Utama Bilik (08) Riyadhus Solihin ‘Bersederhana’ Dalam Beribadah: Hadith 144 Dan 145

‘Bersederhana’ Dalam Beribadah: Hadith 144 Dan 145

467
0

Panel: Cikgu Rahim

144. Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Binasalah orang-orang yang memperdalam-dalamkan.” Beliau s.a.w. menyabdakan ini sampai tiga kali banyaknya.” (Riwayat Muslim)

Almutanathtbi’un yaitu orang-orang yang memperdalam-dalamkan serta memperkeraskan sesuatu yang bukan pada tempatnya.

«144» وعن ابن مسعود رضي الله عنه: أنّ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: ((هَلَكَ المُتَنَطِّعُونَ)). قالها ثَلاثًا. رواه مسلم.
((المُتَنَطِّعونَ)): المتعمقون المتشددون في غير موضِعِ التشديدِ.
المتنطَّع: المتكلَّف في العبادة بما يشق فعله ولا يلزمه، والخائضُ فيما لا يعنيه وفيما لا يبلغه عقله.

145. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: “Agama itu mudah, tidaklah agama itu diperkeraskan oleh seseorang melainkan agama itu akan mengalahkannya – yakni orang yang memperkeras-keraskan itu sendiri yang nantinya akan merasa tidak kuat meneruskannya. Maka dari itu, bersikap luruslah engkau semua, lakukanlah yang sederhanasaja-jikalau tidak kuasa melakukan yang sesempurna-sempurnanya, bergembiralah – untuk memperoleh pahala, sekalipun sedikit, juga mohonlah pertolongan dalam melakukan sesuatu amalan itu, baikdi waktu pergi pagi-pagi, sore-sore ataupun sebagian waktu malam.” (Riwayat Bukhari)

Dalam riwayat Imam Bukhari lainnya disebutkan: “Berlaku  luruslah,  lakukanlah  yang  sederhana,  pergilah  di waktu pagi, juga di waktu sore serta sebagian di waktu malam.

Berbuatlah sederhana,tentu engkau semua akan sampai pula – pada tujuannya.”

Addin itu dirafa’kan karena merupakan maf’ulnya fi’il yang tidak disebutkan fa’ilnya. Ada pula yang mengatakan bahwa itu harus dinashabkan.

Ada yang meriwayatkan dengan lafaz Lan yusyaddad dina ahadun, artinya tidak seorangpun yang hendak memperkeraskan agama tersebut.

Sabda Rasulullah s.a.w. Illa ghalalabahu, artinya melainkan agama itu mengalahkannya, yakni bahwa agama tadi mengalahkan orang itu dan dengan sendirinya orang yang memperkeras-keraskan sendiri itu akhirnya akan lemah untuk menghadapi agama tersebut, sebab banyak jalan yang perlu ditempuhnya.

Ghadwah ialah bepergian pada pagi hari danRawhah pada sore hari, sedang Adduljah ialah pada akhir malam. Ini semua adalah sebagai kata kiasan atau perumpamaan. Maksudnya ialah: Hendaklah engkau semua memohonkan pertolongan untuk melakukan ketaatan kepada Allah ‘Azzawajalla itu dengan melakukan berbagai amalan di waktu engkau semua dalam keadaan bersemangat, serta hati dalam keadaan  lapang, sehingga dengan demikian engkau semua akan merasa lezat melakukan ibadah tadi dan tidak akan merasa bosan, juga dengan itu apa yang dimaksudkan sudah pula tercapai. Ini adalah sebagaimana seseorang yang pandai bepergian, ia tentu  berangkat dalam  keadaan  semacam di atas  itu  dan ia beristirahat, baik dirinya maupun kendaraannya dalam waktu sudah lelah ataupun hati kurang enak. Dengan demikian dapat pula ia mencapai tujuannya tanpa kelelahan samasekali. Wallahu a’lam.

«145» عن أَبي هريرةَ رضي الله عنه عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((إنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنُ إلا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ)). رواه البخاري.
وفي رواية لَهُ: ((سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَاغْدُوا وَرُوحُوا، وَشَيءٌ مِنَ الدُّلْجَةِ، القَصْدَ القَصْدَ تَبْلُغُوا)).
قوله: ((الدِّينُ)): هُوَ مرفوع عَلَى مَا لَمْ يسم فاعله. وروي منصوبًا وروي ((لن يشادَّ الدينَ أحدٌ)). وقوله صلى الله عليه وسلم: ((إلا غَلَبَهُ)): أي غَلَبَهُ الدِّينُ وَعَجَزَ ذلِكَ المُشَادُّ عَنْ مُقَاوَمَةِ الدِّينِ لِكَثْرَةِ طُرُقِهِ. وَ((الغَدْوَةُ)): سير أولِ النهارِ. وَ((الرَّوْحَةُ)): آخِرُ النهارِ. وَ((الدُّلْجَةُ)): آخِرُ اللَّيلِ.
وهذا استعارة وتمثيل، ومعناه: اسْتَعِينُوا عَلَى طَاعَةِ اللهِ عز وجل بِالأَعْمَالِ في وَقْتِ نَشَاطِكُمْ وَفَرَاغِ قُلُوبِكُمْ بِحَيثُ تَسْتَلِذُّونَ العِبَادَةَ ولا تَسْأَمُونَ وتبلُغُونَ مَقْصُودَكُمْ، كَمَا أنَّ المُسَافِرَ الحَاذِقَ يَسيرُ في هذِهِ الأوْقَاتِ ويستريح هُوَ وَدَابَّتُهُ في غَيرِهَا فَيَصِلُ المَقْصُودَ بِغَيْرِ تَعَب، واللهُ أعلم.
معنى الحديث: لا يتعمق أحد في الأعمال الدينية، ويترك الرفق إلا عجز وانقطع عن عمله كله أو بعضه، فتوسطوا من غير إفراط، ولا تفريط، وقاربوا إن لم تستطيعوا العمل بالأكمل، فاعملوا ما يقرب منه، وأبشروا بالثواب على العمل الدائم وإنْ قل، واستعينوا على تحصيل العبادات بفراغكم ونشاطكم، قال الله تعالى: {فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ * وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ} [الشرح: 7، 8].

Komen dan Soalan