Hadis riwayat at-tabrani)

Jawapan Ustaz Adli Khalim:

Tidak Sahih. Allah Maha Mengetahui. (Dipetik dari jawapan Ustaz Fathi al-Sakandary)

 

 

Soalan :

Adakah tidak sahih itu dhoif atau maudhu?

Jawapan Ustaz Ad-Dien:

Riwayat malaikat berhenti enam/tujuh jam diriwayatkan oleh Al-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir. Riwayat Ja’far bin Zubair daripada Al-Qasim daripada Abi Umamah yakni Sudaiyy ibn ‘Ajlan memang ma’lul dan dikritik ramai aimmah nuqqad salaf..

Antaranya Al-Bukhari menilai riwayat dr jalan itu matruk. Hal yang sama disebutkan berulang kali oleh Ad-Daraquthni dan An-Nasaie.

Bahkan Abu Hatim berkata riwayat Ja’far dari Al-Qasim drpd Abi Umamah banyak kepalsuan lebih daripada 100 hadith. Hingga syu’bah pernah kata tentangnya, dia palsukan lebih kurang 400 hadith. Ini suatu jarh yang berat.

Begitu juga Abu Nu’aim dalam Dhu’afa’nya menyebutkan jarh yang berat, kata beliau Ja’far itu tidak ditulis (diambil) riwayatnya malah tiada nilai pun (la yaktub wala yusawi syai-an) au qama qal.

Wallahua’lam.

Tujuan Hidup Manusia Dari Kacamata Ibnu Qayyim rahimahullah

0

Dikongsi oleh: Cikgu Rahim

Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah–rahimahullah– berkata,

“Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla telah mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, menciptakan langit-langit dan bumi, agar Dia dikenal, diibadahi, ditauhidkan, dan agar agama itu semuanya bagi Allah, semua ketaatan untuk-Nya, dan dakwah hanya untuk-Nya.”

Kemudian beliau menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an (Adz-Dzariyat: 56; Ath-Thalaq: 12; Al-Maidah: 97), lalu berkata,

“Allah memberitakan bahwa tujuan penciptaan dan perintah adalah agar dikenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, hanya Dia yang diibadahi, tidak disekutukan.”

(Ad-Da’ wad Dawa’, hal:196,tahqiq Syeikh Ali bin Hasan, penerbit: Dar Ibnil Jauzi).

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka beribadat ( menyembah ) kepadaKu. [QS. Az-Zariyat: Ayat 56]

 

اَللهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّ ؕ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْۤا اَنَّ اللهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۙ وَّاَنَّ اللهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah yang menciptakan tujuh petala langit dan (Ia menciptakan) bumi seperti itu; perintah Allah berlaku terus menerus di antara alam langit dan bumi. (Berlakunya yang demikian) supaya kamu mengetahui bahawa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu, dan bahawa sesungguhnya Allah tetap meliputi ilmuNya akan tiap-tiap sesuatu. [QS. At-Talaq: Ayat 12]

 

جَعَلَ اللهُ الْـكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَـرَامَ قِيٰمًا لِّـلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَـرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلَاۤئِدَ ؕ ذٰ لِكَ لِتَعْلَمُوْۤا اَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Allah menjadikan Kaabah, rumah yang mulia itu, sebagai tempat tumpuan manusia (untuk menjalankan ibadat dan hal-hal hidup), demikian juga bulan-bulan yang mulia, dan binatang-binatang korban, dan kalong-kalong binatang korban itu. Yang demikian itu, supaya kamu ketahui bahawa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bahawa sesungguhnya Allah Maha mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. [QS. Al-Ma’idah: Ayat 97]

 

Apabila Terpaksa Melakukan Maksiat, Wajib Berhijrah

0

~Tadabbur Kalamullah 1 Muharram 1437H~

 

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا * إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diambil nyawanya oleh malaikat semasa mereka sedang menganiaya diri sendiri (kerana enggan berhijrah untuk membela Islam dan rela ditindas oleh kaum kafir musyrik), mereka ditanya oleh malaikat dengan berkata: “Apakah yang kamu telah lakukan mengenai agama kamu?” Mereka menjawab: “Kami dahulu adalah orang-orang yang tertindas di bumi”. Malaikat bertanya lagi: “Tidakkah bumi Allah itu luas, yang membolehkan kamu berhijrah dengan bebas padanya?” Maka orang-orang yang sedemikian itu keadaannya, tempat akhir mereka ialah neraka jahanam, dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali orang-orang yang lemah (lagi uzur) dari kaum lelaki dan perempuan serta kanak-kanak, yang tidak berdaya upaya mencari helah (untuk melepaskan diri) dan tidak pula mengetahui sesuatu jalan (untuk berhijrah)”[Surah An-Nisa’ 97-98]

 

Berkata al-Maraghi:

“Ayat ini mengisyaratkan bahawa seseorang yang tinggal di suatu negeri yang tidak memungkinkan dapat mengerjakan perintah-perintah agamanya kerana wujud beberapa halangan atau dia tahu bahawa di tempat lain akan lebih mudah melaksanakan kewajipan kepada Allah dan beribadah dengan lebih baik, maka dia WAJIB berhijrah”

#Ijmak ulamak mengatakan bahawa WAJIB hijrah dari negara kafir apabila orang Islam terpaksa melakukan maksiat.

#Berkata Dr. Mustafa al-Bugha: “Hijrah dari bumi kafir ke negeri Islam adalah wajib ke atas seorang Muslim yang tidak dapat bertahan dalam menzahirkan agamanya. Hukum ini adalah berkekalan tanpa sebarang syarat.

 

Sabda Nabi saw:

“Dan aku perintahkan kamu dengan 5 perkara. Ini kerana Allah perintahkan aku dengannya. Iaitu dengan berjemaah, mendengar, mematuhi, hijrah dan jihad di jalan Allah” (HR Ahmad dan at-Tirmizi)

#Ini menunjukkan bahawa orang yang wajib berhijrah (yang tiada sebarang keuzuran) namun enggan dan degil untuk berhijrah (demi mempertahankan agama dan rela ditindas oleh kafir musyrik) maka Allah swt mengancam mereka dgn azab neraka jahannam.

 

Imam Ibnu Qayyim mengatakan hijrah terbahagi kepada 2:

  1. Hijrah dengan tubuh badan dari sebuah negeri ke sebuah negeri yang lain
  2. Hijrah dengan hati kepada Allah dan RasulNya iaitu hijrah yang mengandungi daripada dan kepada. Iaitu hijrah dengan hatinya daripada cinta selain Allah kepada cinta kepadaNya. Daripada Ubudiyyah selainNya kepada Ubudiyyah Allah.

 

Semoga amalan di tahun 1437H lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Jom berhijrah meninggalkan dosa dan menuju jalan ke Syurga Allah swt

 

Ustaz Naim
https://m.facebook.com/ustazmuhamadnaim

 

Segeralah Bertaubat Setelah Umur 40 Tahun

0

Al-Qur’an Menyebut Umur 40 tahun.

 

Allah SWT memberi perhatian khusus tentang angka 40 ini :

Firman-Nya yang bermaksud,

“Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dengan menanggung susah payah dan telah melahirkannya dengan menanggung susah payah. Sedang tempoh mengandungnya berserta dengan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa tiga puluh bulan. Setelah dia besar sampai ke peringkat dewasa yang sempurna kekuatannya dan sampai ke peringkat umur empat puluh tahun, berdoalah dia dengan berkata: Wahai Tuhanku, ilhamkanlah daku supaya tetap bersyukur akan nikmatmu yang engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya akutetap mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai; danjadikanlah sifat-sifat kebaikan meresap masuk ke dalam jiwa zuriat keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadamu dan sesungguhnya aku dari orang-orang Islam (yang tunduk patuh kepadamu/berserah diri).” (Surah Al-Ahqaf (46) ayat 15)

Ayat ini menyatakan umur 40, iaitu umur yang matang (umur kiraan tahun Hijrah). Ini kemuncak umur keIslamannya. Syaratnya dia mulai daripada sejak dia baligh lagi.

Kebanyakkan ulama’ bersungguh-sungguh dalam beribadah mengurangi tidurnya, ketika mencecah usia ini.

 

Dalam ayat ini juga Allah berpesan supaya;

  1. Berbakti kepada kedua ibu-bapa (ada ayat lain dalam surah al-Isra’ dan Luqman) kerana jika dia sudah 40 tahun pasti ibu-bapanya sudah melepasi 60 tahun, umur yang memerlukan banyak bantuan.
  2. Mensyukuri nikmat iaitu dengan beramal soleh yang diredhaiNya (menjadikan semua nikmat yang Allah berikan kepada kita untuk beramal soleh)
  3. Bertaubat dan berserah diri, maksudnya tidak mahu lagi buat maksiat dan menyedari kita adalah hak Allah dan akan kembali kepadaNya. Maknanya apabila sudah mencapai umur 40 tahun sudah tidak ada dosa, sudah capai puncak keIslaman dan berjaya mendidik putera dan puterinya.

 

Fiqh Wanita : Nota ke 48 (Umum)

0

Soal Jawab Fiqh Wanita

 

Soalan 1

Apakah ibu bapa yang telah meninggal dunia akan diazab di alam kubur sekiranya anak-anaknya yang masih hidup tidak menjalankan suruhan Allah seperti solat. Puasa dan sebagainya .

Jawapan 1

Tidak .Rujuk bab tanggung dosa.

 


Consultant-Mineral-salts-are-an-elegant-choice-for-sodium-reduction-in-bakery

Soalan 2

Adakah hadits kebaikan garam ini shahih?.

Hadis riwayat Al Bazzar ;
Rasulullah saw bersabda , ” sesiapa yang memulakan minum & makanan dengan memakan secubit garam , Allah akan hindarkan 330 jenis penyakit , yang paling kurang ialah gila , kusta , sakit perut dan sakit gigi . Yang bakinya diketahui oleh Allah sahaja .

Dari Anas bin Malik , nabi saw bersabda bersabda; “Penghulu segala lauk pauk kamu ialah garam . Tiadalah akan baik makanan itu melainkan dengan garam .

Dari Abdullah bin Umar ; Rasulullah saw bersabda , ” sesungguhnya Allah menurunkan 4 perkara berkat ( mempunyai kebaikan) dari langit (menerusi huJan ) kebumi iaitu besi ,api , air dan garam Wallahua’lam .

Jawapan 2 Thtl

Status hadits kebaikan garam. Tiada satu pun hadits shahih dalam bab ini. Semuanya bertaraf lemah atau palsu sahaja. Rujukan

 


 

Soalan 3

Bolehkah menghadiri jemputan perkahwinan rakan yang di adakan di kuil atau gereja, syeikh?

Jawapan 3 Thtl

Tidak boleh. Apa juga yang melibatkan urusan agama, haram. Tadabur surah al -kafiruun.

Allah Ta’ala berfirman,

وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(QS. Al Maidah 5: 3)

Kita boleh lihat kemusnahan orang kafir dalilnya:

Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”. QS Al-An’am 6:11.

 


 

Soalan 4

Boleh tak seseorang tu terus ambil wudhu selepas mandi tanpa mengenakan pakaian??

Jawapan 4 Thtl

Menutup aurat bukan syarat sah wudhu’ (wudhu’ tetap sah kalau tak tutup aurat), cuma better jaga adab.

 


 

Soalan 5

Manusia Yang Menjadi Teman Iblis “Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahawa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas” kata Iblis. Antara bicara Iblis dengan Nabi Muhammad. #AlQuranHadisPanduanHidup. Betul ke statement ini

Jawapan 5 Thtl

Dialog nabi dgn iblis semuanya tidak sahih

 


 

Soalan 6

Sesiapa yg membaca ‘Bismillah’ 21 x sebelum tidur, Allah akan memaklumkan kepada malaikat untuk menulis segala kebaikan bagi setiap tarikan nafas si pembaca.” Sahih ke ?

Jawapan 6 Thtl

Dari Dr Rozaimi channel:

Assalamualaikum Dr Rozaimi, ” Sesiapa yg membaca ‘Bismillah’ 21 kali sebelum tidur, Allah akan memaklumkn kpd malaikat utk mnulis segala kebaikan bagi setiap tarikan nafas si pembaca. * Nak tanya status penyataan di atas?

Ustaz Rozaimi menjawab :Tak ada asalnya.

 


 

Soalan 7

Saya nak bertanya adakah wujud ayat-ayat al-quran yang boleh menghapus sel-sel cancer?

Jawapan 7 Thtl

  1. Al-quran tidak diturunkan sebagai buku doa perubatan, tetapi sebagai pengubat penyakit qalbu.
  2. Fadhilat al-quran (juga termasuk dalam kategori perkara ghaib) hanya diketahui oleh Allah, serta orang yang diberikan wahyu tentang fadhilat tersebut (Rasulullah), namun tiada riwayat yang sampai kepada kita tentang fadhilat al-quran yang mampu menghapuskan sel kanser.
  3. Sebahagian asatidzah pernah sebut bahawa ada pesakit yang mengecut sel kansernya, namun pesakit tersebut bukanlah mengamalkan ayat-ayat tertentu. Bahkan, pesakit tersebut memang menjadikan tilawah al-quran sebagai amalan hariannya (niatnya untuk melazimi al-quran sebagai tuntutan agama, bukannya untuk menyembuhkan kansernya).
  4. Saya perhatikan sebahagian ayat yang diajarkan sebagai petua (dalam apa-apa masalah) sangat tidak berkaitan dengan maksud ayat yang digunakan.
  5. Meminta pendapat doktor pakar tentang masalah ini lebih utama, daripada bergantung kepada petua-petua yang tidak dapat dipastikan keberkesanannya. Sebagaimana Rasulullah pernah menyuruh seorang sahabat berjumpa dengan Al-Harits bin Kaladah untuk penyakitnya (HR Abu Dawud, no 3875.)

Wallahu a`lam.

 


 

Soalan 8

Soalan berkenaan keberkatan gaji. Kita bekerja dengan syarikat. Kerja yang diberikan kita laksanakan seperti yang dikehendaki. Tapi ada waktu kita datang lambat, balik awal ataupun keluar waktu pejabat untuk urusan peribadi. Ada waktu senggang, kita mungkin buat kerja lain yang tiada kaitan dengan kerja. Apakah gaji yang diperolehi berkat? Adakah zakat boleh menyucikan gaji kita dan menghapuskan dosa?

Jawapan soalan 8 Thtl

Soal keberkatan gaji. Cara nak tebus kesalahan dan membersihkan pendapatan ialah dgn bersedekah dan berzakat, dalilnya:

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan mensucikan mereka“ (AQ, S. at-Taubah 103).

 


 

Soalan 9

Apakah yang di maksudkan dengan ‘dibunuh’ disini?

AJAR ANAK BERSUCI DAN SOLAT

Al-Imam Al-Ghazzali (W505H) berkata:

يجبُ على الآباءِ والأمهاتِ تعليمُ الأولادِ الطهارةَ والصلاةَ

Wajib bagi para bapa dan para ibu mengajar anak-anaknya cara bersuci dan solat.

فيؤمر بها ابنُ سبعٍ ويضربُ بتركِها ابنُ العشرِ

Dia diperintahkan untuk melaksanakannya (solat) ketika berumur 7 tahun dan dia hendaklah dipukul ketika berumur 10 tahun kerana meninggalkannya (solat).

ويُقتل بتركِها البالغُ

Hendaklah dibunuh bagi yang sudah baligh kerana meninggalkannya (solat).

Rujukan:

الخلاصة للإمام الغزّالي ص ١٠٥

Jawapan 9 Thtl

Imam Ghazali suruh bunuh orang baligh yang meninggalkan solat. Ya, itu memang pendapat majoriti ulama’ atau jumhur. Orang dewasa yang mukalaf, jika meninggalkan solat dengan sengaja, djatuhkan hukum bunuh, ada dua kaedah hukum:

  1. Di anggap murtad atau kafir dan di jatuhkan bunuh jika thabit, (mazhab hanbali, ibn hazm)
  2. Di anggap muslim, cuma dikenakan hukuman hudud bunuh, jika thabit kesalahannya (syafi’iyah)

 


Generated by  IJG JPEG Library

Soalan 10

Boleh ke kita sebagai perempuan baca al-quran dalam keadaan tidak memakai tudung?

Jawapan 10 Thtl

Membaca al-quran tanpa pakai tudung. Fatwa saudi arabia, tak ada dalil yg mewajibkan bertudung utk membaca al-quran.

 


 

Soalan 11

Anak tidak sah taraf:

  1. Tinggal berasingan dgn ibu, taraf si anak dengan adik beradik dan parent ibu mcm mana?
  2. Tinggal bersama ibu dan disusukan. Taraf si anak dengan anak2 ibu dan suami ibu macam mana pula?

Jawapan 11 Thtl

Anak tidak sah taraf.

  1. Tinggal berasingan dgn ibu. Jika tak sah taraf, anak luar nikah, maka statusnya adalah bukan mahram, baik duduk sekali atau berasingan.
  2. Jika duduk bersama si ibu dan si ibu menyusukannya. Ia jadi anak angkat bertaraf anak susuan. Ia mahram kepada adik beradik dan ayah.

 


 

Soalan 12

Jika ambil anak angkat yang masih bayi dan belum mempunyai nama. Apabila diberi nama pada siapa yang perlu nama itu di bin/binti kan ?

Jawapan 12 Thtl

Nasab anak angkat, ia dinasabkan kepada ayah biologinya jika dapat dikesan. Dalilnya:

“Panggilah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah ” AQ 33:05

 


 

Soalan 13

Betulkah kalau kita tengok lakonan atau dengar nyanyian dari artis yang telah meninggal dunia, artis itu akan merasa tersiksa di dalam kubur dan dosanya makin bertambah kerana melekakan orang?

Jawapan 13 Thtl

Artis tersiksa dengan lakunan dan nyanyiannya. Ya, dalilnya:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” HR Muslim

 


 

Soalan 14

Kurang jelas dengan huraian ini sheikh, walaupun basah masih tidak perlu sertu ya sheikh?

Jawapan 14 Thtl

Menyentuh anjing yg basah. Tidak perlu sertu (basuh 7X), kerana dalil sertu adalah jilatan anjing liar atau wild dogs. Dalilnya:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم((طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات, أولاهن بالتراب)) صحيح أخرجه مسلم

Terj:

Dari Abu Hurairoh ra berkata, Rasulullah saw bersabda “Sucinya wadah salah seorang di antara kalian apabila anjing menjilat di dalamnya adalah dengan mencucinya 7X, yang pertama kalinya dengan debu [HR Muslim]

* Maka tidak ada keterangan utk badan anjing

 


 

Soalan 15

Abang ipar telah berkahwin dua tanpa pengetahuan isteri pertama dan sudah mempunyai anak hasil perkahwinan tersebut. Apa yg kami perlu buat? Perlukah kami memaklumkan perkara tersebut kepada isteri pertama beliau? Bukan bertujuan meruntuhkan rumah tangga beliau tapi bimbangkan perihal nasab keturunan, harta pusaka, dan sebagainya bagi pihak waris tersebut.

Jawapan 15 Thtl

Abang ipar kawin dua. Tidak perlu menceritakan kepada kakak jika mudharatnya lebih besar dan rumahtangga mereka akan porak peranda berdasarkan kaedah fiqh. Mudharat dihindarkan. Jika ada keperluan hukum seperti pesaka, maka ketika itu anda yang ada rahsia perlu menceritakan. Cerita bila masa memerlukan.

Namun, ikut adat, rahsia itu akan pecah juga satu hari nanti, maka biarlah ia pecah dengan natural.

 


vape-devices-c

Soalan 16

Adakah hukum menghisap vape tu berdosa, sheikh?

Jawapan 16 Thtl

Hukum vape. Hukum yang adil ialah makruh. Makruh maksudnya dibenci syarak kerana ia tidak berfaedah dan membazir wang. Melakukan amalan tidak ada faedah dan menghabiskan wang pada jalan sia-sia adala sifat membazir. Membazir dan amalan sia-sia atau lagha adalah membawa kepada makruh.

Jika diharamkan oleh majlis fatwa, maka ia menjadi haram. Melakukan amalan makruh tidak berdosa.

 

Popular

Iklan

Iklan