Utama Bilik (08) Riyadhus Solihin Hadis 50: Sabarnya Umar Disebalik Ketegasannya

Hadis 50: Sabarnya Umar Disebalik Ketegasannya

556
0

Salam
Hadith ke-50

 50- وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال‏:‏ قدم عيينة بن حصن فنزل على ابن أخيه الحر بن قيس، وكان من النفر الذين يدنيهم عمر رضي الله عنه، وكان القراء أصحاب مجلس عمر رضي الله عنه ومشاورته كهولاً كانوا أو شباناً، فقال عيينة لابن أخيه ‏:‏ يا ابن أخي لك وجه عند هذا الأمير فاستأذن لي عليه، فاستأذن فأذن عمر‏.‏ فلما دخل قال‏:‏ هِىَ يا ابن الخطاب، فوالله ما تعطينا الجزل ولا تحكم فينا بالعدل، فغضب عمر رضي الله عنه حتى همّ أن يوقع به، فقال له الحر‏:‏ يا أمير المؤمنين إن الله تعالى قال لنبيه صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏{‏خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين‏}‏ ‏(‏‏(‏الأعراف ‏:‏198‏)‏‏)‏‏.‏ وإن هذا من الجاهلين، والله ما جاوزها عمر حين تلاها، وكان وقافاً عند كتاب الله تعالى‏.‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏


50. Dari ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, katanya: ‘Uyainah bin Hishn datang – di Madinah, kemudian turun – sebagai tamu – pada anak saudaranya – sepupunya – iaitu Alhur bin Qais. Alhur ‘Adalah salah seorang dari sekian banyak orang-orang yang didekat-kan oleh Umar r.a. – yakni dianggap sebagai orang dekat dan sering diajak bermusyawarah, kerana para ahli baca al-Quran – yang pandai maknanya – adalah menjadi sahabat-sahabat yang menetap di majlis Umar r.a. serta orang-orang yang diajak bermusyawarah olehnya, baik orang-orang tua mahupun yang masih muda-muda usianya.

‘Uyainah berkata kepada sepupunya: “Hai anak saudaraku engkau mempunyai wajah – banyak diperhatikan – di sisi Amirul mu’minin ini. Cubalah meminta izin padanya supaya aku dapat menemuinya. Saudaranya itu memintakan izin untuk ‘Uyainah lalu Umar pun mengizinkannya. Setelah ‘Uyainah masuk, lalu ia berkata: “Hati-hatilah, hai putera Alkhaththab – iaitu Umar, demi Allah, tuan tidak memberikan banyak pemberian – kelapangan hidup – pada kita dan tidak pula tuan memerintah di kalangan kita dengan keadilan.” Umar r.a. marah sehingga hampir-hampir saja akan menjatuhkan hukuman padanya. Alhur kemudian berkata: “Ya Amirul mu’minin, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman kepada NabiNya s.a.w. – yang ertinya:

“Berilah maaf, perintahlah kebaikan dan berpalinglah – jangan menghiraukan – pada orang-orang yang bodoh.”

Dan ini – yakni ‘Uyainah – adalah termasuk golongan orang-orang yang bodoh.

Demi Allah, Umar tidak pernah melaluinya – melanggarnya – di waktu Alhur membacakan itu. Umar adalah seorang yang banyak berhentinya – amat mematuhi – di sisi Kitabullah Ta’ala. (Riwayat Bukhari)

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar:

وَمَعْنَى ” مَا جَاوَزَهَا ” مَا عَمِلَ بِغَيْرِ مَا دَلَّتْ عَلَيْهِ بَلْ عَمِلَ بِمُقْتَضَاهَا وَلِذَلِكَ قَالَ ” وَكَانَ وَقَّافًا عِنْد كِتَاب اللَّه ” أَيْ يَعْمَل بِمَا فِيهِ وَلَا يَتَجَاوَزهُ

“Makna: ‘tidak melangkahi ayat itu’ adalah tidak mengamalkan selain apa yang ditunjukkan ayat itu bahkan mengamalkan konsekuensi dari ayat itu. Karena itu berkata Ibnu Abbas,  ‘dan ia adalah seorang yang selalu berhenti pada kitabullah. ‘ yaitu selalu mengamalkan apa yang ada di dalam kitabullah dan tidak melewatinya. ” (Fathulbari juz 20 hal. 337 Maktabah Syamilah)

Itulah sedikit gambaran tentang keagungan sosok sahabat Nabi yang mulia, Umar bin Khathab رضي الله عنه. Dalam atsar di atas Umar mengajarkan kepada setiap pemimpin tentang sabar dan tunduk terhadap kebenaran.

Umar رضي الله عنه mengajarkan kepada setiap penguasa untuk bersabar menghadapi rakyatnya yang mungkin saja karena ketidaktahuan atau ketidakmautahuan mereka, mengkritik tanpa pertimbangan logis, “asal bunyi”, ringan mengumpat dan perilaku lainnya yang menyakitkan.

Dan kesabaran Umar nampak dari beberapa sisi

1. Ketika Uyainah mengucapkan “heh”, padahal kata ini digunakan untuk menghardik dan membentak.

2. Ketika Uyainah memanggilnya dengan Ibnul Khathab. Ini tentu tidak sopan. Sebab, ia sedang berbicara dengan seorang pemimpin umat dan negara, sedangkan orang-orang di zamannya termasuk para sahabat Nabi saja memanggilnya dengan Amirul mukminin.

3. Ketika Uyainah menyifati Umar sebagai seorang yang pelik dan tidak berbuat adil. Tentu saja itu mustahil berdasarkan fakta yang ada.

Sebab, fakta mencatat bagaimana Umar menorehkan tinta emas tentang keadilan dan kezuhudan dalam sejarah umat ini yang tak tertandingi oleh siapapun setelahnya.

Selain itu Umar juga mengajarkan kepada setiap pemimpin untuk siap menerima nasehat atau kritikan yang sampai kepadanya, jika memang itu adalah kebenaran.

Hendaknya ia tunduk pada kebenaran, tidak memalingkan muka serta tidak pula menutup telinga darinya, meskipun itu bertentangan dengan kemauan dan kehendaknya, betapapun beratnya.

Hal itu ditunjukkan Umar tatkala pendampingnya, yang juga seorang ulama mengingatkannya dengan ayat Allah, maka ia pun tunduk pada kebenaran yang disampaikannya dan mengenyampingkan emosi yang telah meluap di dadanya.

Sosok yang pantang untuk direndahkan oleh siapapun baik sebelum maupun setelah masuk islam ini, ternyata rela untuk ‘terhina’ dihadapan kebenaran.

Komen dan Soalan